Dua Kisah Menggugah Hati

ilustrasi

Oleh : Edi AH Iyubenu

(Ini adalah satu bagian yang saya dedahkan dalam buku baru saya yang insya Allah akan terbit pertengahan Desember 2018, “Islamku, Islammu, Islam Kita: Damai dan Salam Buat Kita Semua”).

Hasrat menyeragamkan pemahaman dan amaliah umat Islam jelas hanya akan memicu masalah dan konflik di tengah khittah keragamannya seperti di negeri kita ini. Telah berkali-kali saya tuliskan bahwa janganlah niat baik kita untuk berdakwah –tentunya sesuai dengan bangunan pemahaman dan amaliah kita—kepada khalayak luas menyebabkan kita sampai terjatuh pada “perpecahan, perselisihan, dan permusuhan.” Ini batas final adab dakwah yang harus selalu kita genggam dan kedepankan.

Berikutnya, kita mestinya mudah memahami dan menerima bahwa keragaman adalah sunnatullah. Sudah menjadi kehendak Allah. Ayat dan hadits tentang hal ini amatlah banyak. Begitupun tuturan para ulama luhur sebelum kita. Usaha membalik sunnatullah kamajemukan ini setimbang negatifnya dengan gelegar ambisi hawa nafsu untuk menyatakan paham dan amaliah diri sebagai yang paling benar, paling baik, paling sesuai tuntunan Rasulullah Saw, dan bahkan paling sesuai dengan maksud dan kehendak Allah Swt. Sungguh sikap berislam yang jauh dari keadaban, kerendahan hati, dan keteladanan Rasulullah Saw.

Baiklah, di sini saya akan nukilkan dua riwayat berharga untuk meneguhkan pemahaman kita akan sunnatullah kamajemukan pemahaman dan amaliah umat Islam.

Pertama, Imam Ibnu Qutaibah (w. 276 H) dalam kitabnya ‘Uyun al-Akbar menuturkan: Khalifah Al-Ma’mun bertanya kepada seseorang yang berpindah agama ke Nashrani dari Islam perihal alasannya. Orang itu berkata: “Saya tidak suka dengan banyaknya perbedaan pendapat di antara Anda sendiri.”

Khalifah Al-Ma’mun lalu berkata: “Kami (Islam) memiliki dua macam ikhtilaf (perbedaan pendapat). Yang pertama adalah ikhtilaf seperti dalam masalah adzan, takbir dalam shalat jenazah, tasyahud, shalat ‘Id, takbir pada hari tasyriq, macam-macam bacaan al-Qur’an hingga macam-macam fatwa. Semua itu sesungguhnya bukanlah ikhtilaf, tapi hakikatnya adalah pilihan, kelonggaran, serta keringanan dari kesulitan. Siapa yang beradzan dua-dua dan beriqamah dua-dua, maka ia tidak boleh menyalahkan mereka yang beradzan satu dan beriqamah satu. Keduanya tidak boleh saling memaki dan mencela.

Ikhtilaf kedua ialah ikhtilaf kami dalam menafsirkan tentang ayat al-Qur’an dan menjelaskan hadits. Namun kami semua sepakat terhadap redaksi ayat dan hadits. Jika memang inilah sumber ketidaksukaanmu, tentunya seluruh teks yang terdapat dan kitab Taurat dan Injil semestinya juga harus disepakati penafsirannya. Secara tunggal. Jika tidak boleh terjadi perbedaan pendapat di kalangan kaum Yahudi dan Nashrani dalam hal penafsiran, semestinya kamu tidak merujuk kecuali kepada sebuah bahasa (redaksi) yang tidak bisa diperbedakan sama sekali penafsirannya.

Sendainya Allah Swt berkehendak untuk menurunkan kitab-kitab dan menjadikan ucapan-ucapan para para NabiNya berserta para pewaris mereka untuk tidak membutuhkan penafsiran lagi, niscaya Allah Swt sangat kuasa untuk melakukannya.

Tapi kita tak pernah menemukan satu pun dari urusan agama dan dunia ini yang diserahkan kepada kita dalam keadaan matang (langsung jadi tanpa perlu pemikiran, penafsiran, lagi). Nyatanya, tidak dengan cara demikian Allah Swt membangun dunia ini.”

Lelaki itu terdiam dan kemudian bersyahadat.

Kedua, Syekh Muhammad Awwamah sedang mengajar materi Tarikh Tasyri’ al-Islami di tahun 1390 H.

Seorang muridnya bertanya, “Bagaimanakah pendapat Anda tentang usaha menyatukan mazhab-mazhab serta mendorong seluruh manusia untuk mengikuti satu mazhab saja?”

Syekah Awwamah menjawab: “Usaha tersebut melawan kehendak Allah Swt di dalam syariatNya dan melawan RasulNya, para sahabat, generasi salaf setelah mereka, serta bertentangan dengan akal sehat. Bukankah Allah Swt telah mengetahui sejak zaman asali bahwa bangsa Arab akan menggunakan lafal qur’un untuk dua makna, yaitu haid dan suci?”

Sang murid menjawab, “Iya.”

Syekh Awwamah berkata, “Bukankah Allah Swt telah mengetahui sejak zaman asali bahwa akan ada seorang sahabat Rasul Saw bernama Zaid bin Tsabit dan ada sahabat satunya lagi bernama Abdullah bin Mas’ud? Dan Zaid akan mengatakan bahwa makna lafal qur’un adalah suci, sementara Abdullah akan berbeda dengannya dengan mengatakan bahwa makna lafal qur’un adalah haid?”

Sang murid menjawab, “Iya.”

Syekh Awwamah melanjutkan, “Jika demikian, kenapa Allah Swt tidak menurunkan saja ayat tsalatsatu quru’in dengan model redaksi yang tidak memungkinkan bagi timbulnya perbedaan antara Zaid dan Abdullah, sehingga Allah Swt bisa mengatakan tsalatsatu haidhin atau tsalatsatu athharin saja? Dengan demikian, pasti tertutup semua perbedaan dan tidak menyisakan kesempatan untuk berpendapat lain. Hal ini silakan kamu terapkan terhadap seluruh ayat al-Qur’an yang menimbulkan beberapa perbedaan pemahaman.”

“Begitupun perihal hadits-hadits Nabi Saw,” lanjut Syekh Awwamah, “Kita meyakininya bahwa itu semua adalah wahyu dari Allah Swt. Maka mengapa Allah Yang Maha Tahu lagi Maha Mengerti tidak mewahyukan saja kepada Rasulullah Saw agar menyabdakan hadits-hadits beliau dengan memakai lafal yang tidak memberi peluang kepada para sahabat beliau untuk berbeda pendapat?”

Lalu Syekh Awwamah menukil sebuah hadits tentang perbedaan pendapat menjalankan wahtu shalat ‘Ashar di antara para sahabat dalam perjalanan mereka menuju Bani Quraidhah. Yang satu kelompok sahabat memutuskan shalat ‘Ashar di tengah jalan karena telah tiba waktu ‘Ashar, satu kelompok sahabat lainnya memutuskan mematuhi mutlak perintah Rasulullah Saw agar mereka menjalankan shalat ‘Ashar setelah tiba di perkampungan Bani Quraidhah. Ketika kedua praktik berbeda itu dituturkan kepada Rasulullag Saw, beliau yang agung tak menyalahkan salah satunya. Beliau mengesahkan keduanya.

“Apakah para sahabat dan generasi setelah mereka berbeda pendapat ataukah tidak?” tanya Syekah Awwamah kemudian.

Sang murid menjawab, “Iya, berbeda pendapat.”

“Lalu apakah pikiran manusia itu berbeda-beda?”

Sang murid menjawab, “Iya, berbeda-beda.”

“Dan apakah perbedaan pemikiran itu terjdi lantaran di dalam kehidupan manusia ini memang terdapat faktor-faktor yang mengharuskan terjadinya perbedaan tersebut ataukah tidak?”

(Maksud “faktor-faktor” di sini ialah kondisi dan masa yang melingkupi kehidupan setiap kelompom atau umat, yang khas, tak bisa disamaratakan, seperti faktor lingkungan, alam, realitas, pemikiran, budaya, adat, dan sebagainya. Sebut misal faktor-kaftor khas Jogja tidaklah sama dengan faktor-faktor khas Jeddah).

Sang murid menjawab, “Iya, terjadi lantaran terdapat faktor-faktor yang mengharuskan perbedaan-perbedaan tersebut.”

“Dengan demikian, sangat jelas bahwa usaha menyatukan mazhab-mazhab serta mendorong seluruh manusia untuk mengikuti satu mazhab saja adalah sebuah kekacauan.”

Dua riwayat menggetarkan hati ini saya nukil dari paparan Abu Abbas Zain Musthofa al-Basuruwani, yang merujuk kepada kitab Adab al-Ikhtilaf karya Syekh Muhammad Awwamah.

***

Btw, buku setebal 150 halaman ini tidak diperjual-belikan.

Karena amat banyaknya minat teman-teman untuk memiliki buku yang tidak saya jual, tapi pula tidak saya gratiskan ini, Anda hanya mengganti biaya produksinya sebesar Rp. 10.000/eks, serta adanya beberapa masukan dari sejumlah kawan dekat demi makin sebarnya kandungan buku “Islam yang ramah atas kemajemukannya” ini, saya memutuskan TIDAK MEMBATASI kebutuhan Anda kepada buku ini.

Alasan utama saya tidak menggratiskan buku ini ialah untuk menghantar buku ini hanya kepada Anda yang benar-benar ingin membaca dan memilikinya. Dengan usaha Anda “membayar” Rp. 10.000/eks, insya Allah Anda telah membuktikan bahwa Anda benar-benar ingin membaca dan memilikinya. Tentunya beda dengan gratisan murni yang boleh jadi hanya karena keisengan semata, ya.

Jadi, silakan saja jika Anda membutuhkan buku ini dalam jumlah berapa pun (bisa satuan, sedikit, atau banyak), mungkin bisa dijadikan hadiah untuk kerabat, sahabat, atau jamaah ngajinya, hubungi hanya wasap Imam Suog di 08562345887.

Pesanan Anda akan didata, dirincikan, dan dilayani, lalu akan mulai dikirimkan pertengahan Desember 2018. Insya Allah semua pesanan akan dipenuhi, hanya mohon bersabar. Stok awal saya siapkan 5.000 eksemplar.

Mohon dibantu share, ya, agar informasi ini makin tersebar luas. Semoga jadi amal jariyah buat kita semua. Amin.

Sumber : Status Facebook Edi AH Iyubenu

 

Friday, July 3, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: