Edward Shevarnadze

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

(Sampaikan padanya bahwa saya ingin membuka di hadapannya Suatu Ufuk yang tak Terhingga Luasnya)

Meski agak terlambat sekitar dua bulan, Presiden Uni Sovyet Mikhael Gorbachev akhirnya membalas surat yang dibawa oleh sang Duta Edward Shevarnadze. Menlu Uni Sobyet di tahun 1989 saat itu pun tiba di Teheran.

Dua bulan sebelumnya Imam Khomeini, mengirim surat kepada Presiden Uni Sovyet, Mikhael Gorbachev, melalui tiga utusannya : Ayatullah Abdullah Jawadi Amuli, Mohammad Javad Larijani dan Mardhiah Hadid Jee Dabagh.

Isi surat kepada negara adidaya rival Amerika ini, terhitung sangat berani. Disampaikan dipenghujung selesainya perang Irak-Iran. Semula publik menyangka isi surat minta bantuan senjata. Ternyata isinya diluar dugaan. Isinya komunisme dan kapitalisme tak akan dapat menjadi solusi umat manusia. Mari tengoklah ke dalam Islam yang menyediakan seluruh solusi kemanusiaan. Itu ringkas cerita ajakan suratnya.

Edward Shevarnadze di terima di kediaman sederhana. Ruang yang dimasuki beberapa orang saja tampak sempit. Edwar menyampaikan terima kasih telah diizinkan bisa bertemu. Imam Khimeini bilang sama-sama.

Edwar langsung mengucapkan beberapa mukadimah. Bahwa ia mendapat perintah untuk menyampaikan jawaban surat yang lalu. Ia juga melaporkan bahwa surat dari Rahbar sudah dibaca oleh seluruh kalangan pemimpin komunis Uni Sovyet. Memang tidak ada keraguan bahwa kita bersepakat dalam banyak perkara. Namun begitu, kami tetap tidak setuju dalam beberapa hal.

Ketika Edward sampai pada kata diatas, Imam Khomeini spontan berkata menyergah. Dan bangkit dari duduknya. Berjalan, melintas berlalu saja tanpa menghiraukan Edward.

Ini perkataannya : Sampaikan kepadanya (Mikhael Gorbachev) bahwa saya ingin membuka dihadapannya suatu ufuk yang tidak terhingga luasnya.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, di 3 Juni 1989 Imam Khomeini wafat. Dua tahun setelah itu, 1991, Uni Sovyet runtuh terbelah menjadi banyak negara. Induk semang komunisme hancur berkeping. Ideologi itu tak diminati oleh masyarakat dunia. Tersisa puingnya saja seperti Kuba, Venezuela dan Korut. Dan dalam surat yang sama dikisahkan juga bahwa kapitalisme juga akan menyusul tumbang tak lama setelah itu. Tanda-tandanya Kapitalisme Imperialisme akan runtuh sudah nampak dimana-mana. Kopit mempercepat geliat peradaban yang sudah hamil tua, hendak melahirkan peradaban berikutnya.

Sebelum tahun 1991 Uni Sovyet, biang komunisme, runtuh berkeping, seorang Waliyullah telah melihat keruntuhamnya di langit.

Kang Santri : Sebelum Indonesia merdeka, ada seorang Waliyyullah datang ke KH Hasyim Asy'ari. Dia ceritakan mimpi membaca Surah Ar Rum. Takwilnya Indonesia tidak ikut perang di Perang Dunia II antara Amerika dan Jepang, tapi Indonesia akan merdeka. Sama ketika Gus Dur bilang Jokowi bisa jadi Presiden. Sama ketika do'a Mbah Moen Prabowo terucap dalam do'a. Presiden berikut Prabowo-Agil Siraj.

Dul Kampret : Jadi ideologi komunisme sudah tidak diminati manusia dunia. Sudah bangkrut. Dan bukunya ada di musium dan perpustakaan. Korut, Kuba dan Venezuela itu sisa reruntuhannya.

Bung Cebong : Apa karena orang Indonesia itu penggemar telenovela ya, kok di benaknya PKI masih gentayangan. Makanya ngaji logika supaya otak tidak dicuci oleh londri Barat.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status facebook Abdul Munib

Tuesday, June 30, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: