Dongeng Manusia Tanpa Kemaluan

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Syahdan menurut sahibul bokis sebokis-bokisnya bokis, pada jaman baheula adalah seorang manusia tanpa kemaluan. Eh, tanpa kemaluan atau tapa rasa malu? Ini soal manusia tanpa kemaluan dan tanpa rasa malu sekaligus.

Bagaimana bisa? Namanya juga dongeng. Dongeng hanya bisa disaingi oleh politik. Meski bedanya jelas, dongeng biasanya punya moral, politik tidak. Kesamaan dongeng dan politik, dua-duanya bermain di dunia impresi. Sering sama-sama tak rasional, meski dibungkus nilai-nilai keagungan. Ideologinya sama, yakni memaksa orang percaya bahwa ia membawa nilai-nilai kebenaran.

 

 

Kalau begitu, bukankah bukan tak bermoral, karena moralnya agar orang menjadi baik? Pada dongeng, itu membangun struktur logika saja. Bahwa yang disampaikan penting. Agar orang punya referensi dan memakai sebagai pegangan. Pada politik, yang terpenting orang percaya, dan kemudian mendukung. Namanya politikus, sering tak sesabar dongeng. Buru-buru mendapat hasil.

Karenanya dalam politik ada istilah money politic. Dongeng tak punya istilah money story. Kalau pun ada moneynya, biasanya berupa honor untuk para pendongeng. Tapi dikit. Maka dikit pulalah pendongeng profesional. Kebanyakan amatir. Dan yang paling bahaya, atau sebut tak bermutu, politikus sekaligus pendongeng (atau pendongeng sekaligus politikus) amatiran.

Ini dongeng atau opini sih? Sabar. Ini pengantar. Dongengnya sih pendek. Tersebutlah pada jaman dulu kala tokoh dongeng kita, lelaki tanpa kemaluan. Tiada berpenis. Sejak kapan? Sejak beberapa kolega memujanya sebagai pahlawan. Tiba-tiba kemaluannya hilang. Gruuueeeengngngngng,….!

Sejak itulah, ia kebingungan. Lebih bingung lagi, lubang duburnya perlahan tapi pasti, menutup. Buntet. Kalau cuma sekedar tak bisa kentut, mungkin malah berkah bagi sekitar, karena baunya yang tak karu-karuan. Tapi kalau tak bisa kencing? Tak bisa beol? Benar-benar petaka. Lebih sakit daripada ketahuan ngobrolin sex secara ghaib, terus lari jauh ke negeri orang. Di sebuah tanah suci. Mungkin tanahnya rajin mandi. Kalau tanah males mandi, jadinya tanah kotor.

Karena penderitaannya itu, lelaki tak berpenis pergilah bersama sohibnya, yang ditengarai juga tak berpenis. Mereka bertemu manusia yang sama nasibnya, tidak jantan, karena tak berkemaluan. Tiba-tiba, seperti penyakit menular, dubur para tokoh dongeng ini, sama-sama tertutup.

Dalam sebuah doa ajaib, entahlah apakah karena tuhan malu jika tak mengabulkan, atau karena demikianlah ghalibnya. Hatta, mekanisme untuk buang air seni dan beol, mau tak mau melalui mulut mereka. Itu paling logis, karena lubang kuping dan hidung terlalu kecil.

Dan seperti sudah disebut, ini mengenai tokoh dongeng yang tak punya kemaluan dan tak punya rasa malu. Mereka pun buang air seni dan beol di sembarang tempat. Melalui mulutnya. Herannya, followernya, banyak. Melakukan hal yang sama. Tammat.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Tuesday, June 12, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: