Dosen Sosiologi FISIP-UI Bagi Pengalaman Interaksi dengan Kelompok Islam di Kampus

Oleh : Ida Ruwaida

Heboh tentang kelompok radikal, saya sedikit berbagi pengalaman 'pribadi'..!!

Pada kurun tahun 2000an, kami di Sosio UI sempat beberapa kali menyelenggarakan Research Day, yang bertujuan mendiseminasikan hasil-hasil riset mahasiswa maupun dosen Sosio UI.

Ada yang menarik terjadi, karena belum terjadi sebelumnya, sejumlah wajah asing hadiri kegiatan kami, selain tak familiar wajahnya, juga penampilannya berbeda. Mereka menuliskan di daftar hadir sebagai anggota HTI. Mereka aktif hadir di berbagai sesi. Mereka pun mengaku bukan warga FISIP, atau UI, tapi mengetahui kegiatan tersebut dari mahasiswa kami. Mereka bukan sekedar hadir tapi aktif bertanya, bahkan lebih antusias dari sivitas Sosiologi/FISIP sendiri. Saat itu pengetahuan dan pemahamam saya tentang HTI sangat terbatas. Era itu, tampaknya mereka pun sedang memperkenalkan bahkan mempromosikan organisasinya, khususnya di kampus-kampus.

Satu waktu mereka mengundang LabSosio hadir pada seminar yang mereka selenggarakan di kampus UI, tepatnya di Wisma Makara. Dalam rangka menghargai kehadiran aktif mereka di kegiatan Research Day tsb, maka saya yang saat itu sebagai sekretaris LabSosio memenuhi undangan mereka. Saya amati ruang diskusi di Wisma Makara lt 1 itu penuh. Salah satu panitia mendampingi saya, dan memperkenalkan sejumlah rekannya... "bu.. kenalkan ini Prof.... dari Univ...", "ini... doktor... ahli,...", dst. Pemateri/pemakalah tampaknya dari pihak mereka juga, salah satunya kalau tidak salah sedang ambil S2 studi ketahanan di Pasca UI. Salemba. Isu yang diangkat tentang ketahanan energi. Pemakalah menyampaikan bahwa sistem ekonomi kapitalis (barat) maupun sistem ekonomi sosialis tidak akan bisa memberi jawaban apalagi mensejahterakan ummat, kecuali sistem ekonomi Islam yang disupport dan dijamin oleh sistem pemerintahan yang juga berdasar Al-Qur'an. Pernyataan ini yang membuat saya berkerut kening, dan bertanya dalam hati "adakah contoh keberhasilan di negeri ini yang sudah mereka buat? khususnya dalam sistem ekonomi, sebagaimana komunitas Darul Arqom di Malaysia (yang kemudian juga dibubarkan oleh pemerintah Malaysia). Dalam forum itu, saya hanya "pendengar" alias "penikmat", karena saya tidak kenal audiencenya, meski kurang sreg dengan gagasan pemakalah.

Sesudah acara, panitia menghampiri saya, dan langsung bertanya, bagaimana bu, apakah sependapat dengan gagasan kami? Saya kaget atas pertanyaan tsb, dan saya langsung bilang tampaknya masih banyak yang perlu didiskusikan dan dipertanyakan. Kemudian saya segera pamit.

Sejak itu, mereka rajin sms saya, mengundang ke berbagai kegiatan mereka, juga meminta pendapat ini itu. Saya menolak dengan berbagai alasan. Pada sejumlah sms mereka, saya tidak balas, dan akhirnya membuat mereka surut. Sungguh saya malas berdiskusi, atau berdebat opini, karena mereka memang bukan berniat bertukar pendapat, tapi justru mempromosikan gagasan2nya. Setelah itu, saya menengarai kelompok ini tidak hadir lagi pada kegiatan2 kami, atau mungkin hadir tetapi tidak menuliskan diri sebagai HTI, atau bisa jadi ada perwakilan mereka yang juga sivitas akademik. Bahasa saya, mungkin mereka berbaju lain.

Jujur, saya cenderung menutup diri dari kelompok-kelompok seperti itu, karena sudah punya pengalaman sebelumnya dg klmpk2 sejenis saat SMA dan awal masuk S1. Masih lekat ketika saya baru semester 1, saya langsung direkrut ikut pengajian oleh senior, bagian dari kegiatan mentoring.

Sebagai maba tentu berkegiatan dengan senior menjadi kebutuhan, apalagi iklim kuliah beda dg era SMA. Dalam klmpk pengajian tsb, saya dikondisikan untuk: bisa hijrah pakai jubah (jilbab syar'i di era kini), meski saat itu saya sudah berjilbab; KTP dianggap thagut, bhkn diminta dibakar; Orangtua yang keislamannya diragukan tidak sah menikahkan anaknya sehingga sbaiknya imam mrk yg menikahkan; saya ditanya bersedia dicarikan jodoh n segera menikah lbh baik? perjodohan dalam kelompok gencar dilakukan meski msh kuliah; resepsi nikah harus syar'i dimana pengantin perempuan dan laki-laki dipisah...!! Karena gak sreg, sy mundur.

Lalu saya sempet diajak teman ikut ngaji, yang mana dalam kelompok tersebut diyakini bahwa era siang adalah era (mekkah, atau era djahilyah), sedang era malam adalah era madinah (era islam). Islam dalam kehidupan siang, adalah islam belajar. Islam sesunggunnya di malam hari. Keyakinan itu yang membuat saya gak sreg, karena pemahaman saya, Al-Qur'an sudah turun sepenuhnya, dan secara konteks pun eranya berbeda dengan era perjuangan Rasululloh SAW dalam menegakkan Islam.

Saya mundur lagi dari klmpk ini dengan teratur. Akhirnya saya mensyukuri keputusan tsb, krn ternyata kelompok ini konon bagian dari mereka yang bermimpi mendirikan NII (Negara Islam Indonesia). Bahkan yang memprihatinkan, di tahun 90-an ada bbrp mahasiswa sosio yang terintimidasi ketika mau kluar dari kelompok sejenis ini.

Saat kuliah, saya pun sempat ikut LDKnya HMI, tp HMI pun terpecah krn isu asas tunggal Pancasila. Terbentuk HMI-MPO yang menolak kebijakan negara atas pemberlakuan azas tunggal Pancasila bagi semua ormas. Saya tidak tahu kalau LDK yang saya ikuti itu dr MPO, krn penyelenggara LDK teman kampus hy blg HMI. HMI-MPO itu sibuk mhujat kebijakan negara ttg asas tunggal. Saya yang mau belajar berorganisasi, akhirnya mundur, aplg HMI MPO bkegiatan sembunyi-sembunyi karena statusnya tsb.

Itulah sebagian pengalaman yang saya ingat, dan itu semua terjadi pertengahan 80'an.... 30-an tahun lalu. Semua terjadi di lingkungan kampus. Berdasar kajian LabSosio tahun 2004/2005, kelompok2 pengajian di kampus memang beragam, dan ada yang potensial radikal. Dan sistem mentoring Maba mjd salah satu pintu masuk, sbgmn pengalaman saya. Tampaknya gairah keIslaman yang terbangun di kalangan mhsw (mungkin juga di rohis2), membuat kita lebih 'tenang' dibanding jika mereka beraktivitas yang meresahkan dan dianggap/dicap menyimpang seperti hura-hura, narkoba, seks pra nikah, dan isu terkini ber-orientasi seksual berbeda. Bahkan, ada pejabat/otoritas kampus yg memberi ruang lebar pada k kegiataan dan atau kelompok keagamaan. Saya tidak tahu apakah para elite kampus tsb paham ttg diversitas kelompok keagamaan yang ada, termasuk aliran ideologisnya.

Berbasis pengalaman itulah yang memberi pembelajaran pada saya enggan masuk ke kelompok2 ttt, apalagi pengajian. Pembelajaran penting buat saya adalah TIDAK ikut pengajian rutin (bedah Qur'an dan Hadits) yang saya tidak mengenal baik latar belakang pengajarnya, jaringannya, serta alirannya. Meski teman/tetangga bahkan saudara yang ajak. Sy hy hadiri tablik akbar, atau khotbah2 taraweh, sholat jum'at dll, atau mcari sumber2 bacaan, itupun juga hrs diseleksi. Berdasarkan informasi mhsw saya yg sedang membuat tugas akhir, kelompok radikal masuk menebar pemahamannya menyusup melalui majlis taklim ibu-ibu. Informasi itu bukan hal baru buat saya, karena saya juga mencermatinya. Saat pilkada DKI lalu, saya mendapat video ttg ibu-ibu majlis taklim yang sedang dibai'at (sumpah) untuk pilih pasangan tertentu. Bai'at itu, secara sosiologis, wujud pengendalian kelompok pada anggotanya. Bisa dibayangkan jika ada anggota yang mbalelo, apalgi sudah bersumpah pada Alloh SWT. Sungguh catatan ini tidak bermaksud menggeneralisasi bahwa majlis taklim tersusupi kelompok radikal. Majlis taklim merupakan kelompok srategis dalam upaya perubahwn sosial.

Saya menuliskan ini, agar kita semua tidak mudah memberi pendapat ini itu tanpa berbasis informasi yang cukup memadai dan komprehensif, serta berdimensi historis. Pengalaman saya ini hy secuil informasi di tengah arus yang ada. Bagi saya, pengalaman memang guru yang terbaik, tapi pengetahuan yang komprehensif dan akurat menjadi alat sensor penting dalam bersikap dan bertindak. Sikap rasional tetap dikedepankan, bukan hy emosi keagamaan. Saya tutup catatan ini dengan wallahualam bissawab'. Semoga saya, kita, dan negeri tercinta dibimbing dan dilindungi oleh Yang Maha Penuntun dan Maha Kuasa Atas Segala sesuatu. Aamiin3

#SaveNKRI

#SaveISLAM

#tolakRadikalisme

Sumber : facebook Arif Setiawan Arif

Wednesday, May 10, 2017 - 08:15
Kategori Rubrik: