Dunia Persilatan Lidah

ilustrasi

Oleh : Uju Zubaedi

Abah juga dulunya mah tukang ceramah. Jaman itu (30an th yl) disebutnya muballig. Yaa meski cuma muballig di kampung tapi lumayan juga ada tambahan inkam, he he.. nambah2 gaji abah sebgai guru agama yg jaman itu mah sangat menyedihkan. Bulan Rajab n Rabiul Awwal itu bulan marema order ceramah.

Panjang lebar lah klo diceritakan mah. Pergolakan hati dan pikiran terkait lahan rejeki model yg satu ini. Awal2 sih santuy aja. Untuk pemenuhan kebutuhan raga kan ada usaha kuliner, orang2 menjual makanan atau bahan makanan. Jadi kalo abah menjual "makanan" jiwa untuk pertumbuhan jiwa manusia ya analog dg itu, sah sah saja, malah lebih "mulia" karena pada level tertentu akan dapat julukan "Al Mukarrom" (yg dimuliakan).

Tapi benarkah yg abah "jual" itu hidangan bergizi untuk pertumbuhan jiwa, atau jangan2 apa yg malah akan meracuninya. Inilah yg butuh wacana panjang lebar lagi untuk membahasnya.

Yg singkat2 saja begini (he he emang bisa singkat?) :

"Menyampaikan" (tablig) itu memang benar diperintahkan Allah. Tapi setiap perintah Allah itu pasti disertai petunjuk eksekusi dan implementasinya secara detail, terperinci dan tuntas.

Antara lain yg paling primer dan esensial adalah :
"APA" (What) yg Allah suruh sampaikan itu..? Selanjutnya ...
SIAPA (Who) yg Allah suruh menyampaikan.. ?

BAGAIMANA (How) prosedur, cara, metoda penyampaiannya..?
UNTUK APA (Why) hal itu diperintahkan. Maka Allah pun menunjukkan :
TARGET yg ingin dicapai..? Apa saja TOLOK UKUR keberhasilannya..? Dan juga bagaimana sistem KONTROL, EVALUASI dan PERTANGGUNGJAWABANnya..?

Tablig dan Da'wah Ilallah itu urusan Allah, urusan langit yg digelar di bumi. Pastinya lebih canggih dan rapih, lebih beradab dan bermartabat dibanding urusan manusia. Tidak mungkin digelar dg semrawut asal2an, siapa saja yg berminat dan merasa mumpuni bisa ambil bagian semaunya, tanpa pengawasan dan pertanggunhjawaban. Itu BUKAN ALLAH BANGET.

Coba kita tengok satu saja dulu yg pertama di atas, yaitu : APA yg Allah suruh sampaikan..?

.. بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ ...
... Sampaikanlah APA YG DITURUNKAN KEPADAMU DARI TUHANMU ... (Al Ma'idah : 67)

Disini Abah ngahuleng... :

"Allah tidak menurunkan apapun kepadaku. Semua yg aku bagi ke orang2 itu, aku dapat dari baca itu baca ini, denger sana denger sini. Dari Allah-kah itu..? Yg pasti bukan yg diturunkan kepadaku. Karena terakhir Allah menurunkan itu kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rosulullah",

Tapi sudah Allah tegaskan bahwa "Adz Dzkr" (Al Quran) yg diturunkan kepada Rosulullah itu Allah jamin akan tetap lestari dlm kehidupan manusia, terbuka kemungkinan bagi siapapun untuk bisa menggali dan mengunduh kandungannya asal memenuhi syarat dan ketentuan yg Allah tetapkan.

Quran mana quran..? aku hanya mau menyuguhi jiwa orang dg apa Allah turunkan saja, tidak yg lain. Karena itu saja yg perintahkan Allah untuk disampaikan (ditabligkan).

Tapi ternyata "gak laku".., mereka mempertanyakan kitab2 atau ulama yg Abah jadikan rujukan atau referensi. Tanpa itu Abah dianggap menafsirkan Al Quran semau sendiri. Jika hanya Al Quran tanpa disertai yg lain, hati mereka tertutup.

Fenomenan demikian itu sudah jadi keniscayaan pada kaum kita, sudah mengondisi seperti yg Allah terangkan :

وَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ جَعَلۡنَا بَيۡنَكَ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ حِجَابٗا مَّسۡتُورٗا
Jika kamu bacakan Al-Qur'an, Kami jadikan antara kamu dan orang2 yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup (tidak terlihat) (Al Isra : 45)

وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ
Jika yang disebut (diingatkan) hanya Allah saja, kesal sekali hati orang2 yang tidak beriman kepada akhirat. Tapi jika disebut juga (nama2) yang selainNya, mereka pun merasa senang.. (Az Zumar : 45)

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
Jika dibacakan kepada mereka ayat2 Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain mengatakan, “Datangkan (sodorkan pendapat) bapak2 kami, jika memang kamu ini benar.” (Al Jatsiyah : 25)

Sudah jadi kebanggaan para ustad tukang ceramah ketika mereka bisa menyebutkan (merujuk) kitab2 karangan para ulama bernama besar. Terkesan ilmunya "luas" dan "kaya literasi". Tapi dg mengingat ayat2 diatas Abah malah takut kalo terus2an begitu.

Muncul di kepala Abah bayangan dan narasi imajiner dari Allah :
"Hey.... apa yg kamu suguhkan ke orang2..? Dapat dari mana..? Dapat mulung ya, dari sana sini"..
"Kenapa..? Kamu gak bisa ya, gagal terus mengunduh dari "situs" milikKu..?
"Apa kamu tega menyuapi orang2 dg kudapan dapat mulung..? Kamu yakin semua itu santapan sehat n bergizi..? Tidak basi kadaluwarsa..? Malah jangan2 bangkai lagi..."
Gubraak..! Muncul bayangan Bantargebang ama Ciliwung

"Heii.. ingat ya., sistem dan situs milikKu itu Maha Canggih dan sempurna. Tidak akan pernah eror atau gagal berfungsi. Jadi kalo kamu gagal terus itu berarti kamunya yg kotor alias the qill and the qumal".

"Udah.., "mandi" dulu sanah.. Bersihkan hati dan pikiranmu. Karena yg bisa dapat akses ke situs milikKu itu hanya mereka yg telah DIBERSIHKAN (AL MUTHOHHARUUN)"

Astaghfirullah Al 'Adzhiiem...
Ampuni hambaMu yg kotor ini .. Ya Allah..

Maka Abah pun mundur menarik diri dari dunia persilatan (lidah) alias dunia perceramahan agama, yg kian hari kian ceromoh cocoromot..

Yg boleh "dijual" itu ILMU dan turunannya, berupa keahlian dan produk manifestasi ilmu. Sedangkan yg Allah suruh sampaikan oleh Rosul dan para penerusnya, da'i/muballig adalah PETUNJUK DARI ALLAH.

Petunjuk dari Allah itu bukan untuk diakumulasi sebagai kekayaan intelektual melainkan untuk DIIKUTI menuju (Wajah) Allah. Para penyampainya pun tidak boleh minta bayaran (upah)

ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا وَهُم مُّهۡتَدُونَ
Ikutilah orang yang tidak memintamu imbalan/upah dan mereka itu orang2 yang mengikuti (tidak menyalahi) petunjuk. (Ya-Sin : 21)

Menurut petunjukNya, petunjuk Allah itu harus disampaikan melalui (dg mendirikan) "SHOLAT" berupa jaringan Rahmat dimana petunjuk dan rahmat kasih sayang Allah itu akan "bekerja" dalam interaksi antar hati orang2 Mukmin yg tergabung di dalamnya.

Bukan dengan MEMBANGUN MENARA GADING, MENGEJAR POPULARITAS, sedangkan khalayak audien terserah mo ngapain.. Yg begitu itu BUKAN Urusan Allah, BUKAN ALLAH BANGET.

Tapi Abah tidak lantas berhenti tapi terus lumampah mencari dan mencari, berusaha untuk menjadi "DA'I BERIJIN" dari Allah dan menjadi "lampu" yg siap dirundung panas demi bisa memancarkan CahayaNya. Sebagaimana yg Allah sebut :

وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا
Sebagai penyeru ke (pihak) Allah dengan IZIN-Nya dan sebagai LAMPU yang menyinari. (Al Ahzab : 46)

Dalam Islam itu tidak dikenal adanya da'i / muballig free lance. Masing2 harus punya (secara berjenjang) kepada siapa ia bertanggung jawab, sampai pada seseorang yg (apa boleh buat) bertanggung jawab hanya kepada Allah. "Free lance" itu di mata Allah mah LIAR atau Ghoiro Dienullah (bukan/di luar dienullah).

Mengikuti seseorang itu suatu keniscayaan dalam Sistem Hidayah. Di titik ini pun tidak dikenal free lance. Maka.. cermat dan berhati2lah mengikuti orang. Lebih harus cermat dan hati2 lagi, para ustad yg menceramahi orang. Muballigh atau ustadz free lanca itu di mata Allah mah ilegal....

Salam damai dan sejahtera,

Sumber : Status Facebook Uju Zubaedi

Sunday, January 19, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: