Empati Pada Penderita Kanker

ilustrasi

Oleh : Fabiola Stella

Kalau dengar cerita relawan2 support group yg mendampingi pasien2 kanker, empat foto ini memang semestinya dipajang di setiap poliklinik, ruang tunggu hemato-onkologi, dan di acara2 para survivor kanker. Sebagai acuan standar relationship-goal yg sesuai peradaban dan nilai2 kemanusiaan universal abad 21, acuan standar utk makhluk (laki-laki) yg evolusi otaknya sudah sempurna.

Tidak ada yg lebih memuakkan selain salah satu jenis sinetron onkologi yg muncul lagi dan lagi, dimana saat istri terdiagnosa dan harus menjalani terapi kanker :

- di depan suami (dan keluarga suami) : bilang "IKHLAS jika suami menikah lagi, karena istri tidak mampu melayani suami dgn optimal".

- di belakang suami : nangis2 ke para relawan pendamping. (Did we hear the word "IKHLAS", eh ??)

Buat para perempuan yg terdiagnosa kanker, anda BERHAK MENUNTUT SELURUH SUMBER DAYA FINANSIAL, FINANSIAL, FINANSIAL, WAKTU DAN TENAGA SUAMI, dialihkan sepenuhnya utk kepentingan pengobatan anda sendiri.

Dengan berani bersikap, bertingkah sinkron mulut dengan hati, anda telah turut membantu menghindarkan seluruh tenaga medis dan relawan dari imbas dilema besar spt 'anda kehabisan biaya berobat', 'suami/keluarga tidak maksimal mengurus anda', dsb, jika suami anda betul2 bertingkah moron dgn nikah lagi dgn istri kedua, dst.

Pasang standar anda sama seperti ibu Ani Yudhoyono. 
Saat terdiagnosa kanker, anda adalah ratu.

Bukan (pura2) ikhlas turun derajat jadi sampah yg boleh dinomorsekiankan atas nama 'tidak bisa melayani suami, jadi suami boleh nikah lagi'.

Sumber : Status Facebook Fabiola Stella

Friday, May 17, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: