by

Elektabilitas Tinggi Mengapa Mesti Curang?

Oleh : Septian Raharjo

Mengamati situasi politik kita akhir-akhir ini, semakin terlihat jelas kalau ada kepanikan yang sangat besar di dalam kubu salah satu paslon. Bisa jadi kepanikan itu datangnya dari penguasa yang gak siap untuk turun dan kehilangan kekuasaan. Makanya cerita dan suara-suara itu terdengar keras di publik.

Contoh sederhana dari kepanikan dan kekhawatiran itu yang pertama yakni, ketika banyaknya arogansi aparat melakukan pencopotan baliho salah satu capres dan cawapres. Pencopotan itu juga dilakukan tidak dengan alasan tepat. Apalagi sebaliknya masih ada baliho capres lain yang masih terlihat dan belum diturunkan.

Hal ini mengindikasikan bahwa ada kecemasan luar biasa, jika capres yang didukung penguasa itu kalah. Kedua soal pengerahan aparatur desa untuk mendukung salah satu capres. Banyak bukti jika aparatur desa yang tergabung dalam APDESI, memang difasilitasi dan dibiayai untuk datang ke GBK, hanya untuk mendukung salah 1 capres.

Jelas ini juga bagian dari memanfaatkan kekuasaan atau abuse of power. Terutama untuk menekan dan memaksa semua pejabat yang ada dibawahnya untuk ikut skenario yang sudah direncanakan. Cara mirip orba ini jelas bertujuan untuk memuluskan kemenangan bagi salah satu capres. Indikasi itu terlihat jelas dihadapan publik.

Seharusnya dengan elektabilitas yang tinggi mencapai angka 40 persen. Kepanikan dan kekhawatiran ini tidak terjadi, jika memang survei itu real dari gambaran situasi dilapangan. Namun sebaliknya jika terlihat banyak sekali drama dan aktivitas kecurangan, justru bisa jadi memang fakta real dilapangan survei capres itu memang rendah.

Apalagi jika nanti hasil dari pilpres berbeda dengan hasil dari lembaga survei. Pasti kredibilitas Lembaga survei itu yang dipertaruhkan. Dan bisa jadi tingkat kepercayaan publik pada lembaga survei itu dan capres yang dimenangkan juga terkena imbas. Presiden sebagai kepala pemerintahan yang juga dicurigai juga pasti akan kena.

Bisa jadi citra yang dibangun selama hampir 10 tahun ini akan jatuh. Pada akhirnya masyarakat akan meninggalkan presiden, karena masyarakat sudah gak percaya segala bentuk kegiatan apapun yang dilakukan pemerintah. Dan jika itu terjadi, Jokowi sebagai presiden akan dikenang sebagai presiden yang memiliki citra buruk.

Sumber : Status Facebook Septian Raharjo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed