Duaribu Rupiah dari Ayah

 
Oleh: Freedy Van Der Pundulay
Sungguh saya sebenarnya tidak ingin menulis kisah ini, sebuah realita hidup yg sangat pahit bila kita di posisi mereka. Kawan kawan ku. Lebih sebulan yg lalu, saya membeli 20 unit smartphone, dan 10 hari yg lalu saya menambah pembelian 25 unit, Untuk apa smartphone sebanyak itu?
 
Nadiem.. Kita beruntung lahir sebagai anak yg tidak kekurangan ekonomi. Begitu juga dengan anda. Saya bersekolah di paris beatrixe dan anda lulusan US Sana. Sama.. Kita cukup beruntung terlahir dgn segala kecukupan.
Kekinian. Oh iya. Saya tinggal dibekasi, disalah satu perumahan yg cukup nyaman. Tidak terlalu jauh dari daerah bantar gebang.
Ada yg tau bantar gebang? Sampah? Aroma busuk? Pencari rongsokan? Anak anak marjinal? Kemiskinan?.
Apa kita tidak kenal itu semua!
Pagi ini. Jam 08:17 wib Seorang remaja yg mustinya bersekolah daring, datang dgn pakaian lusuh, karung besar t4 botol plastik. Dgn tertegun berucap "om. Ini hp yg kemaren om kasih buat belajar, kata bapak, suruh balikin sama om, bapak gak ada uang buat beli paket belajar. Gak usah sekolah lagi, kata bapak". Dia menangis dalam tundukan itu. Nafas saya tercekat. Kadang program negara ini sangat tidak mempertimbangkan ekonomi dan keadaan sosial yg menyeluruh.
Kita melihat papua. Dari jakarta. Hanya sebatas pandangan imajiner. Realnya kita tak tahu.
Kita mengukur baju anak orang di pedasaan dan pinggiran dgn badan anak kita yg tiap hari makan makanan penuh gizi.
Kita mengukur standart merk sepatu anak anak desa dgn merk sepatu yg kita gunakan.
Kita.. Menjadikan diri kita sebagai standart minimal untuk orang lain.
Baik pendapatan..
Baik pekerjaan.
Baik ekonomi.
Baik sosial kehidupan.
Realitanya bagaimana?
Jutaan anak di negara ini. Terlahir dari keluarga di bawah garis kemiskinan.
Tepat 3 hari menjelang lebaran adha, saya berangkat menuju subang dan sumedang. Para orang tua yg pernah saya temui kembali menelpon.
Saya datang. Saya temui mereka. Saya tidur di rumah rumah mereka. Ikut makan nasi aking yg mereka makan. Ikut merasakan beratnya jadi mereka. Segala kekurangan.
Di sumedang sana. Saya bertemu adik adik kita calon pemimpin generasi penerus nantinya.
Rumahnya hanya rumah biasa pedesaan. Bambu anyaman jadi dinding. Atap rumahnya sudah di tambal belasan jenis plastik. Miris.
Malam harinya. 7 teman rian (anak pemilik rumah) datang. Mereka berlajar di dalam rumah yg sempit itu. Belajar daring. Satu hp untuk delapan siswa. Kawan kawan rian tidak memiliki smartphone. Hanya rian yg punya. Itupun pemberian riki seprianto setahun lebih yg lalu. Ayahnya hanya buruh harian. Mengolah ubi kayu jadi kecimpring di salah satu rumah desa sebelah. Ibunya bekerja di pengepul barang ronsokan. Serta neneknya yg usia renta masih bekerja yg sama dgn ibunya.
Tak terbayangkan bagi saya awalnya. Apa yg saya temui. Kedatangan saya tentu sebagai pengganti riki dalam hal ini. Riki menghabiskan hidupnya dgn kegiatan sosial. Dari aceh langsa sana. Hingga tiom puncak jaya.
Kemudian saat saya duduk bersama mereka. Bersama 8 tetangga rumah itu. Bapak bapak disana mengeluh. Ibu ibu mengeluh.
"udah 3 bulan gak ada pekerjaan, pabrik pada tutup, hutang banyak jadinya bang, mana anak anak sekolah pakai hp. Tiap bentar minta duit beli paket. Kadang emosi sama anak kita jadinya bang, lieur"!.
Apa jadinya anak anak didik kita? Bagaimana nasib para orang tua mereka. Yg sudah susah di persusah lagi dgn program belajar online?.
Belajar daring itu bagus, memacu sistem pendidikan kita lebih maju, lebih dekat dengan tekhnologi. Kian berkembang dri ketertinggalan.
Namun sudah siapkah kita?. Sudah mempertimbangkan aspek lainkah kita? Aspek ekonomi warga? Aspek pendidikan pendampingan? Aspek pemahaman orang tua murid? Dan aspek ketersedian kebutuhan program belajar online itu sendiri?!.
Apa yg terjadi..
Nadiem..Disana saya mendengar jerit siswa dan orang tuanya. Mereka tidak menolak program belajar online. Namun mereka menjerit kalaulah duit gaji sebagai buruh lepas hanya 60 ribu rupiah habis untuj paket data belajar. Esok mereka tidak makan sekeluarga. Ini masa masa sulit. Jutaan warga kehilangan penghasilan. Dan di tuntut untuk memenuhi kebutuhan belajar anak nya. Mau kita apakan orang tua murid itu sebenarnya?
Mereka sudah lelah menjadi miskin. Mereka sudah lelah bekerja keras. Menjemur badan di terik siang. Untuk sesuap nasi. Kenapa kita tidak sama sama berfikir untuk melihat ulang. Ada yg keliru dalam perjalanan program itu.
Nadiem.. Menunduklah, mari sama sama kita dengarkan jeritan orang tua murid ttg anak ku menumpang untuk belajar di gubuk tetangga. Ttg orang tua murid yg patungan 2 ribu rupiah tiap hari untuk paket belajar anak anaknya.
Untukmu. Untuk kita. Untuk Indonesia masa depan.
(Sumber: Facebook Freedy Van Der Pundulay)
Sunday, August 9, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: