Educated Guess

Oleh: Sahat Siagian

 

Harian The Guardian di Inggris merilis ranking 16 besar Piala Dunia. Mereka meneliti 32 tim di babak penyisihan, menimbang pasokan big data, dan juga analisis para pesepakbola. Urutannya sebagai berikut:

1. Brazil............................9. Swedia
2. Kroasia.......................10. Inggris
3. Belgia..........................11. Swiss
4. Uruguay......................12. Argentina
5. Columbia....................13. Portugal 
6. Mexico........................14. Denmark
7. Spanyol.......................15. Rusia
8. Prancis.......................16. Jepang

 

 

Sampai dengan hari ke-1 babak 16 besar, ranking di atas akurat. Argentina, ranking 12, kalah 3-4 dari ranking 8, Prancis. Lalu Protugal, ranking 13, kalah dari Uruguay, ranking 4, dengan skor 1-2.

Memasuki hari ke-2, beberapa dugaan mulai berantakan. Spanyol, yang menurut pemeringkatan The Guardian berada di peringkat 7, dikalahkan Rusia, peringkat 15, dalam adu penalti. Kroasia hampir saja mementahkan pemeringkatan tersebut, cuma menang 4-3 dalam adu penalti dengan Denmark.

Sahihkah memerkirakan Spanyol bakal menang atas Rusia?

Kalau informasi di tangan Anda cuma Koran The Guardian, tentu sahih. Anda membuat perkiraan yang disebut educated guess: menebak dengan menimbang semua data.

Tapi ternyata Spanyol kalah. Adu penalti tak bisa diramal. Momen of truth-nya berada di sepersekian detik sebelum bola disepak. Itu adalah saat ketika benak penendang membisikkan arah tendangan, dan benak kiper membisikkan arah pergerakan. Tak ada yang tahu. Tuhan mungkin tahu, tapi Dia tak mau tahu. Dan perkiraan Anda meleset.

Tapi sebagai educated guess, tebakan Anda tidak ditertawakan. Anda telah membuat perkiraan sebagai orang terdidik berbekal informasi sahih, bukan nebak seenak bacot.

Itu tentang educated guess. Ada orang yang bikin persepsi sendiri atas data tersaji. Seperti saat ini, ketika nilai tukar USD terhadap IDR berada di atas 14 ribu. Prabower dan Golputer ngehek ribu mengecam Jokowi. Pergerakan nilai tukar dalam jangka 3 hari sudah dianggap cukup untuk menilai bahwa Jokowi gagal.

Itu persepsi orang kalap dengan pustaka gelap. Angka tersebut bisa jadi bergerak lebih liar: mungkin ke 15ribu, mungkin ke 16ribu bulan depan. Tapi pergerakan angka belum berhenti. Dua bulan lagi barangkali ia turun ke 13.800. Biasanya kalau itu terjadi tak ada orang memuji. Mereka yang kemarin mencak-mencak juga tak minta maaf.

Saran saya, berlakulah sebagai orang terdidik: menebak Spanyol maju ke semi final berbasis laporan The Guardian, boleh. Menjadikannya sebagai informasi untuk masuk ke taruhan judi, Anda gila.

Mengajukan pertanyaan atas nilai tukar Rp. 14.200 boleh dan bahkan harus. Tapi menjadikan angka itu sebagai bahan untuk memvonis Jokowi sambil belagak sebagai golputer, Anda begok, dodol, blo'on, dan provokator.

Sebab masih banyak yang belum Anda tahu. Kadang, dalam dunia angka, pergerakan turun dimulai dengan pergerakan naik yang bahkan rada ekstrim.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Monday, July 2, 2018 - 04:45
Kategori Rubrik: