Dwi Hartanto dan Post Truth Society

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna S

Mungkin kita semua hari-hari ini sedang menyimak kasus Dwi Hartanto, memperpanjang daftar kasus "tipuan ecek-ecek tapi korbannya massal" di negeri ini (ecek-ecek dalam artian pola pembohongannya sebenarnya sederhana). Busang, blue energy, penemu 4G, first travel dst dst. Kabarnya post-truth society, yaitu masyarakat yang (i) haus sensasi (ii) menyandarkan referensi tidak pada bukti-bukti valid/metodologi ilmiah tapi lebih pada emosi (iii) punya alergi pada institusi yang established termasuk media mainstream, memang makin mudah kemakan tipu-tipu ala DH ini.

Tapi pagi ini kecewanya nambah baca artikel Kumparan ini. So called media alternatif. Apakah Anda mendapati di artikel ini Kumparan melakukan effort untuk cek-and-ricek segambreng informasi tentang DH sebelum menuliskan tulisannya? Engga euy, Kumparan hampir saja menurunkan tulisannya kalau saja kebohongan DH gk keburu kebongkar. Jadi wartawan Kumparan ngapain aja selama menyiapkan tulisan? Masalahnya ceunah media alternatif benteng terakhir per-media-an..

Jadi DH khilaf, Mata Najwa khilaf, Detik khilaf, KBRI Belanda khilaf, Kumparanpun khilaf. Baeklahh..kami sebagian besar juga society yang khilaf kok..

Tapi satu kekecewaan terobati dengan fenomena menarik lain. Dalam kasus DH ini, yang menarik adalah munculnya crowd-cek-and-ricek, pelacakan dilakukan sekelompok citizen (dalam hal ini warga Indonesia di Belanda) yang curiga dan gak terima pembohongan publik lebih lama lagi.

Kalau dipikir-pikir jenis-jenis pembohongan publik seperti ini selalu terjadi sepanjang masa, dari yang ecek-ecek ala DH, First Travel, sampai yang masif terstruktur ala Hitler dan Soeharto Orde Baru (misal rekayasa seputar isu G30S), dan selalu pula kita dapati society punya semacam reaksi debunking-nya sendiri. Apakah era digital dan open society membuat respon debunking society jadi lebih cepat? Faktor-faktor apa yang membuat...haiayahh maap maap #gak seru kalau lari ke scholar mode.

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Tuesday, October 10, 2017 - 17:00
Kategori Rubrik: