Emang Enak Jadi Menteri?

Oleh: Dahono Prasetyonegoro
 

Niat baik kadang tidak selalu berbanding lurus dengan komunikasi yang baik. Begitulah yang dialami Mendikbud yang baru Prof. Dr. Drs Muhajir Effendy, M.AP. Belum genap sebulan dilantik sudah menuai kontroversi dengan ide kebijakan Full Day School. Sebegitu “menakutkannya” ide Full Day School didengar para Netizer tak butuh waktu lama muncul Petisi menolak wacana yang baru sebatas ide tersebut. Reflek penolakan sebagian dari kita nyaris melebihi kecepatan cahaya. Dibumbui gorengan media yang makin meriuhkan bully dan hujatan kepada Menteri baru tersebut. Kita menelan sebuah pernyataan tanpa dikunyah lalu kita muncratkan lagi di depan khalayak sambil memaki tanpa koma.

Full Day School yang dalam bayangan sekilas adalah siswa yang bersekolah dari pagi hingga sore, 6 hari dalam seminggu. Dicekoki pelajaran dan tugas tugas di dunia kecil bernama sekolahan. Siapapun orang tua siswa akan khawatir takut kehilangan kedekatan sosial bersama anaknya. Was was nanti makan siangnya bagaimana. Gak bisa jajan di pinggir jalan. Khawatir kalau nanti ngantuk atau pengen puk gimana . Ibu ibu iba kepada kondisi fisik dan mental siswa. Tidak tega anaknya dijadikan obyek experimen pemerintah. Se-naif itukah Full Day School? Mendikbud yang baru sungguh kejam, sadis. Memenjarakan anak di dalam sekolah tanpa diberi kesempatan bermain di rumah. Salah pilih Menteri, sudah bagus malah diganti.( Jokowi salah lagi)

Tapi sebagai seorang pemimpin (Pimpinan Institusi Pendidikan), Muhajir Effendy sedang diuji. Pemimpin yang masih marah dihujat, ngambek dibully dan membalas ejekan, berarti dia masih bermental amatiran. Meski telinganya memerah, beliau cukup bermental profesional. Full Day School jalan terus. Riset, kajian, perhitungan dan sosialisasi segera dilaksanakan. Maka bersiaplah bimbel gulung tikar, Warnet Game On Line ditinggal langganan, Mall sepi ABG di siang hari dan jalanan sepi tawuran. Merekalah para “pengelola” pelajar di luar sekolah yang akan terkena dampaknya secara ekonomi. Barangkali salah satu diantara mereka adalah pencetus ide Petisi tolak Full Day School, Petisi Copot Mendiknas, menyusul Petisi yang lain siapa saja bebas membuatnya.

Ibarat pepatah : Di dalam jiwa yang sehat terdapat jiwa lain yang tidak sehat. Perubahan itu sakitnya di sini. Kita kebanyakan protes dan mengeluh . Dan inilah kita, hasil “half day school” saat kita sekolah dulu?

NB : Tetangga sebelah nyeletuk : “Kita? Elu aja kaleeee..?”

 

(Sumber: Status Facebook Dahono P)

Thursday, August 11, 2016 - 22:00
Kategori Rubrik: