Dua Garis Biru Nan Sarat Makna

ilustrasi

Oleh : Prahastiwi Utari

Menepati janji sore ini dgn aiko nonton Dua Garis Biru...ada beberapa hal mengapa saya berpikiran perlu nonton film ini.
1. Literasi pada ibu ibu, guru guru yg sdh minir bin nyinyir duluan dengan stereotype film ini nggak pantas ditonton, merusak moral dll. Seminggu ini berseliweran tagar penolakan dan warning guru pada murid (khususnya murid perempuan) say no to this film. Sudahkah buk ibu atau ru guru nonton filmya? Belum? Kog komen duluan. Never jugde the book from its cover... Dari pertama film diputar scene ganti scene saya tidak melihat adanya adegan syur..

Jd jangan piktor duluan. Justru anak anak remaja diberikan gambaran kalau mereka salah melangkah akan banyak akibat secara fisik dan psikis muncul berurutan. Bagaimana kehamilan pada anak anak usia muda membawa bahaya krn tubuh yg belum siap dan sempurna, bagaimana kondisi tubuh berubah pada anak ketika terjadi kehamilan.. Pernah menerangkan pd anak kita scr gamblang buk ibu? Jawabnya never ...bagaimana bisa tidak menjelaskan keluarga terpuruk ketika hal ini terjadi? Cerita doang mah anak nggak akan paham, bagaimana memberikan penjelasan dengannsuatu contoh nyata mengatasi problem "kecelakaan" andai terjadi yg masih memberikan masa depan bagi keduanya... Nggak ada sisi pornogarfi blas buk ibuk ru guru...

2. Ketika ada keingin tahuan anak untuk nonton, tidak perlu dilarang dengan nasihat dakik dakik berbagai dalil.. Anak anak abg butuh tindak langsung. It's time buat ortu melakukan pendampingan..*parental guiding/PG* memberi penjelasan pada anak ketika menonton, apa yg mereka tidak tahu. Waktu yg sangat tepat.... Satu contoh ketika dalam film ada kondisi rahim yg hrs diangkat..aiko tanya why mesti diangkat, maka saya jelaskan mengapa dan akibatnya bagaimana kelak

... Dia termangu... Saya merasa yakin dia memahami... Tiga kali dalam film saya lihat anak abg saya menyusut air mata... Saya genggam erat tanggannya sebagai bentuk pendampingan saya...diskusi kami ttg isi film ini berlanjut dirumah... Saya bersyukur diberi kesempatan PG pd anak ttd sex education.

3. Dalam perjalanan pulang, aiko ber wa ria dgn temannya.salah satu komen kamu nonton film dgn siapa? Aiko jawab bangga dengan Mama, sang teman komen Mamamu? Wah saya nggak mungkin berani nonton film spt itu dengan keluarga terutama ibu.... Satu contoh kecil PG belum semua keluarga memahami. 

Ok Buk ibuk...ru guru marilah kita membangun mental anak ke masa depan dengan pendampingan dan mengkritisi sesuatu itu berdasarkan data. Jangan menghujat sebuah buku dari sampul/covernya..baca dulu dong isinya.... Baru kasih komentar...

Sumber : Status Facebook Prahastiwi Utari

Thursday, July 18, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: