Egy, PGI dan Lainnya

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Sikap diam dan tidak ikut-ikutan yang dilakukan ormas Kristen, Katholik, Buddha dan Hindu dalam soal dugaan penistaan agama oleh Egy Sujana sungguhlah tepat. PGI, KWI, Walubi dan Parisadha Hindu Darma Indonesia tidak mau terjebak keluarkan fatwa dan sejenisnya, seperti ormas Islam bernama Majelis Ulama Indonesia . Belajar dari terseretnya MUI, organisasi non Islam itu paham benar bahwa betapa urusan agama dengan gampang dilalap habis oleh broker-broker politik yang bernafsu menggunakan sentimen keagamaan untuk tujuan kekuasaan.

Akhirnya citra organisasi turun dan mengalami nasib yang sama dengan MUI, lembaga yang kini tidak ada wibawanya karena terseret kasus Ahok. Kasus Ahok jelas-jelas politik dan menjadikan Pilkada Jakarta menjadi pilkada yang paling brutal sepanjang sejarah ibukota ini. MUI turut andil dalam kebrutalan ini. Dan ormas non Islam tidak mau jadi kuda tunggangan seperti MUI.

Sikap diam ormas non Islam itu barang kali juga disebabkan karena tidak ada anggota bergelar keagamaan yang bersumbu pendek dan dengan gampang bilang potong, gantung, salib dan usir, seperti yang ada di Majelis Ulama Indonesia. Atau barangkali, mekanisme pengambilan keputusan di dalam ormas non-Muslim itu mungkin mengedepankan sensitivitas hubungan umat beragama ketimbang bersikap reaktif seperti yang diperlihatkan oleh MUI dalam kasus Ahok. Kita tidak tahu.

Yang kita tahu dan kita harapkan adalah dengan sikap tidak mengeluarkan fatwa atau pendapat, maka PGI. KWI, Walubi dan Parisadha Hindu Darma tetap bisa berdiri netral dan bebas bergerak. Artinya, ormas-ormas ini mempunyai posisi kuat dalam pengambilan kebijakan menyikapi dugaan penistaan agama oleh Egy Sujana. Dengan demikian, posisi politik dan tawar menawar mereka justru akan lebih tinggi dengan siap diam mereka.

Akan halnya Egy. Dia nampaknya sadar bahwa ancaman umat Islam akan marah jika dia dipenjara tidak mempan, meski bawa –bawa nama Presidium 212. 212 tinggal kenangan yang tidak bisa diulang hanya karena seorang Egy. Koar-koaran tuntutan 1 trilyun bahkan justru mencengkeram leher Egy hingga masuk ke lubang yang lebih dalam. Tantangan ngawur itu pasti dijawab dengan tekad yang lebih kuat lagi pihak-pihak yang memperkarakan Egy untuk makin serius menekan polisi agar segera memeriksa orang ini. Atau malahan memicu banyak elemen masyarakat untuk mengadukan dia atas dugaan penistaan agama.

Ditengah kepanikan, dia kemudian dikabarkan meminta maaf dan mengaku khilaf.

Oke.. Maaf memang dimaafkan karena itu pengakuan dia akan kedunguannya selama ini.

Tapi proses hukum harus tetap berjalan..

Bukankah itu yang dikatakan Egy dan kawan-kawan ketika Ahok berulang kali minta maaf ?

Jalan yang sama harus didorong agar penyelesaian hukum tetap dilakukan atas dasar keadilan.

Jadi tidak ada kata lain untuk kasus Egy.. Hukum harus jalan terus..

HAJARR.. MAJU DAN TEKAN TERUSSS..

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Monday, October 9, 2017 - 22:00
Kategori Rubrik: