Dukaku Untuk Saudaraku Sri Lanka

ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Beragama adalah tafsir atas kehendak tuhan. Pasca Muhammad meninggalkan kita, otoritas tafsir agama berada pada ranah keilmuan.

Namun sejatinya kebenaran hakiki adalah milik Tuhan. Lantas apa salahnya dengan berbeda ? toh Tuhan yang paling mengerti semua. Tetapi satu hal yang menyamakan kita, yaitu keagungan akhlag, budi pekerti, menghormati hak orang lain.

Akhlaq dan budi pekerti luhur adalah sesuatu yang sudah Qod'i jelas tidak boleh di tawar. Itu yang membedakan kita dengan hewan.

Jika kita menyisir sejarah Islam awal, sesungguhnya akan kita temukan bagaimana Rasul begitu menghargai mereka yang berbeda. Bahkan pada Nasrani sekalipun.

Dalam buku-buku sirah disebutkan hubungan Nabi Muhammad dan umat Islam dengan komunitas Kristen sangat harmonis dan saling melindungi. Bahkan yang sejak awal mengakui potensi kenabian Muhammad belia adalah seorang pendeta Kristen.

Saya ingat, suatu ketika almarhum Kyai saya Kyai Muslih albaroni, Jenes pernah berkisah pada saya, suatu ketika kaum Kristen Najran datang menemui Nabi, mereka berasal dari wilayah bagian Bizantium. Ada enam orang dan diterima nabi di Masjid Nabawi.

Tujuan mereka menemui nabi adalah untuk membuat perjanjian dengan nabi. Nabi begitu menghormati mereka. Bahkan ketika waktu kebaktian tiba, nabi mengizinkan mereka melaksanakannya di dalam masjid dengan menghadap ke timur.

Selama di Madinah, mereka tinggal bersama nabi di Masjid Nabawi dan memberi perlindungan bagi para pengikut Kristen Najran tersebut.

Teladan toleransi dari Rasul ini yang disebut Akhlaq. Bagaimana kita akan berani berdiri tegak dan mengaku umatnya jika meneladani sikapnya saja tidak mampu? Kita jadi mesin pembunuh yang berbeda...

Arggggh Sri Lanka dukaku untukmu...

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Wednesday, April 24, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: