Durhaka

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

GUE punya teman masa kecil yang orangtuanya kejam banget. Kalo lagi marah sama anaknya, bukan cuma suka nempeleng, tapi juga nendang. Dan sebagai anak kecil, teman gue jelas gak berdaya.

Tapi hukuman yang menurut gue paling keterlaluan adalah ketika dia dihukum dengan cara dipermalukan di depan teman-temannya.

Pernah suatu hari karena ketahuan mengambil uang receh di warungnya, dia dihukum seperti maling. Dijemur di tengah lapangan bulu tangkis depan rumahnya sambil mengangkat peti kayu.

Dan itu berlangsung berjam-jam tanpa belas kasihan. Coba-coba teman gue berani nangis, bisa-bisa bakal ditambah hukumannya.

Bapak gue juga galak. Tapi kalo gue bandel, paling dipanggil masuk rumah. Tahu-tahu bokap di dalam sudah megang gesper. Maka gesper kulit itu pun menyalak menyambar kaki gue. Cetar.

Tapi gue masih bisa menahan rasa sakit akibat sengatan gesper. Gue gak bisa bayangin andai itu dilakukan di luar rumah disaksikan teman-teman seperti sobat gue itu. Pasti sakitnya bakal menjalar sampai hati.

Karena dipermalukan seperti itu, bukan gak mungkin teman gue menaruh dendam kesumat pada manusia kejam bernama bapak itu. Dan teman gue bukan sekali dua kali mendapat hukuman seperti itu.

Sekarang lagi ramai di medsos orang-orang menghujat seorang anak, yang setelah dibiayai sekolahnya sampai jadi dokter, lanjut ke spesialis, ditanggung juga acara pernikahannya, eh saat nikah orangtuanya gak diundang. Namanya pun gak ditulis di undangan. Bahkan seusai resepsi, si anak pasang iklan di koran nasional yang menyatakan bahwa dia sudah putus hubungan dengan kedua orangtuanya. Segala perbuatan dan akibat hukum akan jadi tanggung jawab masing-masing.

Maka habislah si dokter baru ini diserang dari mana-mana. Dia pun dijuluki anak durhaka jaman modern yang sangat tidak tahu diuntung. Gimana mungkin ada dokter kayak gitu.

Sementara yang lain memaki-maki, gue malah jadi teringat sama teman masa kecil gue dulu. Jangan-jangan si dokter A ini waktu kecil juga pernah mengalami penyiksaan atau kekerasan secara fisik dan psikis di masa kecil.

Karena sebagai anak-anak dia gak punya kekuatan untuk melawan, tapi kemarahan itu bisa jadi menumpuk di dalam jiwanya sebagai dendam kesumat yang suatu hari "pasti" akan dia lampiaskan.

Menurut penelitian, setiap anak laki-laki yang mendapat kekerasan dari orangtuanya pasti pernah berfantasi dan berimajinasi pergi dari rumah, meninggalkan dan melupakan orang-orang menyebalkan yang menyakitinya. Termasuk orangtua sendiri.

Gue atau kita tentu gak tahu apa yang terjadi dengan masa kecil si dokter A. Tapi gue yakin gak mungkin gak pernah terjadi sesuatu. Gak mungkin dia ujug-ujug berani bilang ke ibunya bahwa dia cuma numpang lewat di rahim ibunya. Gak mungkin ujug-ujug dia berani mau menghajar bapaknya. Gak mungkin dia juga ujug-ujug pasang iklan biar orang sedunia tahu bahwa dia sudah memutuskan hubungan darah dengan kedua orangtuanya.

Bahkan dokter A gak peduli ketika kasusnya sampai di pengadilan dia diputus bersalah telah melakukan kekerasan psikis dalam rumah tangga. Dan mungkin dia juga gak peduli ketika netizen ramai-ramai mengajak orang lain untuk gak berobat kepadanya. Jangan-jangan dulu cita-citanya bukan dokter, tapi jadi seniman.

Buat gue ini sebuah akumulasi dendam dan kemarahan luar biasa seorang anak pada orangtua yang gak mudah ditangani oleh psikolog, dirukiyah sama ustad, atau disedot roh jahatnya sama dukun.

Kita jangan buru-buru menuduh dokter A anak durhaka. Karena fakta di lapangan juga banyak orangtua yang durhaka kepada anaknya. Orangtua yang turut andil menciptakan generasi jahat.

Gue percaya bahwa baik buruk seorang anak, hormat gak hormatnya seorang anak pada orangtua atau kepada siapa pun, gak bisa dilepaskan dari hasil didikan orangtua di masa kecil.

Kalo di medsos sekarang banyak orang yang gak kalah jahatnya dengan dokter A, itu juga pasti karena hasil didikan dari rumahnya. Didikan dari orangtuanya.

Contoh konkret, kenapa Jokowi gak pernah membalas segala caci maki dan fitnah ke dirinya, padahal dia punya power dan sarana buat melawan? Itu juga karena hasil didikan bapak ibunya. Didikan kasih sayang ke sesama manusia. Gue belum punya contoh lain selain Pakde ini.

Kalo sebel sama contoh gue, silakan cari contoh yang lain. Minimal berkacalah pada masa kecilmu dan kenapa kamu bisa jadi seperti sekarang ini. Itu contoh paling fair.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Saturday, May 30, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: