Drama Biadab Dari Kelompok Tak Punya Hati

Oleh : Rudi S Kamri

Ulasan ini mengandung kata-kata keras, bagi yang berhati lembut saya sarankan tidak membaca postingan ini :

DRAMA BIADAB DARI KELOMPOK MANUSIA BERHATI IBLIS

Mungkin ini pertama kali membuat judul KASAR dan KERAS untuk ulasan saya. Mungkin akan BANYAK kata-kata keras yang akan muncul dalam tulisan ini SAYA MOHON MAAF. Hal ini karena kemarahan saya terhadap ulah RATNA SARUMPAET dan gerombolannya sudah sampai pada level yang tidak bisa saya tolerir lagi dengan akal sehat.

PENIPUAN dan KEBOHONGAN PUBLIK yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dan kawan-kawan menurut saya sudah amat sangat keterlaluan. Dan hal ini semakin mengkonfirmasi KEBUSUKAN HATI yang dimiliki oleh manusia ini. Dari awal saya tidak pernah percaya dengan omongan dan nawaitu dari manusia laknat ini. Melakukan kegaduhan nasional pada saat INDONESIA BERDUKA karena tragedi dan musibah bencana di Lombok, Palu, Donggala dan Sigi adalah tindakan BIADAB dari manusia berhati setan yang tanpa empati.

Pertanyaannya, percayakah kita bahwa ini hanya KEBOHONGAN PERSONAL seorang Ratna Sarumpaet ? Mohon maaf SAYA TIDAK PERCAYA !!!

Keyakinan saya drama kebohongan ini memang didesain sedemikian rupa oleh sekelompok manusia tanpa hati dan empati lawan Jokowi. Tujuannya adalah menciptakan image bahwa Negara ini dianggap gagal memberikan rasa aman kepada warganya dan mereka bermain "PLAYING VICTIMS". Cuma masalahnya karena semuanya diniatkan untuk tujuan yang jahat dan kebetulan penyusun skenario drama biadab ini adalah SEKELOMPOK ORANG DUNGU, hasilnya banyak lobang di sana-sini. Dan akhirnya skenarionya berantakan dan GAGAL TOTAL.

Kelompok orang dungu ini tidak mampu membuat skenario drama yang rapi. Mereka tidak menduga aparat POLRI begitu HEBAT dan PROFESIONAL. Mereka begitu bodoh dan teledor bahwa di Indonesia ada dokter-dokter bedah plastik hebat seperti TOMPI yang mampu membongkar kedok kebohongan kampungan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dan Genk Dungunya.

POLRI harus mengusut tuntas kebohongan massal dan berjamaah yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dan kelompoknya. Tidak cukup Ratna Sarumpaet meminta maaf atau Prabowo dan Kroco-kroconya minta maaf di depan publik. Saya mengusulkan Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rachel Maryam, Dahnil Simanjuntak, Hanum Rais dan kawan-kawan harus diperiksa intensif. Agar bisa menjadi pembelajaran bagi mereka untuk tidak ASAL NJEPLAK dan BEREAKSI KERAS untuk suatu informasi kelas sampah.

Reaksi elite politik di masa kampanye Pilpres dari kelompok MEREKA dari dulu selalu ada muatan pesan kampanye hitam yang kental. Mereka selalu MENCIPTAKAN KERUSUHAN MASSAL lalu mereka akan datang sok bagai pahlawan. Kita tahu persis KELAKUAN BUSUK kelompok ini sejak Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, Pilpres 2014 dan Pilgub DKI Jakarta 2017. Jadi kita tidak usah bereaksi berkepanjangan terhadap ulah mereka. Kita berikan dukungan saja pada pada POLRI untuk mengusut ulah manusia kadal burik ini.

Hal positif yang bisa kita ambil peristiwa tragis ini adalah ini akan menjadi HARI AKHIR dari Ratna Sarumpaet di kancah politik kegaduhan di Indonesia. Dan kita tidak lagi akan diganggu oleh ucapan kebencian dari wanita berumur hampir 70 Tahun. Keuntungan lain adalah kejadian ini memudahkan RAKYAT INDONESIA untuk memilih mana Pemimpin Nasional yang punya pengikut yang santun dan beradab dan mana Calon Pemimpin yang kelompok dan pengikutnya punya tabiat menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, salah satunya dengan cara MERENCANAKAN & MENDESAIN DRAMA KEBOHONGAN.

Saya dulu tidak terlalu percaya ada pernyataan bahwa muka buruk itu merupakan cerminan hati yang busuk. Tapi saat melihat kelakuan Ratna Sarumpaet saya jadi semakin percaya bahwa pernyataan itu benar adanya.

Salam SATU Indonesia

 

Sumber : Facebook Rudi S Kamri

Friday, October 5, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: