Eks Aktivis Kampus UI yang Mutilasi Orang

ilustrasi
Oleh : Desrinda Syahfarin
 
Dia lahir di bulan Desember. Saya lahir di bulan Desember.
Dia masuk FMIPA UI, Agustus 2012. Saya masuk FMIPA UI, Agustus 1992, lalu masuk FTUI, Agustus 1993.
Dia lulus S1, Juli 2018. Saya lulus S1, Desember 1998.
Dia aktivis kampus. Saya aktivis kampus.
Dia suka menulis, punya blog. Saya suka menulis, punya blog.
Rasanya hidup kami paralel. Ruang yang sama. Hanya waktunya yang berbeda.
Tapi menjelang ulang tahunnya yang ke-27, dia (yang diingat teman-teman kuliahnya sebagai gadis yang kritis dan pintar) malah terpenjara karena menghilangkan nyawa orang lain demi uang yang "hanya" Rp97 juta.
Sementara saya waktu seumur dia sedang menikmati masanya mulai jadi manager di tempat saya bekerja, baru putus cinta (lagi) jadi justru menikmati enaknya bebas menebar pesona.
Dia menulis "Ada orang yang tak memiliki apapun untuk ditawarkan. Tak mencintai diri sendiri dan berharap orang lain mencintai. Ada orang yang setiap paginya masuk ke berbagai social media untuk mencari cinta. Kita terpenjara karena konsumsi cinta yang dipertontonkan dalam tayangan televisi."
Saya beruntung punya teman-teman yang baik, yang selalu mendukung dan menyakinkan saya bahwa paling penting mencintai diri sendiri ketimbang merasa tak memiliki apa pun untuk ditawarkan sehingga diripun terjual murah.
(much love and thanks for Rilly and Oka
Yang saya baca di kisah hidupnya: Things started going bad when she disconnected from family and friends since 1.5 years ago.
I've been in such situation too, karena keluarga dan teman-teman selalu yang paling nyinyir terhadap apa pun yang saya katakan atau lakukan. Mereka selalu menyalahkan, menyebalkan, tapi mereka adalah cermin yang paling jujur bukan menampilkan image palsu semacam hasil selfie dengan hp Oppo ditambah editan aplikasi Beauty Plus.
Mereka tunjukkan segala kekurangan saya, di saat yang lain bergunjing di belakang saya sembari berharap saya melakukan kesalahan lagi supaya para pengghibah itu punya bahan cerita baru. But I stay connected.
Jadi, kisah hidup Laeli awalnya mirip dengan saya, tapi ending pasti beda karena satu hal saja: I stay connected.
Moral of the story: Dont disconnect.
 
Sumber : Status Facebook Desrinda Syahfarin
Monday, September 21, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: