Dompet Dhuafa Tak Memenuhi Syarat Offensive Rescue

Oleh: Haryoko S Wirjosoetomo
 

Beredar kabar, team rescue Dompet Dhuafa menjadi korban kekerasan aparat keamanan di Jakarta Pusat. Namun melihat kronologi peristiwanya, saya jadi mempertanyakan kapasitas dan kompetensi "team rescue" Dompet Dhuafa ini.

Ketika saya memonitor komentar2 netizen di media sosial, jawaban yang diberikan justru "pamer destinasi." Kami pernah ke Rohingya, Palestina bahkan Somalia. Saya akui, ke tiga wilayah itu adalah wilayah konflik. Tak usahlah jauh2, Aceh Ambon dan Poso pun pernah jadi wilayah konflik. Dan dalam wilayah konflik pun secara umum dibagi tiga zona : zona hijau (aman) zona kuning (waspada) dan zona merah (hotspot, dimana konflik bersenjata terjadi). 

 

Nah kawan2 DD masuk ke Rohingya, Palestina dan Somalia di zona apa? Saya yakin, green zone. Mengapa? Untuk masuk zona merah diperlukan skill dan perlengkapan offensive rescue. Karena itulah militer memiliki panser/APC Ambulans, petugas medisnya dilengkapi dengan helmet dan rompi tahan peluru. Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menunjukkan tanda2 penyelamat yang jelas baik dari sisi kendaraan yang dipakai (ambulans putih lengkap dengan simbol2 rescue internasional) dan baju seragam petugasnya (rompi dengan tanda Palang Merah atau Bulan Sabit Merah yang menyolok)

Kembali ke Jakarta. Kendati skala dan intensitas konfliknya jauh lebih rendah, Polisi juga menetapkan zonasi di area seputaran Bawaslu dan KPU. Lalu berangkat dari fakta yang ada :

1. Berada di lokasi selewat tengah malam.
2. Kendaraan yang digunakan adalah double cabin warna gelap, sepintas mirip kendaraan taktikal. Bukan kendaraan ambulans standar warna putih dengan perlengkapan rescue standar pula.
3. Sama sekali tidak ada tanda2 standar internasional sebagai kendaraan penyelamat.
4. Tidak membuka komunikasi dengan aparat kepolisian yang tengah melakukan tindakan represif kepada para pendemo rusuh.
5. Adanya informasi intelijen yang juga sudah dibuka ke publik, tentang kemungkinan penyusupan pelaku teror di antara pendemo rusuh.

Lalu respon apa yang diharapkan dari aparat kepolisian sementara mereka dituntut situasi untuk mengambil keputusan secara cepat?

Berangkat dari titik inilah saya berkesimpulan, jika kawan2 DD tidak memiliki kompetensi melakukan offensive rescue namun memaksakan diri untuk melakukannya. Nah sebelum isu ini menggelinding menjadi bola liar yang merugikan semuanya, baik Polri/TNI dan DD sendiri, sebaiknya pihak DD segera mendudukkan masalah pada tempatnya.

Cinere, 24 Mei 2019
Haryoko R. Wirjosoetomo

Saturday, May 25, 2019 - 05:30
Kategori Rubrik: