DPR Ndesit

Oleh: Iyyas Subiakto
 

Kata-kata Ndeso menjadi viral sejak Kaesang dilaporkan ke Kepolisian karena dianggap " menistakan " sesuatu yg benar menjadi tidak benar, artinya kalimat itu dianggap melecehkan sesuatu atau mengolok-olok. Kalimat ini sudah lama ada dan selalu diidentikkan oleh sesuatu yg tidak nyambung alias nggak nyekrup, tapi biasanya dipakai untuk mengolok dalam suasana santai yg berkesan guyonan, saya sendiri dikantor selalu memakai kalimat ini dalam canda tentang hal yg dibahas, kemudian ada kawan yg menanggapi tapi gak nyambung, jadi konotasi Ndeso lebih kepada pengertian " ketidaknyambungan ", dalam kasus Kaesang saya tidak mau berkomentar karena muatan politiknya kental, tidak usah Kaesang, wong Bapaknya yg presiden sudah bosen dikatai- katai PKI, Kristen, bahkan maaf seorang " jenius " AD saja pernah memaki Anjing dan Babi kepada Pak Jokowi, Ibunya baru saja diolok- olok karena pakai tas Gucci. Yang lucu ternyata sang pelapor kasusnya masih bersarang di Polda Metro ttg ujaran kebencian kepada Kapolda Metro itu sendiri.

Sekarang ini kan lagi ngetrend ujaran kebencian kepada keluarga presiden, kepada KPK, kepada bentuk kebaikan, dari mulut-mulut yg merasa dirinya paling baik, mereka menyerang dengan memakai topeng agama, topeng Tuhan, topeng HAM, dan topeng-topeng lainnya untuk dijadikan tameng bahwa merekalah yg harus berbuat untuk kebaikan, pembelaan, bahkan mereka terlegitimasi untuk berbuat pencemaran atas nama kebaikan. Dia lupa tampang yg ditutup cuma secuil, dia gak sadar bokongnya lebih lebar dari tampangnya, sehingga, saat topeng dipakai, bokongnya dibelai, alay dan lebay melambai-lambai.

 

 

Kalau mencermati esensi Ndeso yg pada intinnya kepada ketidaknyambungan kok saya lebih pas menyerempet hot issue yg ada di gedung parlemen yg paling banyak menghasilkan " ke Ndesoan " pada akhir - akhir ini, diantaranya ; UUD Pemilu yang seharusnya dibahas substansi kemudahan utk mengontrol pelaksanaan serta keamanan dan hasil pemilu yg tidak diselewengkan, malah yg diminta nambah kursi anggota atau ketua DPR. Kita sedang ada gangguan serius ttg teroris dan dibutuhkan UUD terorisme, malah DPR tidak bisa menemukan definisi terorisme itu apa. KPK sedang mengusut mega korupsi E- KTP, bukan membantu malah DPR membuat angket KPK, katanya utk penguatan tapi isinya pembatasan gerak KPK dan bisa berujung pembubaran. Jadi ketidaknyambungan ini malah banyak bermukim dibawah gedung kura-kura itu. Ketidak nyambungan Kaesang karena ditanggapi oleh ketidaknyambungan orang yg berDNA tidak nyambung, bukan Kaesang.

Coba lihat sirkus Senayan sedang tour ke Suka Miskin, mau berdiskusi dgn Yusril dan Romli, kenapa tdk sekalian ngumpulin Margarito, Akil Muchtar, Atut, Ridwan Saidi, dan para haters, sehingga masukannya bisa valid, bahwa koruptor dan proses pembangunan serta cara pemberantasan korupsi di Indonesia nilainya dibawah 3, shg DPR punya alasan mendesak pemerintah membubarkan KPK, ini kan perbuatan yg sia-sia, sehingga INDONESIA sia-sia juga punya parlemen yg kerjanya cuma cari perkara, karena dirinya penuh dengan angkara murka dan sumber malapetaka.

Indonesia ini sedang menghadapi apes sekala dewa, banyak manusia Ndesit pada melejit, Presiden diusilin orang no dua, ada Media yg kerjanya mengadu domba, DPR nya bukan kerja malah sibuk ngurusi dirinya, ada wakil ketua yg partainya tidak ada, membela kolega, ternyata ngerampok sama-sama, nggak ngaku tapi nyata, krn yg ngembalikan sudah ada, sisanya kok bisa tidak ada, teroris dimana-mana katanya pengalihan isu saja, ada yg jelas suara desahannya nyata, malah dibilang kambing bersuara onta, lucu tapi nyata, apakah Indonesia sedang bercanda, apa sdg menuju bangsa yg gila. Tapi jelas kami bukan sejenis yg sama karena kami mau Indonesia yg sebenarnya, bukan yang gila tapi ngaku kesatria.

Terus yg Ndesit itu siapa..ah setengah gila, kata Gombloh..

 

(Sumber: Status Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, July 6, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: