Elektabilitas Gibran Ungguli Purnomo Bukti Wong Solo Cerdas

 

Oleh: Gus Tono

Hasil survei tentang elektabilitas sejumlah tokoh, yang dilakukan Soloraya Polling dari Universitas Slamet Riyadi Surakarta mencengangkan. Elektabilitas Gibran Rakabuming Raka naik tajam hingga mengungguli rivalnya, Purnomo. Hasil survei yang dirilis 23 Juni 2020 itu menyebutkan Gibran meraih 55%  sedangkan Achmad Purnomo hanya 36%.

Padahal dua survei sebelumnya oleh lembaga yang sama menunjukkan Purnomo yang lebih unggul. Kendati demikian, grafik elektabilitas Gibran memang selalu naik. Sebaliknya grafik elektabilitas Purnomo menurun. Pada Juni 2019 elektabilitas Gibran hanya 13 %  sedangkan Purnomo 38 %. Satu semester kemudian pada Desember 2019, elektabilitas Gibran mencapai 40% sedangkan Purnomo 46%. Puncaknya Juni 2020, Gibran unggul telak dari Purnomo.

 

Tak hanya Purnomo, Gibran yang namanya muncul dalam survei terkait elektabilitas, akhirnya terus menjadi sorotan. Mereka makin banyak menjadi diburu media dan menjadi pembicaraan masyarakat karena Pilkada sudah dekat. Apalagi ketika keduanya sama-sama mendaftar sebagai bakal calon melalui PDIP, kemudian mengikuti fit and proper test di Jakarta. Hingga sekarang rekomendasi dari DPP PDIP belum turun.

Namun dalam masa tunggu rekomendasi,  kedua sosok ini menunjukkan sikap berbeda. Gibran selalu menyatakan bahwa rekomendasi akan turun pada sosok yang tepat dengan alasan yang juga tepat. Oleh karena itu dia mulai blusukan ke sudut-sudut kampung di Solo, untuk bersilaturahmi langsung dengan masyarakat sambil menyerap aspirasi. Saat pandemi, susah untuk dihitung bantuan yang mengalir kepada masyarakat karena saking banyaknya. Baik berupa masker, penyemprotan disinfektan, APD hingga sembako.

Sedangkan Pak Pur dalam pernyataan yang banyak dikutip media, menyatakan maklum kalau rekomendasi bakal turun kepada Gibran karena dia anak Presiden. Ini lucu. Pernyataan yang sungguh negatif, jauh dari sikap yang seharusnya ditunjukkan seorang pejabat. Ini juga pernyataan yang menunjukkan pesimisme dan su’uzon. Apa iya DPP senaif itu? Menentukan rekomendasi karena alasan yang tidak substantif?

Yang lebih lucu lagi, pak Pur sempat menyatakan mundur datri pencalonan. Alasannya sangat simpatik: karena tidak tega dengan adanya wabah Corona. Seolah-olah dia mau bekerja keras membantu warga yang terdampak virus Corona. Tapi ternyata tidak tampak dia melakukan sesuatu yang signifikan, kecuali hanya tugas structural rutin selaku wakil walikota saat ini. Yang lebih lucu lagi, dia diam saja dan menyatakan maju lagi, didukung DPC PDIP. Ini merupakan sebuah inkonsistensi yang fatal.

Maka ketika elektabilitas Gibran naik, ya jangan heran. Ini adalah bukti msayarakat Solo makin cerdas. Mereka bisa melihat siapa yang telah dan siap bekerja keras untuk masyarakat Solo. Walaupun Gibran belum lama menunjukkan minat ke dunia politik dan masuk PDIP, tidak ada pengaruhnya. Buktinya elektabilitasnya terus naik.

Jangan lupa, Pak Pur juga baru masuk menjadi anggota PDIP menjelang pencalonan sebagai Calon Walikota 2015. Jauh sebelumnya pada 2005 dia pernah maju sebagai Calon Walikota Solo dari Partai Amanat Nasional (PAN) berpasangan dengan dr Istar Yuliadi, namun kalah. Waktu itu Presiden Jokowi berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo yang menang. Sedangkan Purnomo-Istar harus menelan kekalahan. 

Jadi, menurut Anda siapa lebih layak menerima rekomendasi DPP PDIP? 
Akan ke manakah rekomendasi berlabuh? 
Kepada Gibran atau Pak Pur?

 
Thursday, June 25, 2020 - 22:00
Kategori Rubrik: