Efikasi Sinovac Rendah?

ilustrasi
Oleh : Erta Priadi Wirawijaya
Tunggu dulu.
Efikasi Pfizer 95% tidak melibatkan OTG, hanya yang terkonfirmasi COVID19 yang bergejala. Jika OTG tidak dihitung seperti Pfizer, maka Efikasi vaksin Sinovac di Brazil sekitar 78%, bukan 50% seperti yang dilaporkan beberapa media. Di Indonesia laporan Efikasi 65% juga hanya menghitung kasus COVID19 yang bergejala. Dengan jumlah yang terkonfirmasi positif sekitar 25 orang. Tentunya jumlah sebanyak ini masih terlalu kecil untuk menggambarkan Efikasi yang sebenarnya. Tapi debat panjang soal efikasi Sinovac di Turki, Brazil, Indonesia, Chile sebenarnya percuma karena hasil akhirnya ya menggabungkan uji klinis dari berbagai senter ini. Jadi sabar saja menunggu hasil olah data dan publikasi.
Dari semua laporan yang ada di Turki, Brazil dan Indonesia, dari semua yang di vaksin inaktif Sinovac tidak ada kena COVID19 lalu bergejala berat. Sementara kalau di lihat lagi laporan uji klinis fase 3 Pfizer, dari yang sudah di vaksin Pfizer ada 10 orang yang terkena bergejala dan positif COVID19, 1 orang diantaranya bergejala berat.
Artinya untuk yang sudah di vaksin COVID19 Sinovac, kalaupun kena COVID19 tidak ada yang harus dirawat. Ini poin pentingnya. Bukan angka terkesan yang lebih inferior padahal tidak juga.
Vaksin Sinovac bekerja dengan memperkenalkan antigen berupa virus SARS COV2 mati, atau virus inaktif. Ini adalah metode yang sudah terbukti efektif selama puluhan tahun. Sementara vaksin mRNA mengandalkan antigen berupa spike protein yang untuk saat ini memang bentuknya sama untuk semua vaksin COVID19.
Kalau mau dianalogikan vaksin inaktif memperkenalkan jasad gajah sebagai antigen. Sementara vaksin mRNA memperkenalkan gading gajah sebagai antigen. Kekhawatiran saya kalau bentuk gadingnya agak berbeda seperti gambar dibawah maka antibodi yang dibentuk berpotensi gagal mengenali virusnya. Sementara kalau vaksin inaktif, mengenali virus tidak hanya dari gading, tapi juga dari bentuk lain gajah, seperti telinga, belalai, dsb. Ini bisa menjelaskan kenapa ada yang sudah di vaksin Pfizer lalu kena COVID19 lantas bergejala berat.
Sebagai dokter yang terbiasa di vaksin, saya cukup bersyukur kebagian vaksin dengan nilai efikasi diatas 50%. Untuk saat ini, bagi saya itu cukup. Ada pilihan memperkenalkan sistem imun terhadap SARS COV2 secara aman melalui vaksinasi harus disyukuri ketimbang terkena COVID19.
Sumber : Status Facebook Erta Priadi Wirawijaya
Thursday, January 14, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: