The Empire Strikes Back: Serangan Balik Kaum Moderat

Oleh : Luthfi Assyaukanie

Apa yang tersisa setelah Pilkada DKI selesai dan Ahok dipenjara? Jika Anda mengamati situasi sosial-politik kita akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berubah. Pelan tapi pasti, pemerintah dan masyarakat (kaum moderat khususnya) mulai melancarkan "serangan balik" kepada kelompok-kelompok yang selama ini bikin gemuruh.

Lewat polisi dan aparat keamanan (dan hukum), pemerintah melancarkan operasi penangkapan kepada orang-orang yang selama Pilkada DKI dan hari-hari sebelumnya kerap menebar kebencian dan fitnah. Rizieq Shihab adalah salah satu dan pentolan paling penting yang menjadi target operasi ini. Gebrakan yang dilakukan pemerintah ini cukup ampuh dalam merontokkan kekuatan pendukung Rizieq yang selama Pilkada DKI tampak sangat solid.

Dengan tuduhan yang berlipat-lipat, terutama isu mesum, para pengikut dan simpatisan Rizieq berangsur-angsur surut. Terbukti pada aksi demo 9 Juni (96) lalu, hanya diikuti oleh segelintir orang. Ada yang menyebutkan jumlahnya tak sampai 200 orang. Salah satu sebab gagalnya demo itu karena pengurus mesjid Istiqlal secara tegas melarang para pendemo menggunakan mesjid Istiqlal, yang pada masa Pilkada DKI selalu dijadikan basis aksi-aksi demo Pro-Rizieq.

Aparat kepolisian juga semakin tegas menindak para penyebar fitnah dan hoax di internet. Satu per satu, mereka diciduk dan diproses secara hukum. Tidak seperti sebelumnya, para pengguna sosial media pro-Rizieq (atau pro Anies Baswedan) mulai mengendurkan tensi dan berpikir ulang jika ingin menuliskan status-status yang dapat mengantarkan mereka ke jeruji penjara.

Presiden Jokowi juga tampak semakin percaya diri. Setelah rencananya membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) didukung oleh banyak orang, khususnya NU (Nahdlatul Ulama) dan kaum Muslim moderat, dia berencana melakukan hal yang sama pada organisasi-organisasi radikal lainnya yang selama ini dianggap meresahkan masyarakat.

Selama bulan puasa, Jokowi melakukan safari ke berbagai pesantren dan sowan kepada kiai-kiai NU. Jokowi tampaknya mulai menyadari bahwa untuk melawan kelompok-kelompok ekstrim seperti FPI dan HTI, tidak ada cara lain kecuali merangkul kelompok-kelompok moderat, NU khususnya.

Di tingkat masyarakat, saya memperhatikan tumbuhnya kelompok-kelompok dan individu yang semakin berani menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan, terorisme, dan kaum intoleran. Kampanye menjaga mesjid dari infiltrasi kaum intoleran mulai digencarkan. Pemuda-pemuda mesjid mulai dimobilisasi untuk berhati-hati dengan kelompok Wahabi dan Takfiri yang selama ini menggunakan mesjid untuk menghasut dan memecah belah umat Islam.

Pemuda Ansor, underbow NU yang selama ini dikenal sebagai organisasi sangat solid mendukung kebhinnekaan Indonesia semakin aktif menjaga dan merawat keragaman. Mereka akan cepat bereaksi memberikan bantuan jika ada sesuatu yang mengancam. Ketika ada seorang gadis remaja terancam nyawanya karena menulis di dinding FB, Pemuda Ansor bergerak cepat membentenginya.

Di universitas dan perguruan tinggi, para rektor menyerukan perang terhadap kelompok radikal. Mereka membuat pengumuman, melarang organisasi yang merongrong Pancasila dan NKRI. Meski tidak menyebut nama, pengumuman ini jelas ditujukan kepada organisasi semacam HTI. Sikap ini agaknya merupakan respon dari pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi yang menegaskan akan memecat rektor yang tak tegas terhadap organisasi ekstrim di kampus mereka.

Di media sosial, tokoh-tokoh agama moderat semakin aktif memberikan perlawanan dengan menyebarkan tulisan-tulisan serta membuka pengajian live streaming di Facebook dan Youtube. Tidak kurang dari Gus Mus (Mustafa Bisri), KH Agiel Siraj, ketua PBNU, KH Hosen Mohammad, dan Ulil Abshar-Abdalla, membuka pengajian live yang bisa diikuti oleh ribuan orang di jejaring sosial terbesar di muka bumi itu. 

Jika ada hikmah dari Pilkada DKI dan dari dipenjarakannya Ahok, inilah hikmah terbesarnya. Masyarakat Indonesia jadi waspada akan ancaman perpecahan di depan mata mereka. Sebelumnya, tak pernah pemerintah dan kaum moderat sepanik ini dalam menghadapi kaum intoleran. Kendati kelompok-kelompok kritis seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) sudah memperingatkan bahayanya kaum intoleran sejak 15 tahun silam, tak banyak orang yang mau mendengar. Kasus Ahok dan perpecahan selama Pilkada DKI telah membuka mata banyak orang.

Pilkada DKI dan pemenjaraan terhadap Ahok telah membangkitkan imperium yang selama ini tertidur pulas. Imperium kaum moderat Indonesia bukan hanya bangkit dari tidurnya, tapi mereka mulai menyerang balik. Sendi-sendi intoleransi mulai dipatahkan, dengan menangkapi para pemimpinnya dan membubarkan organisasi yang selama ini dinilai membahayakan republik. Para pasukan imperium juga mulai bergerak mengambil alih aset-aset mereka yang selama ini dicuri oleh kaum intoleran: mesjid dan kampus.

Tentu saja, ini baru langkah awal. Kita berharap pasukan imperium terus bergerak, menumpas kekuatan-kekuatan jahat yang dapat menghancurkan republik.

May the force be with you!

Sumber : Qureta

Wednesday, June 14, 2017 - 13:15
Kategori Rubrik: