Ejakulasi Dini Para Pecundang

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Apa lagi sih tujuan aksi 212. Sekedar reuni..? Hallah pret..... 
Meski terdengar dipaksakan, masih bisa dimaklumi jika aksi yg berjilid2 itu dilakukan saat kasus Ahok belum tuntas. Sekarang Ahok sudah menjalakan hukumannya. Apalagi yg kurang? 
Jika protes tentang ulama2 dan tokoh2 mereka yg terkena kasus, toh mereka juga diberi porsi yg sama seperti Ahok. Mengikuti proses hukum, pengadilan dan jika terbukti bersalah ya terimalah konsekuensinya

Melakukan aksi untuk membela bibieb yg kabur juga seperti menangkap kentut dipantat, cuma dapat baunya doang tapi fisiknya lolos. Karena bukan baru kali ini saja bibieb tersandung kasus hukum. Sudah 2 kali dia merasakan dinginnya lantai penjara. Terus kenapa sekarang menghindar dari proses hukum?
Para dayang2nya juga kompak berusaha agar kasus ini dihentikan. Apa karena kasusnya terlalu rendah untuk seorang yg dibaiat sebagai imam besar?

Padahal jika tidak bersalah, point plus akan mereka raih. Tapi sepertinya itu mustahil. Jika imam besarpun terbukti melakukan kesalahan, sulit untuk membangkitkan lagi militansi pengikutnya, jadi mumpung sang imam tidak hadir, ada politisi busuk yg ngebet berkuasa, memanfaatkan militansi pengikut bibieb. Dan tujuannya apalgi kalau bukan politik kekuasaan.

Dari situ sebenarnya sudah terlihat, bahwa aksi2 ini bukan tentang umat, agama atau ulama tapi murni aksi politik. Toh disetiap aksinya selalu ada dukungan dari politisi oportunis dan jendral pecatan yg agamanya masih diragukan keshalehannya. Dan disetiap aksi, pasti terlontar ungkapan tidak puas dengan Pemerintahan Jokowi. Fitnahpun ditebar oleh orang2 yg mengklaim paling shaleh sedunia. Padahal jika diperhatikan, Presiden ini selalu dekat dengan ulama perekat bangsa, dan senantiasa membuka pintu istana untuk kegiatan keagamaan.

Aksi2 mereka lebih layak jika disebut mencuri start kampanye. Meski tidak spesifik tapi tujuannya jelas, ingin menjadikan seorang duduk ditampuk kekuasaan pemerintahan. Jika saat aksi 2 Desember 2016 ada agenda menjatuhkan Jokowi sebagai Presiden maka aksi2 selanjutnya adalah mempropagandakan bahwa Jokowi tidak layak untuk dipilih jembali pada pilpres 2019.

Kampanye merekapun penuh fitnah dan tuduhan tidak mendasar terhadap Jokowi, baik pribadi maupun sebagai Kepala Negara. Mereka melakukan propaganda dan black campaign. Semua tentang Jokowi buruk, semua tindakan Jokowi salah. Padahal jika mau membuka mata lebar2, baru di era Jokowi lah daerah2 diluar Jawa memiliki kesempatan pembangunan yg merata.

Semua propaganda dilakukan oleh karena tindakkan Jokowi merugikan mereka yg terbiasa menjarah kekayaan negeri. Mereka sakit hati saat pundi2 emasnya ditutup. Mereka kesal kesempatan untuk menambah isi pundi2 itu dihalangi. Padahal selama ini mereka lancar jaya utk menjarah dan merampok negeri. Karena itulah Jokowi harus disingkirkan atau jangan dibiarkan memimpin 2 periode. Bila itu terjadi, jangankan merampok, mengutil saja sudah tidak mungkin.

Jadi mumpung ada orang2 bodoh yg mudah tersulut dan gemar aksi2an, mereka memanfaatkannya utk mencuri start kampanye demi tujuan kekuasaan dan mengembalikan kejayaan mereka dahulu. Biaya bukan masalah, yg penting Jokowi bisa dihentikan sepak terjangnya ditahun 2019. Dan bila itu terjadi, ucapkan sayonara pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Welcome Indonesia jaman old.

Ciut lihat hasil karya Pak Dhe, fitnah jadi andalan. Takut kalah saat bertanding, curi start biar dapat pendamping. Gaya sok gagah, baru denger bunyi retsleting sudah ahhhh....... Basah deh..

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Saturday, December 2, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: