Duka dan Kebencian

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Banyak teman yang kesel karena kebencian orang2 tertentu nggak juga cair meski Pak Jokowi kehilangan ibundanya. Serasa tidak ada empati. Tidak bisa membedakan urusan kemanusiaan dan politik. Sedihnya lagi ucapan2 bernada benci itu sering disertai dengan asesori agama. Sepertinya dengan itu mereka sudah melakukan jihad.

Walah nggak usah dipikir...kebaikan seseorang tidak akan berkurang karena ada yang benci, tidak akan pudar karena tidak dihargai. Kabarnya nabi pun dimusuhi kok. Apalagi cuma seorang presiden yang tidak mendapat legalitas langit, sudah wajar banyak yang benci.
Ibarat tanaman buah yang subur, kanan kirinya ada rumput, wajarlah. Kita lebih baik jadi buah daripada jadi rumput. lebih bermanfaat.

Di WAG group pimpinan PTN seindonesia sangat ramai para rektor mengucapkan belasungkawa atas kepergian ibunda Jokowi.
Saya masih lega. Tapi seorang teman mengatakan hingga tadi malam jam 18.45, 5 group pengajiannya belum satu pun yang upload berita kematian ibunda Jokowi dan ucapan belasungkawa....Agak ironi. Group2 tanpa label agama justru menunjukkan empati tinggi terhadap berita duka...Jadi bertanya2: apa yang diajarkan dan dibahas setiap hari dalam kelompok2 itu?

Eee..saya juga kesel sebenarnya..tapi lupakan saja. Nanti kesel lawan benci kan sama saja? Mungkin mereka begitu hanya di medsos dan karena tidak mengenal secara pribadi. Saya yakin kalau ketemu langsung mereka pasti orang2 baik.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Thursday, March 26, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: