Dunia Tak Seperti Apa Yang Terlihat

Oleh: Denny Siregar
 

Yang harus kita akui selama 32 tahun kepemimpinan Soeharto adalah betapa efektifnya intelijennya bekerja.

Soeharto tidak perlu menerjunkan banyak tim intelijen ke masyarakat, ia menggunakan masyarakat itu sebagai intel-nya. Penerapan sistem penggalian informasi yang mengerucut sampai Rukun Warga dan Rukun Tetangga, adalah sistem yang sangat efektif, bagai kinerja sebuah mesin besar memasok informasi ke kantor pusat.

Meskipun RW dan RT tidak dimasukkan dalam administrasi pemerintahan, hanya sebagai partisipasi warga, tetapi tanpa sadar mereka juga menjadi pengawas terdekat kita. Mereka-lah yang melaporkan situasi ditempatnya sampai memasok informasi kebiasaan warganya.

Bahasa pembentukan RW dan RT sungguh manis, untuk mewadahi gotong royong, meningkatkan kelancaran hubungan masyarakat dan pemerintahan, sehingga kita pun berpartisipasi dengan kerelaan dan kesenangan hati melakukannya. Berkebalikan dengam fungsinya sebagai pengontrol tatanan bernegara.

Begitu juga dengan model yang dibangun dalam internet kita.

Google, Facebook dan lain2 adalah fasilitas yang dibangun untuk mengoleksi data kita, keseharian kita, dengan siapa kita dekat, apa yang kita suka, apa yang kita pikirkan dan banyak lagi. Dengan mengoleksi data tersebut mereka bisa memahami sebuah pola yang terkait dengan kebiasaan.

Julian Asange, founder Wikileaks, pernah mengatakan bahwa Google, Facebook dan Yahoo adalah alat dari US Inteligence. "Facebook adalah mesin mata2 yang terbaik yang pernah ditemukan, " Kata Assange. "Semua orang harus paham, bahwa ketika mereka menambah pertemanan, mereka melakukan kerjaan gratis bagi intelijen US.."

Memang ada berita bahwa Facebook dan Microsoft menolak permintaan pemerintah AS untuk membuka datanya. Logikanya, untuk apa pemerintahan AS meminta data ? Mereka cukup menguasai saham terbesar di perusahaan global itu, karena itu sudah termasuk menguasai data, lalu untuk apa minta2 ? Ya, mungkin sebagai pencitraan aja supaya orang merasa aman bahwa data mereka tidak di awasi intelijen.

Teknologi itu memang seperti pisau bermata dua. Kita harus memahami kinerjanya sehingga kita tahu pisau ini mau digunakan untuk apa. Tidak bisa menghambat perkembangannya, hanya harus paham bagaimana memanfaatkannya, dan jika bisa membalikkan supaya bisa menjadi senjata makan tuan.

Pengetahuan kita tentang teknologi mereka jauh daripada apa yang sudah dan sedang mereka kembangkan. Kita masih sibuk dengan bahasa teknis kelas TK seakan2 tahu semuanya, mereka malah sudah menjadikan kita sebagai tikus eksperimen untuk teknologi selanjutnya.

Saking tahunya mereka bahwa kita suka banget dengan sesuatu yang bersifat permainan, gratis, heboh, dan tidak ingin di anggap ketinggalan zaman atau gaptek, mereka menggabungkan kesukaan kita dengan model supaya kita yang bekerja untuk mereka, mencari data untuk mereka.

Kadang memang harus sedikit merendahkan diri supaya bisa menyerap informasi dari berbagai sudut pandang, bukannya sibuk mencari pembenaran terhadap sedikitnya ilmu yang kita kuasai. Dan untuk itu memang harus minum kopi, supaya akal terbuka dengan banyaknya sudut pandang yang kita dapat.

" Google is not what it seems..." Julian Assange.

Gambar : Director of Google Ideas, and "geopolitical visionary" Jared Cohen shares his vision with US Army recruits in a lecture theatre at West Point Military Academy on 26 Feb 2014

(Sumber: dennysiregar.com)

Saturday, July 23, 2016 - 13:45
Kategori Rubrik: