Dua Maestro

ilustrasi

Oleh : Nezar Patria

Saya melewatkan satu momen penting semalam ketika dua legenda musik dari dua aliran bertemu di sebuah acara ulang tahun stasiun televisi Indosiar. Keduanya tampil, dan mungkin melakukan duet pertama kali dalam sejarah karir musik mereka berdua, pada sebuah acara yang disiarkan live dari JCC Senayan; Iwan Fals, dewa musik balada, dan Rhoma Irama, raja dangdut yang pernah dijuluki superstar dari Asia oleh Majalah Time.

Meski terlewat menyaksikan tayangan langsung itu, saya berterima kasih kepada mereka yang mengunggah klip tak resmi penampilan keduanya di Youtube, dan mengisi pagi saya dengan beberapa potong lagu dari dua maestro. Keduanya bertemu dalam duet yang layak ditonton, setidaknya oleh para pengagumnya. Di pentas itu keduanya saling menyanyikan hits dengan gaya khas masing-masing; Iwan dan Rhoma memetik gitar dengan penuh rasa persahabatan, dan kita melihat mereka saling menyimpan kekaguman.

Iwan Fals, tampil berjaket dan bertopi, tubuhnya tampak lebih besar dari Bang Rhoma, yang malam itu tampil necis dengan stelan jas putih. Iwan menyanyikan lagu hits milik Rhoma yang populer sepanjang masa, yaitu “Mirasantika”, “Santai” dan “Judi”, dengan gaya suaranya yang khas dan jauh dari cengkok dangdut. Rhoma sesekali membayangi dengan masuk pada bagian-bagian tertentu, yang membuat kita sadar bahwa Iwan sedang menyanyikan lagu dangdut, dan bukan balada.

Iwan memang tak pernah berhenti memancarkan pesona. Musiknya sejak lama mengisi relung hati terdalam anak-anak muda yang dibungkam di republik ini di bawah Orde Baru. Dia adalah “juru bicara” generasi yang anti cengeng, dia berceloteh dari soal cinta sampai dengan protes sosial. Maka ketika lagunya “Buku Ini Aku Pinjam” dinyanyikan oleh Rhoma, para pengagumnya larut penuh keharuan masa cinta platonik gaya SMA, yang kelak di masa mereka menjadi mahasiswa, sikap kritisnya dipertajam dengan lagu “Bongkar”, yang juga malam itu dinyanyikan dengan apik oleh Bang Rhoma.

Keduanya, baik Rhoma dan Iwan adalah juru bicara dari sebuah masa di mana seruan moral buat melawan sesuatu yang tak patut, atau tak adil, menjadi energi yang tak habis-habisnya. Ini memang kekuatan lagu, dan juga kata-kata, yang membuat manusia percaya bahwa ada hidup yang lebih baik, dan itu layak untuk diperjuangkan. Lirik lagu mereka memberikan tenaga, dan melodi mengabadikannya.

Pada akhir duet, Rhoma memberikan kejutan buat Iwan. Dia menghadiahkan sebuah gitar, dan Iwan betul-betul kaget dengan hadiah itu, sehingga matanya berkaca-kaca, tapi Iwan yang selalu mencoba tidak cengeng itu berkelit sambil bercanda bahwa ia “berkacamata, dan bukan berkaca-kaca”. Kita semua tahu Iwan menerimanya dengan haru, dan dengan spontan dia memohon kepada Bang Rhoma untuk mau mampir ke rumahnya. Di sebelah rumahnya, di Bogor, ada masjid, dan dia minta Bang Rhoma sudi untuk mampir dan menjadi imam di sana. “Insya Allah”, kata Rhoma, dan Iwan menyalaminya seperti hendak memeluk erat “Bang Haji”, panggilan akrab Rhoma.

Kedua orang hebat ini, dengan kekuatan dan juga kelemahannya, bagi saya, telah memberikan sesuatu dalam hidupnya bagi sesama lewat kesenian yang menghibur dan menghidupkan semangat. Mereka telah mengisi jagad batin sebuah generasi, dan mungkin juga generasi selanjutnya, yang dengan cinta terus menerus bertarung untuk “menjadi Indonesia”.

Sumber : Status Facebook Nezar Patria

Monday, January 13, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: