Doktrin

Oleh: Tomi Lebang

Tubuh itu berpilin tak berbentuk, perutnya menganga, isinya terburai, dan pada wajahnya yang beku tak bersisa bekas senyuman. Sabuk bom bergotri yang detonatornya ia ledakkan sendiri mengakhiri hidup lelaki ini, di siang yang beraroma kopi di kafe Starbucks Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis 14 Januari lalu. Juga tiga kawannya tak jauh dari situ.

Dan kita pun bertanya: kalimat magis apa gerangan yang didedahkan ke pikiran orang-orang ini sampai rela mati tak berbentuk di keramaian itu? Bersamanya, yang mati adalah pelintas jalan, kurir, dan orang-orang yang bukan penentu jalannya peradaban.

Hipnotiskah? Janji tentang nirwana? Sungai-sungai dan bidadari? Itukah yang disebut doktrin. Tapi kalimat apa yang punya daya mematikan akal sehat sedahsyat itu.

Kisah pelaku pembajakan pesawat dalam peristiwa 11 September 2001 di New York bisa jadi sebuah contoh. Mereka belajar di sekolah pilot selama berbulan-bulan, mungkin bertahun, demi menguasai kemudi pesawat. Tentu ada ilmu teknik pesawat, pelajaran tentang mesin, instrumen, aerodinamika, kelistrikan, kontrol penerbangan, navigasi, sistem komunikasi, dan lain-lain. Dan selama itu, orang-orang ini tetap menyisakan ruang di bilik hatinya untuk sebuah tujuan akhir yang sungguh fana: mati bersama serpih-serpih badan pesawat dan terkubur puing-puing bersama ribuan pekerja kantoran di dua menara yang ambruk.

Dan inilah misteri yang tak terjangkau pengetahuan bagaimana seseorang atau kelompok dengan pesona yang bisa mengendalikan kehendak orang lain seraya mematikan akal sehatnya.

Saya ingat Agum Gumelar, salah satu jenderal dengan karir yang cemerlang di TNI Angkatan Darat. Ia pernah menjadi Komandan Kopassus, juga lama menapak karir di dunia intelijen dan tentu saja di politik dan pemerintahan. Salah satu kelebihan Agum adalah ia fasih berbahasa Inggris dan Mandarin.

Semasa mudanya, sebagai perwira intelijen, salah satu tahanan politik di instansinya adalah Kepala Biro Khusus PKI, Sjam Kamaruzaman. Sjam memimpin biro beranggotakan lima orang, sangat rahasia, dan punya tugas khusus untuk merekrut tentara bergabung dengan partai komunis. Ia ditangkap pada bulan Maret 1967 dan dihukum mati pada September 1986.

Bertahun-tahun dalam tahanan militer, tak terbilang kali Sjam diinterogasi, ditanyai, pengetahuannya tentang jejaring komunis di tubuh militer di Indonesia digali. Tapi yang terjadi adalah mereka yang memeriksa Sjam justru terpesona olehnya. “Kalau tak kuat iman, justru yang menginterogasi Sjam malah akan menjadi pengikutnya,” kata Agum.

Dan itulah yang ia rasakan setiap kali bertemu Sjam Kamaruzaman, pesona kata-kata yang membuai, menindih-nindih akal sehat, menjajah benak dan nurani.

Manusia mungkin memang hanya seonggok daging, darah dan tulang-tulang, tapi punya jiwa dan benak yang kekuatannya jauh melampaui batas-batas yang terpikirkan. Dari sanalah lahir doktrin-doktrin, keteguhan-keteguhan, fanatisme yang membuta.

Pesona itulah yang membuat seorang dokter meninggalkan suami di Jawa untuk bergabung dengan kelompok Gafatar di Kalimantan atau ratusan anak muda dari pelbagai belahan dunia datang ke Suriah hari-hari ini.

Pernah dengar istilah Sindrom Stockholm? Di tahun 1973, dua lelaki Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson merampok Sveriges Kreditbank di Stockholm, Swedia dan menyandera para karyawan bank selama lima hari. Ketika akhirnya para sandera dapat dibebaskan, reaksi mereka malah aneh: memeluk dan mencium para perampok yang telah menyandera mereka. Empat hari bersama, para sandera berubah menyayangi sang perampok. Salah satu sandera bernama Kristin bahkan membatalkan pertunangannya. Ia jatuh cinta kepada salah satu penyanderanya. Sejak itu, korban yang berbalik jatuh cinta kepada penyanderanya disebut pengidap Sindrom Stockholm.

Sungguh, manusia adalah semesta misteri. Pada makhluk primata yang berjalan tegak ini, tak ada kesimpulan yang bisa dituliskan, bahkan dengan tinta sedalam lautan.

 

Wednesday, January 20, 2016 - 21:15
Kategori Rubrik: