Dolar Melambung, Berbahayakah?

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Sebelum membahas efek kenaikan dolar, ada baiknya mengenali potensi kekuatan ekonomi Indonesia. Jadi orang jangan pesimistis. Belum apa-apa udah loyo kayak Aryodj.

1. Menteri keuangan kita itu adalah menteri terbaik di dunia. Satu-satunya alasan Sri pulang kampung, karena dia mencintai negara ini. Soal gengsi, tentu kerja di Bank Dunia lebih bergengsi. Soal gaji, tentu gaji menteri keuangan tidak ada apa-apanya.

 

 

Sri paham, soalnya dia mantan menteri keuangan, bahwa kondisi keuangan Indonesia sepeninggal SBY itu tidak sehat. Bagaimana bisa sehat, jika sepuluh tahun raja album itu bakar uang utang sebesar tiga ribu triliun untuk subsidi BBM?

2. Kenaikan kurs dolar itu berpengaruh buruk terhadap impor dan keperluan melancong ke luar negeri. Paling jauh, rakyat kecil itu nanti kena inflasi harga barang. Misalnya harga tempe naik 500 perak karena kedelainya impor dari Amerika. Kenapa impor? Karena jenisnya beda. Kenapa beda? Karena nenek moyangnya bule, nenek moyang kedelai kita kan tuyul yang nyoblos di Jabar kemarin.

Sebaliknya, kenaikan kurs itu bagus untuk ekspor dan kiriman uang TKI. Jadi selama kenaikan kurs dolar terkendali, sebenarnya tidak masalah. Kecuali jika semua orang hobi plesir ke luar negeri. Ini baru masalah besar. Situ ke Dieng aja belum pernah, lagu-laguan mikirin dolar kayak mau plesir ke Eropa. Ngaca.

3. Ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat. Kalau hanya dihajar kenaikan kurs dolar saja masih bisa diintervensi. Kurs dolar naik karena efek Bank Sentral Amerika menaikkan suku bunga acuannya. BI juga telah mengimbangi. Pemerintah juga terus menggenjot ekspor.

Selain itu bisa juga BI jual surat utang valas kalau mau mengeruk dolar dengan cepat. Kondisi ekonomi kita secara global tidak masalah. Kalau kondisi kantong tukang nyinyir, nah itu sudah jelas bermasalah. Dari mukanya aja kelihatan.

4. Yang berperang terhadap kurs dolar bukan hanya Indonesia. Negara-negara lain juga pasti ikut melakukan serangan moneter. Mereka juga ingin menyelamatkan mata uangnya dari agresi Dolar Amerika. Kondisi Ringgit kabarnya sudah berdarah-darah. Rupiah masih dihitung stabil dan aman.

Makanya kebijakan BI pasti melihat kebijakan negara lain. Istilahnya kalau mau gebuk dolar ya bareng-bareng. Mau agresif nyerang sendiri ya konyol. Itu kayak Cak Imin yang heboh nyawapres tanpa capres, hiks.

5. Kurs hari ini jauh lebih aman dibanding tahun 2015. Kita sudah punya pengalaman melewati tahun krisis global itu dengan gagah berani. Jadi sebenarnya emang gak ada masalah. Kampret aja yang jualan isu dolar di tahun politik ini.

Dolar naik-turun gak ngaruh ke akar rumput, selama masih terkendali. Beli cendol di pasar itu gak perlu dolar. Rokok aja ngecer. Tanggung bulan makannya Indomie. Jangan banyak gaya berlagak pusing mikirin dolar. Pegang uang dolar saja belum pernah, sok-sokan mikirin kurs dolar.

Bangun cuci muka sana!

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Wednesday, July 11, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: