Dusta sang Bangun Samudra

ilustrasi

Oleh : Dwi Avianti Budi Hapsari

Lihat video nya yang di artikel (semoga masih ada, tidak dihapus pihak media).

Dalam video berdurasi 22 menitan tsb.

1. Mengaku sekolah pastor tingkat menengah katolik, santo vincentio al paulo, hanya 1 tahun sudah lulus,dia bilang krn dia CERDAS. Dan juga dikarenakan CERDAS, maka tidak ditaruh di gereja tetapi langsung lanjut ke sekolah STFT santa giovani yang harusnya 5 th dia tempuh 3th, krn menurut dia CERDAS. Dia tidak ditaruh ke gereja krn menurut dia CERDAS itu tadi, dan langsung dikirim ke vatican roma untuk mengambil magister teologi. Yang harusnya ditempuh 3th, dia bisa lulu hanya dengan 1 5th. Puncak KECERSASANNYA, lagi2 menurut dia saat dia memutuskan pindah agama dari agama lama ke agama baru. Dia mengatakan tidak bisa disebut mantan misionaris krn blm menghadapi umat itu tadi (krn CERDAS maka oleh keuskupan disuruh sekolah terus), tapi bisa disebut mantan pastor krn sudah dilantik menjadi pastor.
=====>
Pingin banget lihat ijasahnya dan surat keterangan pelantikan pastornya.

2. Mengatakan kalau disana (yang dia maksud kriten/katolik) ada perpuluhan, makanya seneng jadi pendeta.
=====>
Di islam juga ada per delapan untuk amil zakat. Delapan asnaf penerima zakat juga disebutkan mualaf. Dan ngomong2, dia di video nyebut (diundang NURUL HAYAT), beneran nih gak ada amplopnya? Jujur ada deh.

3. Mengatakan pendeta bisa dengan gampang mendapatkan mobil (dia sebutkan pajero) dengan hanya pihak pengundang laporan ke dewan gereja indonesia berlanjut ke dewan gereja internasional dan langsung ke vatikan roma.
=====>
Kalau memang cerdas dia gak bakal mengatakan pendeta dan berkaitan dengan vatikan roma. Keuskupan tidak menyebut pendeta melainkan PASTOR.

4. Dia ada uyuh ternyata ckckckkc......
* uyuh = kencing.
Pentesan bau pesing keluar dari mulutnya.

====> orang begini kok ya diberi panggung dan masih banyak yang rela membodohkan dirinya, percaya omongannya. Jelas2 pembohong itu akan mesusak islam itu sendiri.

Sumber : Status Facebook Dwi Avianti Budi Habsari

Saturday, February 22, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: