Ehrman Dan Somad

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Jomplang kali judulnya, ya. Yang satu scholar terkenal jebolan Princeton, satunya lagi Ustadz popular Indonesia dengan academic credentials gak jelas.

Begini.

Bart Ehrman meradang sehabis membaca The Da Vinci Code. Bukunya sih bagus—kata doktor perjanjian baru dalam lingkup kajian tekstual dan Yesus sejarah itu, saya sangat menikmatinya hingga halaman terakhir.

Yang bikin Ehrman gusar adalah klaim Dan Brown di kata pengantar bahwa semua data sejarah yang dikemukakan dalam TDVC akurat dan bisa diandalkan untuk jadi rujukan sebenar.

Ehrman bilang Brown ngaco. Dia sampai nulis buku bertajuk Truth and Fiction About The Da Vinci Code untuk mencegah dunia dari kesesatan yang mungkin timbul akibat klaim Dan Brown. Maria Magdalena, sebagai contoh, hanya disebut dua kali dalam Injil Matius, Markus dan Lukas, kata Ehrman. Bagaimana mungkin itu jadi figur penting?

Ehrman sadar bahwa banyak cerita rakyat di Eropa tumbuh dan mekar tentang Maria Magdalena. Tapi semua cerita tersebut tidak punya bukti sejarah. Apa yang tersaji di Injil Filipus juga tidak bisa membuat kita mengklaim Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Tradisi mencium sangat jamak di kawasan Palestina pada masa itu. Pada tingkat terdekat, ciuman bisa didaratkan di bibir. Bukan hanya antara lelaki dan perempuan, tapi juga antara lelaki dengan lelaki.

Bahkan sekeping papyrus, yang tahun lalu heboh dibincang di Harvard University gara-gara menulis ucapan Yesus yang menyebut para murid sebagai “istriku”, belum bisa dijadikan landasan untuk menyimpulkan bahwa Yesus punya istri. https://bit.ly/2YUVUAy

Saya seorang sejarawan, tulis Ehrman, dan karena itu berpegang pada, sedikitnya, bukti pustaka. Kita tidak punya bukti pustaka tentang Yesus dan para murid selain daripada 4 Injil yang dipegang gereja saat ini, dan sekian Injil yang ditemukan sekian puluh tahun belakangan. Dari semua itu, bahkan hingga yang sekelas apokrifa, tak ada tersebut bahwa Yesus menikah. Itu pegangan saya, lanjutnya.

Kalau Anda mengira Ehrman seorang fundamentalis Kristen atau setidaknya Kristen taat yang ke gereja sehingga terkesan ngotot membela doktrin kelajangan Yesus, Anda kejebur ke got. Sekian puluh tahun lalu, sebelum masuk ke seminari, ya, Ehrman seorang fundamentalis. Tahun demi tahun—bersama terbentangnya pustaka yang dilahap—dia bergeser. Mula-mula ke Kristen moderat, lalu Kristen liberal, lalu ke agnostic, dan akhirnya tidak lagi tertarik dengan entitas bernama Tuhan. Tapi dia berkeberatan untuk disebut ateis.

Begitulah sikap seorang scholar. Dia berpegang teguh pada bukti. Mau sebesar apa kek ketertarikan masyarakat terhadap satu dari sekian kemungkinan dalam sebuah enigma, dia bersuara hanya melalui bukti yang ada. Saya tak menolak kemungkinan bahwa Yesus menikah dan memiliki anak dari Maria Magdalena. Tapi yang bisa saya katakan saat ini adalah bahwa kita tak punya bukti ke arah sana, tulis Ehrman tegas.

Bagaimana dengan Somad?

Dia juga tak sepenuhnya keliru dengan apa yang sepekan ini mendadak riuh di jagad maya. Beberapa ayat dalam Alquran memang memampangkan kritik Allah terhadap kekristenan, terutama terhadap doktrin tritunggal.

Mun’im Sirry pernah berupaya melembutkan ayat-ayat kontroversial tersebut, menafsirkannya sebagai bagian dari upaya Alquran berpolemik. Muna Panggabean, dalam tanggapannya, mengingatkan Mun’im bahwa ada bahaya besar terkandung dalam tafsir seperti itu.

Jika ditemukan kontroversi atau kecaman Alkitab terhadap agama lain, kata Muna, kita dengan mudah membelokkannya dengan berkata bahwa Alkitab berpolemik. Alkitab ditulis manusia. Sangat mungkin apa yang tersurat di sana sedikit atau banyak berbeda dengan peristiwa sebenar. Itu alamiah sekali. Injil Markus mengandung teologi Markus. Artinya, pemahaman Markus berikut prapahamnya ikut masuk di sana. Karena itu, kalau gak mau repot, saban ketemu ayat-ayat yang satu sama lain bertentangan, kita bisa bilang Alkitab sedang berpolemik.

Tidak demikian dengan Alquran. Seluruh isinya, di luar hadits, diimani umat Islam sebagai sabda Allah langsung melalui malaikat Jibril. Mengatakan Alquran berpolemik sama saja dengan menyatakan bahwa Allah yang berpolemik. Itu berbahaya karena malah berpotensi memantik kegaduhan, lanjut Muna.

Jadi, mau gimana? Ayat-ayat rujukan Somad memang bertebaran di dalam Alquran. Bunyinya nyata sebagai kecaman terhadap iman dan doktrin kekristenan. Mun’im Sirry boleh saja menafsirkannya secara berbeda. Tapi itu tak menghilangkan hak seorang Abdul Somad memiliki pemahaman lain.

Yesus sendiri, menurut Alquran, menyangkal doktrin Trinitas, menolak bahwa dirinya dan Allah adalah satu. Sekali lagi mari kita ingat, buat Somad dan umat Islam, Alquran adalah sabda Allah. Jadi, wajar kalau Somad menuding umat Kristen sebagai kaum yang menutup diri terhadap kebenaran Islam—dengan kata lain: kafir.

Trus, apa sikap orang Kristen terhadap ejekan Somad?

Gak ada trus-trus-trus. Kita terima saja sambil menolak. Artinya, jangan kita pangkas hak Abdul Somad menyatakan apa yang dia anggap benar. Apalagi dia punya landasan kokoh yang diimani segenap hati. Anda mau larang Somad menyatakan keyakinannya?

Sialnya, kita gak punya bahan atau landasan untuk membalas. Gak satu ayat dalam Matius, Markus, Lukas, Yahya, menyebut Yesus pernah mengecam kepercayaan orang lain. Paling banter Yesus cuma bilang begini: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Itu doang. Dia gak nyalahin Mamon atau dewa-dewa lain. Lebih sinting lagi Yesus bahkan berkata dalam Lukas 16: 9, “Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Yesus tidak mengajarkan kita untuk mengkafir-kafirkan orang lain. Dia sering bersuara keras tapi itu untuk mengecam kemunafikan orang Farisi, Sanhedrin, Saduki, dan lain-lain. Dia tidak mengecam hakekat ajaran mereka melainkan motif di baliknya.

Apa boleh buat. Kita harus hormati hak para Muslim untuk mengumandangkan kebenaran yang mereka percayai meski itu terasa menyakitkan buat kita. Tapi, percayalah, kita hanya sakit hati kalau kita membiarkan hati kita menderita karenanya. Beda hasil kalau kita terima ucapan Somad dan para ustadz lain sebagai sesuatu yang wajar.

Saya tidak berharap Abdul Somad berubah. Sepanjang ia tetap meyakini apa yang dianggap benar, saya dorong dia mempertahankan sikap to the max. Orang Kristen tidak perlu baper. Somad hanya menjalankan apa yang diperintahkan Allah melalui Alquran. Tak perlu pulak kita tuntut Somad minta maaf. Emangnya Anda menganggap Alquran keliru?

Sementara saya dan orang-orang Kristen tetap berupaya teguh untuk mempertahankan hidup-bersahabat dengan semua pemeluk agama dan ateis, sambil sekaligus menghormati keyakinan dan ketidakyakinan mereka.

Kasihilah musuhmu. Itu perintah, bukan imbauan, bukan sekadar anjuran. Apalagi Somad bukan musuh kita.

Terima nasib. Jadi orang Kristen ya begitu itu. Kagak terima, keluar aja.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Monday, August 19, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: