Duka Paramedis Akibat Jahatnya Kita?

ilustrasi

Oleh : Johan Wahyudi

"Mas, makasih support untuk teman-teman paramedis, ya. Jarang banget kita dihargai. Justru sering kali kita jadi tertuduh jika ada pasien yang positif" cerita teman yang jadi perawat di sebuah rumah sakit.

"Kita itu tugasnya merawat pasien. Entah positif Covid-19 atau pun pasien biasa. Bedanya di bangsal dan jenis APD yang dikenakan. Kita tahu seorang pasien positif Corona setelah hasil SWAB keluar. Sebelum itu, hanya berdasarkan hasil rapid test. Reaktif atau tidak. Kalau reaktif ya diisolasi dulu sambil nunggu keluarnya hasil test swab. Sambil menunggu hasil test swab keluar, kita merawat juga pasien-pasien lain. Bedanya di APD" lanjutnya bercerita.

"Sewaktu merawat pasien biasa, ternyata test swab pasien yang diisolasi berdasarkan rapid test menunjukkan positif Covid-19. La kita jadi tertuduh. Salah kita dimana coba. Kita sudah bekerja sesuai SOP, toh masih ada juga yang nyalain kita-kita" ujar dia dengan thumb sedih.

"Ini tadi saya barusan antar pasien post operasi. Meskipun bukan pasien Covid-19, saya tetap pakai masker N95 dan dobel masker bedah. Jaga-jaga biar gak kontak erat. Kan kita nggak tahu, dia itu carrier atau bukan. Demi ketenangan pasien juga" tambahnya lagi.

"Situasi di lapangan lebih berat lagi. Lebih tegang. Pernah terjadi, ada pasien rapid negatif, tapi ternyata swab positif. Padahal dia dirawat di bangsal biasa. Bisa dibayangkan, betapa cemas dan bingungnya teman-teman perawat" katanya kemudian.

"Sebagai orang yang bekerja di garda terdepan, kitalah orang yang pertama bersentuhan dengan semua pasien. Jadi, betapa beratnya dan bahayanya pekerjaan kita sebagai frontliner perawatan pasien Covid-19. Doakan aku dan teman-teman ya, Mas. Tulisan-tulisan Mas sangat membesarkan semangat kami. Terima kasih" tulisnya menutup obrolan.

....

Itulah cerita teman yang jadi perawat di sebuah rumah sakit. Beberapa menu lalu. Saya biarkan ia ngomong sepuasnya. Tak banyak saya balas pesannya. Sepertinya ia memang butuh teman yang bisa menerima semua ceritanya sebagai petugas terdepan. Sebuah ratapan mereka yang bertaruh nyawa dengan risiko yang sedemikian tinggi.

Jahatnya kita adalah, ada orang yang berani bilang Corona sebagai konspirasi biar rumah sakit dapat duit banyak. Biar dokter dan perawat dapat insentif banyak. Biar pabrik obat laku produknya. Dan kita yang sadar itu hoaks, tapi tak melakukan apapun untuk mencegahnya.

Tatkala masih ada orang yang berani bilang Covid-19 adalah sebuah rekayasa, itu sangat menyakitkan hati para dokter dan paramedis. Mereka merasakan betul beratnya tugas di lapangan dan tingginya risiko yang didapat. Sudah ratusan dokter dan tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat tertular Corona. Apakah semua itu tak bisa menyadarkan pikiran negatif itu?

Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi

Saturday, September 12, 2020 - 18:45
Kategori Rubrik: