Dukungan Untuk KPU

ilustrasi

Oleh : Yashinta Tri Wahyuni

Dear mas mba KPU,

Saya cuma mau ksi semangat aja. Jangan lelah ya dengan kicauan di luar sana. Tetap fokus bekerja, masi banyak jutaan rakyat lainnya yang bersama kalian, mengawal dan menghormati kinerja dan kerja keras klian tuk negeri tercinta. Pengorbanan bekerja siang dan malam, jauh dari keluarga masi ditambah beban mental di tuding di kecam di maki2. Allah SWT lah yang Maha Adil dan Kuasa yang senantiasa melihat dan menilai dengan sebaik2nya apa yang tidak terlihat oleh mereka2 ini. Semoga balasan limpahan pahala dari Allah SWT tercurah untuk mas mba bapak dan ibu sekalian.

Tenang saja ya menghadapi semburan tuduhan mereka. Saya, emak2 biasa, yang dah biasa banget menghadapi hal serupa. Ngadepin anak2 yang tantrum saat keinginannya tidak terpenuhi. Ancaman2 mereka saat kepengenannya tak digubris. Jeritan, tuduhan, sinisme, (“you are so mean, Mum!” ini contohnya) dan bahkan laporan pengaduan ke tingkat atas (kake neneknya) atau curhat ke guru dan teman2nya. Yah ini reaksi yang lumrah dan manusiawi dari anak2 saat realita yang terjadi tidak sejalan dengan harapannya.

Anak2 saya waktu masi kecil sekali, pun begitu saat bermain bersama. Paling sering pas main boardgame. Saat yang satu menang yang lain kalah (ya iyalah ya masa mau menang semua), pihak yang kalah, saat menjelang mengetahui akan kalah, sudah akan bertingkah. Padahal permainan belum usai. Yang kalah teriak sekenceng2nya menuduh curang kaka ato adiknya yang menang. Bahkan pernah lho mas.. itu board game nya, langsung di lempar olehnya. Padahal belom nyampe finish ular tangganya. Maklumi aja mas.. saat itu, mereka masi kecil sekali (dibawah 6 thn) kecerdasan emosinya belom berkembang sempurna. Belum siap kalah, tapi pengen ikutan main. Lieur yak.

Mba, Mas. Kalau boleh saya kasi saran. Lagi2 dari pengalaman emak2 ngadepin anak2 saya itu..

1. Stay Firm! Don’t give in!

Apapun tingkah lakunya, baik itu guling2 di trotoar, jerit2 sengaja mengundang perhatian di dalam toko, ngancem boikot ini itu.. nyinyir ga berenti2, sampe bikin presconf ngundang media (eh salah,!yg ini ga pernah denk.... Percayalah.. the best way to handle it ya tetap keukeuh dengan prinsip yang benar. Kita, yang lebih dewasa, yang lebih ngerti how to behave yang harus ngajarin ke mereka, anak2 kecil ini, bahwa they cant always get what they want.. and most importantly.. to teach them who the parent is, who has the authority, who has the steering wheel. Mereka HARUS belajar menghargai otoritas. We are NOT under their control. We are not working under their demand. So.. stay firm. jangan ikuti kemauannya seketika.

2. Stay consistent and follow the rules.

Anak2 saya tau, mereka tidak akan dapat yang mereka mau dengan cara2 yang inkonstitusional! eh maksudnya mereka harus belajar dan tau cara yang BAIK menyampaikan maksud hati dan keinginannya. Nangis, ngancem, jerit2, nuduh2, itu sangat bisa dipastikan TIDAK AKAN DAPET yang mereka inginkan. Ini hal yg harus kita pegang dengan konsisten dan komunikasikan dengan jelas berkali2 ke mereka.

You want something? then ASK NICELY! ini tuk yg masi kecil. Udah gedean, saya akan tambahin prosedurnya, “Why do you want it and why do I have to give it to you?”. Kalau mereka ga bisa kasi argumen reasoning yang make sense, disampaikan dengan cara2 sopan, ya udah.. jangan kasi. simpel ya. Biarkan mereka “kerja” dulu membangun narasinya, menghadirkan bukti2 yang kuat tuk melengkapi permintaannya. Ini cara2 yang benar dalam menyampaikan sesuatu, bukan demo menggalang massa tuk menekan kita. It wont work! abaikan saja klo seperti ini

3. Put out the noise in the system by an open dialogue.

Saat mereka sudah behave, sudah bisa mengelola emosinya, sudah ikut prosedur penyampaian maksudnya dengan baik, maka tugas kita berikutnya baru deh mendengarkan dengan seksama. Komunikasi dua arah sangat penting. Kita coba pahami point of view mereka. Feedback dan concern nya ditanggapi juga dengan baik dengan hal yang sama. pake data dan bukti2.

Saat dialog ini terjadi, pastikan bahwa tidak ada pihak yang ga relevan ikutan. Ini penting. kadang yang bermasalah yg gede, adeknya suka ikutan nimbrung. dan lalu bikin heboh lagi dengan cerita ke kanan dan kekiri. ibarat reporter infotainment. Dengan bumbu2 sedapnya. Ngeberitain ke seantero jagad raya dengan campuran opininya sendiri suka2. Ini yang namanya “noise in the system”. Yang kek gini, cuma bikin suasana makin keruh. tendang keluar aja eh maksudnya jangan diajak masuk ikutan diskusi. Yang kek gini ini cuma bikin berisik!!! Nanti aja, saat hasil kesepakatannya dah disetujui oleh pihak2 yang bertikai baru deh, the rest of the world baru dikasi tau. Jadi message track nya terkontrol. Macem pernikahan syahreino itu lah (cieeee gaol donk kita hihihi). Intinya, ga semua ngerasa boleh dan bisa bikin wacana seenak udel.

Begitu mas mbak bu bapak. Tetap semangat!!

Ini cuma saran saya aja sih. Apalah saya, cuma emak2 beranak 3.

#kamibersamaKPU
#sayapercayaKPU

Sumber : Status Facebook Yashinta Tri Wahyuni

Thursday, May 16, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: