Dua Revolusi Besar Indonesia Menurut Saya

ilustrasi

Oleh : Rijal Mumazziq

Untuk sementara, bagi saya, revolusi di Indonesia terjadi dua kali. Pertama, saat Rhoma Irama menggeret melodi gitar ala Led Zeppelin dan Deep Purple ke dalam instrumentalia dangdut gubahan dirinya. Saat itu pula, dangdut mulai berubah lebih elegan dan pada titik yang sama Rhoma memproklamirkan diri sebagai raja. Dia tak tergantikan. Musiknya mengabadi. Dia bukan hanya berpengaruh pada selera dangdut khalayak ramai, tapi juga memberi pengaruh besar pada keberadaan para pemusik nasional maupun dangdut strata bawah. Para epigonnya meniru Rhoma nyaris setiap incinya: suaranya, rambut, janggut, nada bicara dan penampilannya. Bahkan, ada grup musik The Rhompal alias Rhoma Palsu yang personilnya menjadi epigon sang raja dangdut itu. Tapi satu hal yang tidak bisa dijiplak dari sang raja: seleranya terhadap kaum hawa. Di sini, setuju atau tidak, dia adalah cassanova. Hahaha. Ini revolusi yang terjadi dan berpengaruh besar pada jagat permusikan sampai hari ini.

Revolusi kedua, bagi saya, terjadi di sektor perkeretaapian. Di tangan Ignasius Jonan, PT KAI melakukan perubahan radikal: stasiun yang bersih dan berwibawa, gerbong yang manusiawi, aturan larangan merokok di gerbong, ketegasan Polsuska dan kondektur (tukang catut karcis KA apa namanya ya?), sampai meningkatnya kesejahteraan pegawai KA.

Pada awalnya, Jonan mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat kecil: para pedagang yang biasanya mengais rezeki di dalam gerbong, para PKL yang menempel di stasiun, pengamen dll. Semua disingkirkan Jonan yang juga dengan sengaja mengundang ritel waralaba masuk stasiun. Tanah-tanah milik PT. KAI, yang dulu disewakan oknum kepada warga, dilacak dan ditegaskan kembali secara hukum.

Konsekwensinya Jonan dikritik karena mengabaikan prinsip KA sebagai kendaraan massal rakyat kecil. Dia cuek sambil terus membenahi sistem dan aspek manusiawinya. Mereka yang selama ini secara ilegal memungut "ghanimah" dari penumpang maupun warga, meronta akibat "jatah preman"nya berhenti.

Sistem booking online yang praktis, harga tiket yang naik tapi disesuaikan dengan kenyamanan pengguna, serta ketegasan dan keramahan para petugas adalah salah satu hasil dari revolusi ini. Efek lain, antrian yang tertib, petugas yang ramah, dan berkurangnya calo. Soal laba, PT KAI saban tahun menghasilkan setengah triliun rupiah dan menjadi salah satu BUMN tersehat.

Jonan menggerakkan perubahan sebagai direktur PT KAI. Ini positif dan keren. Kereta api menjadi nyaman dan manusiawi. Saya kira dua aspek terakhir ini yang membuat orang tak lagi memandang remeh KA. Ketika sudah dipandang terhormat maka orang akan memperlakukannya dengan segan. Dulu, gerbong ekonomi dikenal sebagai gerbong paling brengsek dan tidak manusiawi. Akibat kebobrokan sistem manajerial, nyaris tidak ditemui pembaruan gerbong. 
Sistem pertiketan yang kacau akhirnya juga membuat kelas ekonomi menjadi gerbong kumuh yang selalu over kapasitas. Anda tahu sendiri-lah bagaimana kondisi saat itu. Benar benar kereta api kelas domba.

Saking tidak berwibawanya, gerbong ini selalu menjadi target para suporter sepakbola yang ingin transportasi gratisan. Apesnya, saat bentrok suporter bola dan penduduk, gerbong KA selalu jadi korban. Ringsek dan penyok, kaca pecah, dan vandalisme menimpa gerbong-gerbong ini. Kenapa bisa terjadi? Karena tidak ada sentuhan manusiawi di dalamnya. Tidak percaya? Kita cek peristiwa saat ribuan bonekmania tret tret tret menuju Jakarta, tahun 2016.

Jika beberapa tahun silam mereka menimbulkan kericuhan yang berkaitan dengan KA, kini mereka berangkat-pulang dengan tertib, dan....membayar tiket! Secara khusus PT KAI juga menyediakan gerbong bagi ribuan pendukung Persebaya ini. Mengapa bisa terjadi? Saya menilai karena sentuhan manusia itu tadi. KA dikelola apik, penumpang pun puas dan segan saat mau merusak. Ini persis di toilet mal maupun terminal. Jika dikelola dengan bersih maka penggunanya juga enggan mencoret-coret temboknya.

Saya kira untuk menimbulkan gelembung revolusi di bidang lainnya, solusinya terletak pada aspek pelayanan yang manusiawi. Jika masih amburadul, sampai kapanpun tidak akan bisa maju. Sebab letak ketidakberhasilan kita mengelola semua potensi sumberdaya itu bukan terletak pada ketidakmampuan kita. Sebab banyak orang pintar di negeri ini. Kegagalan kita karena kurang serius. Itu saja. Nggak percaya? Ketika KPM, maskapai pelayaran milik Belanda dinasionalisasi dengan heroik pertengahan era 1950-an, mereka meninggalkan jaringan kuat di pelabuhan kecil-besar yang telah terkoneksi di seluruh nusantara.

Tapi heroisme itu hanya menjadi pepesan kosong saat pengganti KPM, yaitu PT. PELNI, tidak mampu dan tidak serius menjaga jaringan besar ini. Berbagai pelabuhan yang telah menjadi penopang tradisi maritim-niaga selama ratusan tahun kemudian ambruk satu per satu. Semua terjadi bukan karena kualitas SDM kita yang nggak mumpuni, melainkan karena ketidakseriusan saja.

Serius sedikit saja, sebagaimana yang dicontohkan Jonan via KAI, insyAllah ada riak riak revolusi kecil yang bisa dirasakan rakyat kecil. Jadi, nggak usah muluk-muluk mengangankan revolusi nostalgik-romantis ala kaum kiri. Sebab, saat ini kaum kiri sudah diabadikan dalam revolusi angkot, "Mas...kiri, mas. Stop! Kiri, turun sini."

All iz well...all iz well.

Terimakasih Pak Ignasius Jonru, eh Jonan.

Sumber : Status Facebook Rijal mumazziq z

Thursday, June 13, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: