Emang Anies Peduli EDC TransJakarta?

ilustrasi

Oleh : Jonminofri Nazir

Hampir setiap hari saya naik Transjakarta. Saya menyiapkan tiga kartu pembayaran cashless dari tiga bank berbeda karena saya naik TJ tidak dari halte. E-money untuk S22 (Ciputat-Kampung Rambutan), Flash BCA untuk S21 (Ciputat-Tosari), dan TapCash BNI untuk D41 (Lebak Bulus-Universitas Indonesia Depok).

Sekarang, saya kudu menyiapkan uang tunai pula Rp3.500 di kantung, untuk membayar TJ jika kartu cashless saya ditolak oleh kondektur.

Ini alasan kondektur meminta penumpang membayar dengan uang tunai:
1. Mesin EDC rusak
2. Mesin EDC ada tapi lowbat, dan tidak punya charger (Karena tidak kebagian charger dari pool)
3. Tidak ada mesin EDC (seorang kondektur bercerita hanya 3 orang dari 15 rekannya yang kebagian mesin EDC.
4. Mesin EDC tidak bisa membaca kartu saya.

Semula hanya satu-dua TJ yang meminta cash. Sekarang hanya sedikit saja kondektur menagih ongkos dengan mesin EDC di tangannya.

Apa yang saya simpulkan dari kejadian inj?
1. Manajemen TJ tidak memberikan perhatian besar pada mesin EDC
3. Menajemen TJ membuang-buang waktu mereka untuk menghitung uang cash dari kondektur. Entah berapa tingkat penghitungan ini dilakukan mulai dari kondektur, hingga masuk rekening TJ. Tentu ada beberapa pintu yang dilewati.
4. Manajemen TJ membuka peluang korupsi di TJ.
5. Manajemen TJ tentu keluar cost lagi untuk mencetak karcis manual ini
6. Banyak penumpang akhirnya tidak.membayar ongkos karena kondektur tidak cukup waktu "menggunting" ongkos dari penumpang..
7. Kondektur punya risiko salah hitung uang dan karcis sehingga harus mengganti selisih uang antara karcis dan cash.

Banyak lagi hal lain yang melintas di kepala saya..

Terakhir, sebagai "orang yang banyak curiga", saya membayangkan ada orang kuat di TJ atau Pemda DKI yang "membuat mesin EDC" tidak dipakai. Tujuannya, ya itu, untuk mencuri uang setoran kondektur. Maklum mereka punya uang cash recehan berlimpah yang susah mengontrol atau mencocokkan dengan pasti antara jumlah karcis yang keluar dengan uang cash yang masuk. Bayangkan ini: Ada jutaan lembar karcis per hari yang diberikan oleh kondektur kepada penumpang yang naik di halte pengumpan.

Saat ini teknologi sudah maju. TJ harus menghentikan mengutip uang cash dari penumpang..

Caranya: TJ bersama bank menerbitkan mesin EDC yang bisa membaca semua kartu yang diterbitkan oleh bank. Kedua mesin EDC tersebut menggunakan power dari bus agar tidak pernah "low bat" seperti mesin EDC yang dipakai sekarang.

Jika dua langkah ini diterapkan oleh manajemen TJ, mungkin kecurigaan saya bahwa ada oknum kuat yang ingin mencuri uang TJ bisa hilang.

Ayo, Gubernur Anies, berbuat sesuatulah untuk Transjakarta.

Sumber : Status Facebook Jonminofri Nazir

Tuesday, July 30, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: