Dunia Lagi Susah, Tidak dengan Indonesia

Oleh: Sahat Siagian

 

Gak ada yang menyangkal, dunia sedang susah. Sila pergi ke mal di berbagai kota di manapun di bumi ini, kebanyakan toko mirip kuburan tanpa pengunjung. Para penjaga ngobrol dengan sesama mereka meratapi masa depan yang muram.

Gak ada yang bisa nolak kenyataan. Angka pertumbuhan ekonomi di kawasan manapun turun, juga di Indonesia. Saya ngomong-ngomong sama orang Batam, pegawai galangan kapal di negeri jiran. Dia bilang sampai pekan kemarin sudah tercatat 100 ribu keluarga meninggalkan Batam karena pabrik-pabrik elektronik minggat ke Vietnam.

 

 

Singapura menjelang senja. Malaysia meratap lara. Hong Kong tiba-tiba berubah jinak: banyak bar tutup sebelum tengah malam padahal sebelumnya mereka jingkrak-jingkrak sampai pagi buta. Jumlah kendaraan pribadi yang lalu-lalang di jalan raya Tokyo berkurang drastis.

Tanda-tanda serupa tertemukan di Los Angeles, New York, Chicago, Frankfurt, Milan, Paris, dan banyak megapolitan lain. Hidup harian berpuncak di jam setengah sebelas, tak lagi lewat tengah malam kayak dulu.

Tapi resto-resto di mal tetap ramai dikunjungi orang. Pengguna transportasi umum meroket dalam jumlah yang tak terbayangkan sebelumnya. Jam pemakaian internet naik tajam, demikian juga dengan jumlah pelanggannya.

Artinya hidup tetap berjalan, malah kian sibuk. Hanya playing field-nya berpindah: dari tempat di ketinggian ke tempat di tengah dan terutama di bawah.

Itu juga berarti bahwa manusia dilanda kecemasan. Mereka terkungkung dalam ketidakpastian terhadap masa depan, bersikap hati-hati, hanya mengeluarkan spending untuk hal-hal pokok.

Di situasi kayak gitu manusia butuh panduan dan pemandu. Dan kuncinya adalah kepercayaan kepada si pemandu. Semakin tinggi kepercayaan maka semakin aktif si pemandu memetakan keadaan, menemukan solusi, dan memimpin ratusan juta orang bergerak keluar dari kegelapan.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam laporan bertajuk Government at a Glance 2017 yang dipublikasikan pada 13 Juli lalu menyatakan bahwa Indonesia menduduki ranking pertama dalam hal Trust and Confidence in National Government berdasarkan Gallup data

Laporan tersebut merangkum berbagai indikator pencapaian pemerintah di sektor publik dari anggota OECD serta beberapa negara lain, termasuk Indonesia. Salah satu babnya mengangkat tema: tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

OECD sendiri menggunakan hasil survei yang dilakukan oleh Gallup World Poll (GWP), lembaga survei internasional berbasis di Amerika Serikat. Survei ini mengukur tingkat kepercayaan terhadap pemerintah anggota OECD dan negara-negara besar lain, menjadi satu-satunya yang mengumpulkan data mengenai tingkat kepercayaan kepada pemerintah.

Kata Gallup, Indonesia, Swiss, India, Luksemburg, Norwegia dan Kanada menduduki peringkat atas. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia tahun 2016 adalah sebesar 80 persen, meningkat dibanding tahun 2007 yang hanya mencapai 28 persen.

Indonesia berada di tempat tertinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju anggota OECD, seperti Amerika Serikat (30 persen), Inggris (31 persen), Jerman (55 persen), Prancis (28 persen), juga jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang non OECD seperti India (73 persen), Brazil (26 persen), Afrika Selatan (48 persen).

"Tingkat kepercayaan terhadap pemerintah dipengaruhi oleh pengukuran tentang apakah masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat tanggap dan adil, serta mampu melindungi masyarakat dari risiko-risiko, dan kemampuannya dalam memberikan pelayanan publik secara efektif," kata Sri Mulyani ketika menjelaskan laporan tersebut kepada pers.

Di Indonesia upah buruh tak lagi rendah. Beberapa pengusaha memindahkan pabrik ke kawasan lain. Tapi mereka melupakan satu hal: keajegan. Indonesia sedang mengalaminya. Itu faktor utama bagi para pemilik uang dalam memutuskan ke tempat mana dana dialirkan.

Gelombang dana dalam jumlah yang setara dengan banjir bah sedang bersiap memasuki Indonesia. Para pemilik travel agen di Singapura tercekat melihat angka jumlah penumpang dari negera tersebut ke Indonesia naik gila-gilaan. Harga tiket penerbangan murah dari Jakarta ke Singapura cuma berada di kisaran Rp. 450.000 hingga Rp. 700.000. Sebaliknya, harga tiket dari Singapura ke Jakarta berada di kisaran Rp. 1.100.000 hingga Rp. 1.800.000.

Kepercayaan rakyat membuat Jokowi berani menerbitkan perppu pembubaran ormas radikal. Terlepas dari apakah perlu atau tidak perppu tersebut terbit, saya tercengang oleh angka-angka yang mendasari keberanian Jokowi.

Itu pula yang bikin Jokowi berani berutang. Kepercayaan rakyat dia bayar tunai dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran di berbagai propinsi. Sebab penurunan kurva manapun akan mengalami titik balik: kembali naik. Di tengah perubahan brutal oleh kehadiran disruptive economy, ketersediaan infrastruktur is a must and the only thing that should be ready when the curve goes up.

Jokowi memastikan utang pemerintah tidak dikorupsi. Setya Novanto mencoba menelpon hingga 15 kali menjelang penetapan KPK atas status tersangka ketua DPR tersebut, Jokowi tak bereaksi. Dia memberikan sinyal kuat kepada masyarakat bahwa arah yang sedang ditempuhnya tak bisa dikompromikan oleh kekuatan manapun dan untuk tujuan apapun.

Kita belum tahu kapan garis kurva bergerak naik. Sebagian memperkirakan tahun 2019. Saya sendiri menghitung bahwa pembalikan akan terjadi secara tegas di tahun 2020. Entah manapun yang benar, satu hal sudah dipastikan: Indonesia siap menjalaninya, bahkan berada di baris depan dalam memanfaatkan, menunggangi, dan mengendalikan arus balik.

Dunia sedang muram. Tidak dengan Indonesia.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)
Sunday, July 23, 2017 - 14:00
Kategori Rubrik: