Dongeng Anak Mualaf

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Habis mosting soal muallaf mantan pastor, jadi pengin cerita dongeng masa lalu, di awal tahun 80-an. 

Di Perpustakaan Islam (sebelah selatan kantor koran 'Kedaulatan Rakyat', kini toko Champion), jalan Mangkubumi Yogyakarta, saya pernah berkantor di situ sebagai redaktur pelaksana majalah pengajian anak-anak Taman Melati (majalah yang oleh kalangan Muhammadiyah dituding bau-bau NU, tapi oleh kalangan NU diuduh bau-bau Muhammadiyah). 

 

Di sana saya berteman baik dengan Bardi, mantan petinju pasar malam Sekaten Yogya, yang menjadi bagian distributor majalah. Kerja pokoknya membantu rumah tangga Pak Amien (Mohammad Amien Mansoer, SIP), kepala Perpustaakan Islam yang tinggal di bagian belakang gedung PI.

Sebagai bagian keluarga Pak Amien, Bardi nyambi buka kios di depan perpustakaan. Jualan bensin dan koran. Kiosnya kami tulisi 'Team OPEC'. Pernah sohor, karena djepret wartawan Tempo dan dipajang di majalan yang enak dibacem dan perlu itu. 

Usaha Bardi sungguh sangat pesat. Kamarnya di bagian belakang perpustakaan, mulai berisi barang-barang berharga. Ada televisi, tape-recorder. 

Nah, karena merasa sudah relatif mapan sebagai anggota Team OPEC tadi, Bardi berniat mengangkat anak seorang girli (sebutan anak jalanan di Yogyakarta), yang baru dua hari dipekerjakan sebagai penjaga warung. Kebetulan majalah 'Taman Melati waktu itu membuat aksi pendampingan dan membagikan kotak semir sepatu, untuk anak-anak gelandangan yang mangkal di Stasiun Tugu dan Malioboro. Jadi kami merasa haru atas inisiatif Bardi.

Lhah, hari berikutnya, Bardi mengundang saya dan teman-teman, disaksikan Pak Amien, kumpul di mushalla kantor. Bardi mengumumkan anak asuhnya mau masuk Islam. Kami diminta sebagai saksi untuk pembacaan syahadat sebagai ritual pentahbisan.

Acara sukses, dan ada makan-makan kecil gitu deh. Alkisah, kami sekantor, termasuk keluarga Pak Amien Mansoer, sehari kemudian pergi ke Kaliurang, untuk dua hari raker. Bardi ikut pula, dan tetap jualan karena sudah punya pegawai plus anak angkat itu.

Tak ada yang istimewa kemudian. Kecuali setelah kami pulang dari Kaliurang. Di kantor, Bardi panik, mobat-mabit. Warungnya tutup. Anak angkatnya yang kemarin diislamkan tidak ada. Demikian juga beberapa barang kekayaan Bardi, juga duit dagangan. Lenyap. 

Waktu kami raker di Kaliurang itu, memang tak ada seorang pun yang tinggal di kantor, kecuali anak angkat Bardi. Moral dongeng nyata ini? Nggak ada. Wong manusia pun boleh nggak ada moralnya kok.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Thursday, February 20, 2020 - 07:15
Kategori Rubrik: