Ekonomi Berbagi ditengah Pandemi

ilustrasi

Oleh : Dati Fatimah

Di dalam masyarakat Jawa, ada ungkapan 'sethithik edhang' (versi Jawa ngapak) atau 'sithik edhing' (versi Mataraman). Secara sederhana, mungkin bisa diartikan sebagai berbagi biarpun sedikit. Saya ingat dulu pas masih kecil. Kalau pas ada among-among: menu nya adalah kluban (urap) dengan telur rebus dibagi delapan. Kecil-kecil banget, dan dimakan paling akhir karena terasa mewah. Teman saya pernah berseloroh, sepertinya di dalam perut ayam ada pisau siletnya 

Tradisi berbagi biarpun sedikit juga ditemukan, bahkan ketika menghadapi krisis. Ketika menghadapi pandemi. Seorang teman saya menuturkan keharuannya, karena ketika ia menyisihkan sedikit rezeki nya untuk tetangganya, seorang perempuan lansia yang hidup sebatang kara, keesokan harinya, ia mendapat kiriman peyek kacang yang dibuat sendiri oleh simbah tersebut.

Ketika bareng-bareng mengelola donasi masker pada awal masa pandemi, teman penjahit yang tergabung dalam donasi awalnya tidak mau mendapatkan sedikit ganti transport. Biarpun sedikit, begitulah ia ingin berbagi, bahkan walaupun hidupnya mungkin hanya level cukup memenuhi kebutuhan dasar dalam jangka pendek.

Beberapa hari lalu, teman saya mengupload foto berbagi di lingkungannya. Canthelan berisi shodaqoh untuk mereka yang membutuhkan. Isinya itu yang membuat haru: kerupuk, tempe, paket sayur untuk memasak sop, tahu, telor beberapa biji. Kalau bisanya hanya berbagi kerupuk, juga tak apa. Yang berbagi tidak perlu merasa lebih besar atau jumawa karena donasi menjadi anonim, sementara yang membutuhkan juga bisa mengambil tanpa perlu merasa direndahkan.

Tapi nalar ekonomi berbagi yang menghidup orang-orang di level terbawah, mungkin tidak sinkron dengan nalar ekonomi formal dan kebijakan ekonomi di masa pandemi. Mungkin ini hanya dugaan saya, yang sangat mungkin salah. Setidaknya beberapa fragmen yang terlintas sehingga kesimpulan tersebut lewat di benak saya: berbagai paradoks membuat kita bertanya-tanya, ke arah mana ruang hidup bersama khususnya ekonomi akan diurus hari ini dan masa depan?

Bagaimana ruang hidup banyak orang yang diminta berdamai dengan virus dan usia 45 tahun ke bawah diminta kembali beraktivitas, ketika iur BPJS justru dinaikkan? Saya juga kesulitan memahami nalar PSBB yang dilonggarkan demi untuk menekan PHK, ketika yang pertama dilakukan adalah pelonggaran sarana dan infrastruktur transportasi antar kota seperti pesawat dan kereta api (yang justru berpotensi mempercepat transmisi lokal antar kota/ daerah), alih-alih mengawal protokol kesehatan di ruang ekonomi yang menjadi tumpuan banyak orang kecil seperti pasar atau transportasi logistik.

Bagaimana memahami nalar membangun ketahanan pangan (sekaligus kemiskinan), ketika yang dilakukan adalah pembukaan lahan baru dari pembukaan areal hutan seluas 500 ribu hektar oleh pelaku ekonomi besar (termasuk korporasi negara alias BUMN), alih2 mengintensifkan strategi adaptasi dan bertahan di level rumah tangga atau petani skala kecil. Atau yang terbaru, revisi UU Minerba yang justru berpotensi melegitimasi pengerukan sumber daya alam pertambangan dengan birokrasi dan prosedur yang lebih longgar.

Atau mungkin justru cara berpikirnya yang perlu diubah: berbagai inisiatif berbagi di tingkat terbawah, bisa jadi dilakukan sejak awal, sebagai bentuk ketidakpercayaan pada negara? Sebagai ekspresi keraguan karena negara tidak akan hadir pada masa krisis seperti masa pandemi sekarang ini? Memang hal ini bukan hal baru, karena dalam krisis seperti berbagai bencana yang terjadi sebelum pandemi, sayangnya memang bukan negara yang hadir pertama sebagai penyelamat. Justru penyelamat pertama adalah jejaring informal seperti paseduluran dan pertemanan, organisasi keagamaan dan sosial, dan jejaring informal lainnya. Negara, seperti inspektur vijay di film India, sering datang terlambat justru ketika sungguh dibutuhkan.

Tapi kalau boleh menawar, bolehkah inisiatif-inisiatif warga ini tidak diganggu dengan kebijakan yang membuat daftar embuh menjadi semakin panjang? Supaya banyak warga bisa bertahan hidup dengan terus berbagi, dan menata nafas supaya tidak makin pendek dan makin terengah-engah di tengah pandemi?

Sumber : Status Facebook Dati Fatimah

Friday, May 15, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: