Dua Ayat Al Qur'an yang Sering Dicampakkan Ketika Bermedsos

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Ada teman yang bertanya apa motivasi saya kenapa all out di gerakan anti hoax. Seringnya saya menjawab bahwa ini adalah investasi bagi anak cucu saya supaya mereka hidup dalam kedamaian di negeri ini, jauh dari saling merusak akibat saling fitnah.

Tapi kemarin saya bercerita lebih kepada teman ini. Bahwa ini juga karena keprihatinan mendalam melihat banyak kawan saya yang dulu sama-sama belajar, sama-sama kuliah, sama-sama mengaji, tapi mendadak menjadi sosok yang tidak pernah saya kenal karena politik membuatnya menjadi brutal dalam bermedsos. Khususnya dalam perkara berita bohong.

Sejarah Islam mencatat bahwa orang Islam pertama-tama yang terkena kabar bohong paling kejam tidak lain tidak bukan adalah 'Aisyah ra istri Nabi SAW yang difitnah berzina dengan Shafwan, salah seorang sahabat. Kabar ini menyeruak hingga' Aisyah jatuh sakit, bahkan ada beberapa orang yang meminta Nabi menceraikan 'Aisyah. Kegalauan Nabi dijawab langsung dengan diturunkan 10 ayat dalam An Nuur yang membebaskan' Aisyah dari tuduhan keji, sekaligus memberikan pondasi yang kuat bagi seorang muslim bagaimana harus berhati-hati jangan sampai ikut menyebarkan berita bohong.

Namun yang terjadi sekarang, tidak hanya gagal mengambil hikmah dari kisah 'Aisyah ra, tapi juga dua Ayat terkait pun praktis seperti diabaikan ketika bermedia sosial.

Yang pertama, adalah ketika menyikapi kabar tidak jelas yang berpotensi fitnah, tetapi jika yang dirugikan adalah pihak yang tidak disukainya, maka ia cenderung menganggap ringan penyebaran berita itu. Apalagi jika kebetulan pihak itu menjadi lawan politiknya. Seolah memfilter berita menjadi sangat tidak penting, karena yang menjadi panglima adalah bagaimana menyerangnya dari segala penjuru. Ia seolah tak peduli dengan ayat yang dulu diturunkan untuk membela 'Aisyah itu, adalah ayat yang melawan perilakunya. Karena yang kita anggap ringan, padahal berat di Sisi-Nya.

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An Nur 15)

Yang kedua, andaikan ia sebenarnya tahu bahwa berita itu adalah berita bohong. Tapi karena berita itu menyangkut orang yang tidak disukainya. Apalagi menjadi lawan politiknya. Maka ia merasa tidak perlu ikut menyangkalnya. Biar sajalah, biar pihak itu rugi, toh aku juga tidak ikut menyebarkan.

Tipe kedua ini sebenarnya juga tengah mengabaikan ayat yang menyatakan bahwa kita tidak boleh diam melihat kedustaan yang mengalir di depan mata kita. Sayangnya tidak sedikit orang yang pengetahuan agamanya baik, pendidikan tinggi, alumni kampus luar negeri yang maju, tapi masuk ke tipe kedua ini.

Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar".(QS An Nur 16)

Sikap seorang muslim haruslah jelas menyikapi kabar yang masih dipertanyakan kebenarannya. Kalau tidak jelas, jangan dishare, apalagi dijadikan bahan tuduhan. Kalaupun benar, tapi tidak ada manfaatnya, juga tidak boleh dishare.

Demikian juga ketika tahu ada informasi bohong di depannya, maka ia harus lantang bersuara. Seperti nasihat dari Gus Mus ketika kawan-kawan kami sowan di kediamannya.

"Sing Waras Ojo Ngalah"

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Thursday, February 15, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: