Duo Gembrong Merindukan Bulan

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

"Serius? Duo gembrong itu??"

Katanya, Jokowi ini menang tipis dari Prabowo dalam pilpres kemarin adalah karena selisih angka tipis. Dan selisish tipis ini adalah karena militansi segelintir minoritas negeri ini.

Tanpa militansi mereka, mustahil dia akan kembali menjadi pemimpin negara ini untuk kali keduanya.

"Loh koq?"

Lihat saja datanya. Bukankah lawan politiknya sudah berpesta dan yakin menang? Bukankah lawan politiknya masih ngamuk dan membuat protes hingga berjilid jilid karena memang mereka yakin? Lihat saja demo didepan kantor BAWASLU hingga bakar-bakaran di Tanah Abang.

Dalam perhitungan mereka, lebih 50% dari 87% mayoritas sudah mereka kuasai. Minoritas yang jumlahnya hanya sekitar 13% dan dibagi menjadi banyak pemeluk dan keyakinan seperti Syiah, Ahmadiyah, Kristen, Hindu hingga Kejawen dan pemeluk keyakinan , tak mereka perhitungkan.

Mereka memang menang mutlak dalam memanen dukungan dari mayoritas negeri ini makanya yakin!!

Namun, dengan perhitungan rumit sistem KPU, Jokowi menang 55% dibanding Prabowo yang mendpat suara 45%.

Bukan kemenangan menggumkan apalagi mutlak, bila incumben adalah ukuran yang di pakai sebagai acuan.

Ternyata, mayoritas dari minoritas yang hanya 13% itu, secara gila-gilaan memobilisasi dukungannya kepada Jokowi. Mereka yang malas terlibat pada pemilu-pemilu sebelumnya, kini berjibaku melakukan konsolidasi demi memenangkan pilihan mereka. Mereka melakukan apa yang dulu malas mereka perbuat, "nyoblos"!!

"Apa hubungannya dengan duo gembrong itu?"

Menerima penghargaan tertinggi negara berupa bintang Mahaputra seharusnya adalah tentang pencapaian sebuah prestasi luar biasa yang pernah seseorang lakukan sepanjang hidupnya.

Bintang Mahaputra Nararya bukan jenis penghargaan kaleng-kaleng, ini adalah bentuk penghargaan tertinggi yang pernah diberikan negara kepada rakyatnya. Bintang ini diberikan "hanya" bagi mereka yang berjasa secara luar biasa kepada negara pada bidang sipil.

"Luar biasa? duo gembrong itu?? Gleeks,,,, ,,, ,___&$&*,,_+*,,$*__+&--*+,,,,,,,,??"

Iya...,luar biasa. Mungkin memang aneh bagi kita kebanyakan, apalagi bagi yang sangat mengenal kedua pemeran antagonis dalam serial "Cebong Menari Dalam Duka Kampret".

Bagi Presiden, itu bukan sesuatu yang aneh apalagi nyeleneh. Itu hanya satu langkah yang tak kita mengerti dari banyak langkah yang sudah dia jalankan.

Presiden mampu melihat kedua orang itu telah berbuat banyak bagi negara. Sudah gitu saja!

Aneh bin ajaib bagi cara kita berpikir.

Kita diberi tahu bahwa keduanya akan mendapat penghargaan karena jabatan di masa lalunya sebagai Wakil Ketua DPR. Namun, kita juga tahu bahwa mereka memperoleh jabatan itu dengan cara memalukan, yakni, membajak kemenangan PDIP sebagai partai pemenang pemilu 2014 bukan? "Merampok" mungkin lebih tepat.

Sama dengan kebingungan kita terhadap sikap Presiden yang diam saja saat para minoritas mendapat perlakuan buruk dan negara seperti tak pernah mau hadir, padahal menurut data yang ada, sang Presiden bisa duduk kembali pada kursinya karena militansi mereka, kini penghinanya justru diberi penghargaan tertinggi yang dimiliki negara.

Kita bingung dan tak ada logika mampu menjelaskan peristiwa ini. Kita dibuat semakin tak mengerti pada kebenaran seperti apa harus berpegang.

Ya...,Presiden memiliki logikanya sendiri.

Yang kita tahu, pembangunan berjalan dengan baik dan benar. Yang kita mengerti, ditengah kekacauan dunia akibat bencana pandemi, investor asing masih melihat Indinesia sebagai negara terbaik bagi mereka menaruh duitnya.

Tak ada data salah tentang bagaimana Presiden mengelola negara ini. Banyak parameter dapat kita jadikan rujukan untuk menyatakan hal tersebut.

"Trus...,?"

Menebak kemana Jokowi akan melangkah, sama seperti cerita bagaimana frustasinya banyak negara didunia terhadap mencari cara terbaik tentang bagaimana melawan pandemi Covid-19.

Ada ratusan negara dengan ratusan cara telah dikerjakan, namun tak ada satupun cara terbaik telah dideklarasikan. Mereka berjalan dan meraba dalam gelap. Tak ada yang terlihat dengan jelas. Tidak satupun dari mereka pernah mengenal bencana ini. Ini adalah tentang peristiwa pertama dan tak ada rujukan dapat dijadikan asa.

Demikian pula dengan kita rakyat Indonesia, baru sekali ini kita mendapat Presiden dengan karakter seperti ini. Tak ada rujukan bagi kita menilai kemana dia akan melangkah.

Semua hanya tentang tebak-tebakkan dan bahkan kadang tanpa esensi apapun, yang penting memuji bagi mereka yang mendukungnya, dan mencela bagi mereka yang marah dan tak suka.

Namun ada satu hal yang pasti, paling tidak untuk beberapa saat kedepan, kesakralan makna Mahaputra akan menurun derajadnya hingga titik paling rendah.

Untuk sesaat kedepan, bintang Mahaputra akan dianggap penghargaan kaleng-kaleng.

Kapan bintang prestisius itu akan menempati keagungannya, atau bahkan justru benar akan tetap menjadi bintang kaleng-kaleng, sampai kita mengerti akan makna sesungguhnya kemana Presiden akan melangkah.
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Thursday, August 13, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: