Dollar Tak Jadi Ukuran Keberhasilan atau Kegagalan Jokowi

Ilustrasi

“Sinergi” adalah satu-satunya kata kunci untuk mengatasi Persoalan Complicated bangsa ini. Tidak usah pake teori tetek bengek, tidak usah berteori Ekonomi Njlimet dan tidak usah bicara dalam Perspektif Kerakyatan, Politik dan lain-lainnya.

Faktanya saat ini Pemerintahan Jokowi-JK (masih) Gagal! Titik. Bukan Dollar Indikatornya yang pasti. Begitu juga dengan Index Harga Saham Gabungan, bukan itu Wasit Utama untuk mengukur kegagalan atau keberhasilan Pemerintahan Jokowi-JK selama 1 tahun ini.

Gw gedeg banget liat beberapa Ekonom yang Sok Tau dan dengan lantang mengatakan Dollar dan IHSG adalah Juri terbaik dan Jujur untuk mengukur Prestasi Pemerintahan. Gw bingung karena mereka dan banyak Pihak lainnya sangat mendewakan Dollar.

Kalau gw depan mereka pasti udah gw debat tuh. Hehehee. Yang pasti Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar bukan ditentukan oleh Internal dalam negeri. Betul bahwa bila Pemerintah kita abal-abal dan bertindak semau gue maka sudah pasti Pasar merespon Negatif disusul Dollar akan menjulang. Begitu juga dengan IHSG yang sangat rentan responnya dengan sikap Pemerintah bila melakukan suatu Blunder.

Tetapi di sisi lain, yang namanya Dollar dan IHSG juga sangat terpengaruh oleh factor External. Contohnya saat ini dimana Fed (Bank Central Amerika) menjadi Acuan utama pergerakan harga Dollar di seluruh dunia. Belum lagi aksi China mendevaluasi mata uangnya yang akhirnya merontokkan nilai tukar uang di Negara-negara berkembang.

Pemerintahan kita saat ini khususnya 4 bulan terakhir cukup Stabil. Pasar sudah meresponnya dengan baik. Memang pada awal-awal pemerintahan Jokowi-JK kondisi politik tanah air sangat bergejolak khususnya di Parlemen dan tak lama disusul dengan Polemik Budi Gunawan.

Dari sisi ekonomi masyarakat Indonesia juga sangat terpukul dengan Kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM. Kondisi ini memicu Inflasi. Apalagi karte-kartel perdagangan masih banyak yang bermain sehingga komoditi utama seperti Beras, Daging Sapi, Bawang, Cabe dan lain-lain dimainkan sesuka hatinya.

Mengukur Keberhasilan Pemerintahan saat ini tidaklah terlalu sulit. Badan Pusat Statistik bisa menjadi salah satu acuan dimana untuk tahun 2014/2015 Tingkat Kemiskinan Indonesia naik 11% hingga mencapai angka 29%. Pengangguran juga naik, inflasi juga naik berikut daya beli masyarakat anjlok. Itu bukan gara-gara Dollar tetapi gara-gara Kenaikan Harga BBM.

Di sisi lain Efek Negatif dari “Bersihnya” Jokowi dan “Garangnya KPK” membuat para eksekutif menjadi takut menyerap APBN. Proyek-proyek menjadi ogah-ogahan digarap karena semua terlalu berhati-hati. Kondisi eksekutif yang stagnant juga dipicu keributan besar yang ada di Parlemen.

Kelakuan anggota-anggota DPR belum berubah. Setiap Pemerintah meminta peran budgeting DPR saat itulah DPR jual mahal dan minta kompensasi dengan hal lain demi kepentingan kelompok-kelompok elit di DPR. Hal ini tentu membuat Penyerapan APBN menjadi lamban.

Semua orang juga tahu bahwa sampai dengan saat ini Ekonomi Indonesia masih sangat tergantung pada Belanja Pemerintah sebagai penggerak utama ekonomi maka dengan kondisi tersebut diatas tadi yaitu, Bersihnya Jokowi, Garangnya KPK dan Jual Mahalnya Legislatif akhirnya membuat Ekonomi bangsa ini melambat. Kondisi itu lebih ditekan lagi oleh Kenaikan harga BBM dan Liarnya nilai tukar Dollar karena factor external.

Jadi catatan gw tentang 1 tahun Pemerintahan Jokowi memang dihajar habis-habisan oleh beberapa hal. Minimal ada 5 point yang menjadi Penentu Utama. Kurang lebih bisa digambarkan seperti berikut :

1.Tiga bulan pertama Pemerintahan Jokowi-JK sangat terganggu oleh tekanan dari Parlemen khususnya yang dilakukan oleh Koalisi Merah Putih.

2.Tiga bulan berikutnya kembali Jokowi mendapat tekanan keras dari Koalisi Partai Pendukungnya dimana yang paling nyata adalah Konflik Budi Gunawan disusul aksi Pelemahan KPK.

3.Kedua factor 1 dan 2 itu adalah factor yang berkaitan dengan Politik sementara untuk Faktor Ekonomi kenekatan Jokowi menaikkan harga BBM benar-benar memukul kehidupan perekonomian rakyat. Double Impact dari politik ada tekanan yang sangat kuat dari 2 kekuatan politik besar, sementara dari bawah rakyat menjerit kelaparan. Jokowi di posisi yang sangat sulit.

4.Masih adanya / masih bercokolnya kartel-kartel perdagangan, mafia-mafia perdagangan, makelar-makelar proyek membuat Ekonomi rakyat benar-benar digencet habis-habisan. Kenaikan BBM sudah memicu Inflasi dan harga-harga komoditi melonjak tajam. Eh malah ditambah lagi oleh ketidakstabilitasan yang diakibatkan para Mafia mencoba mencari untung.

5.Tekanan kembali datang dari Selimut Jokowi. Orang-orang di elit Pemerintahan mulai terlihat kerakusannya. Undang-undang antar lembaga, antar kementrian yang selama ini tumpang tindih memang masih dimanfaatkan oleh para Ekskutif Rakus. Ini juga memperburuk kinerja Pemerintah. Yang pasti telah terjadi Perang kepentingan diantara Eksekutif khususnya oleh Para Pemodal Kampanye Jokowi-JK.

APA SOLUSI TERBAIK?

Dengan kondisi yang ruwet dan complicated begitu hanya ada beberapa cara Jokowi-JK untuk mengatasi permasalahan bangsa ini. Minimal ada langkah-langkah utama seperti ini :

1.Kebijakan Ekonomi/ Regulasi yang benar-benar harus menyentuh simpul-simpul Ekonomi.

2.Reformasi Birokrasi berikut Rekonsiliasi/Penataan ulang Undang-undang antar lembaga dan Undang-undang antar kementerian sehingga dapat sinkron dan mengefektifkan Birokrasi.

3.Dua kebijakan itu akan memancing Investor masuk sehingga perlu lagi adanya upaya untuk memfasilitasi Investor dengan regulasi tertentu yang dapat membuat mereka merasa nyaman berinvestasi.

4.Efektifkan Masyarakat dan ajak partisipasi masyarakat dalam bidang-bidang tertentu. Yang paling utama adalah Bidang Politik dimana masyarakat bisa menjadi Kekuatan Politik yang menentukan sehingga bisa menekan dan mendesak para Legislatif yang nakal maupun para Eksekutif yang mencoba bermain-main.

5.Lakukan Penetrasi berimbang ke Parlemen. Ajak Oposisi untuk bersama-sama membangun negeri ini. Mengalahlah kalau memang harus mengalah.

Tetapi kata kunci dari semua itu adalah Mensinergikan seluruh Kekuatan Bangsa. Jokowi jagonya komunikasi. Bila mampu dikomunikasikan maka semua elemen bangsa bisa saling mendukung dan bersama-sama membangun menuju Indonesia yang lebih baik lagi.

Wednesday, October 21, 2015 - 09:15
Kategori Rubrik: