Dokter Lockdown

ilustrasi

Oleh : Meilanie Buitenzorgy

Berhubung banyak netizen yang menanyakan soal dokter tersebut kepada saya, baik japri maupun jalum, baiklah, saya coba untuk berkomentar yang ternyata jadinya cukup panjang. Namun komentar saya batasi hanya terkait indikator-indikator terukur yang terkait dengan klaim-klaim beliau di media sosial sebagai berikut:

- Memiliki hak Paten yang diakui Dirjen Kekayaan Intelektual
- Memiliki multi-kompetensi keilmuan
- Pernah mengikuti berbagai macam program S3 dan Post-doctoral
- Berprofesi sebagai dosen, researcher dan scientist
- Berafiliasi ke FK-UI dan RSUPN Cipto Mangunkusumo
- Memiliki research centre yang disegani dunia

Karena ybs membuat klaim secara public, maka, sebagai teman baik (saya mengenal beliau lewat Facebook) saya mendorong ybs untuk membuat klarifikasi secara public untuk menjawab keraguan dan keanehan sebagai berikut, dimana klaim ybs tidak sesuai dengan fakta berdasarkan jejak digital.

1) Kualifikasi jenjang pendidikan, mungkinkah sudah post-doc?

Hasil penelusuran digital: Yang bersangkutan LULUS program S1 dan S2 FK-UGM. Namun yang bersangkutan BELUM LULUS dari program S3 universitas mana pun. Padahal, program pasca-doktoral/post-doctoral hanya bisa dilakukan oleh orang yang SUDAH LULUS program doktoral/S3.

Pada halaman Wikipedia dan Facebook, ybs menyebutkan sedang menempuh program S3 di Norwegian Knowledge Centre for Health, namun tidak dapat ditemukan satu pun universitas dengan nama tersebut.

Pertanyaan tambahan: mengapa ybs mencantumkan gelar M.Sc di belakang namanya, padahal ybs lulusan S2 Magister Ilmu Kedokteran Klinis non-spesialis (non-PPDS) FK UGM yang merupakan universitas dalam negeri? Bukankah gelar M.Sc diberikan oleh Universitas di Luar Negeri?

Kesimpulan sementara, kualifikasi pendidikan ybs hingga saat ini adalah lulusan S2/magister kedokteran non-spesialis universitas dalam negeri.

2) Multi-kompetensi keilmuan?

Pengakuan kompetensi keilmuan seseorang hanya bisa diperoleh melalui 2 cara. Pertama, menempuh jenjang pendidikan formal sampai LULUS. Jadi, tidak peduli Anda pernah ikut program S2 atau S3 dalam 100 bidang ilmu yang berbeda sekalipun, jika tidak ada satu program pun yang LULUS maka Anda tidak berhak meng-klaim kompeten dalam bidang ilmu tersebut. Kedua, memiliki publikasi karya penelitian ilmiah dalam bidang keilmuan tsb di peer-reviewed journal, alias jurnal ilmiah yang di-review oleh kolega sejawat.

Hasil penelusuran jejak digital: ybs LULUS jenjang S2 di bidang epidemiology klinis. Dari pelacakan google scholar, hanya ada 1 entri hasil penelitian atas nama ybs, yaitu berupa tesis ybs di bidang epidemiologi klinis khususnya masalah pre-eklamsia.

Ybs memang sudah menulis beberapa buku tentang nutrisi, namun buku-buku tersebut tidak terdeteksi di Google Scholar, sehingga belum dapat secara formal dikategorikan sebagai karya ilmiah. Bahkan saya tidak dapat mendeteksi penerbit dari buku-buku tersebut. Mungkin self-publishing?

Kesimpulan sementara: kompetensi ybs hanya kedokteran umum dan epidemiologi klinis, sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh sampai LULUS dan karya ilmiah yang terdeteksi di platform Google Scholar.

3) Berprofesi sebagai Scientist?

Pengakuan sebagai Scientist/Ilmuwan bisa diperoleh melalui 2 cara. Pertama, memiliki pendidikan formal sampai LULUS jenjang Doktoral/S3. Kedua, memiliki publikasi karya penelitian ilmiah di peer-reviewed journal dalam jumlah karya maupun sitasi yang signifikan.

Hasil penelusuran: ybs HANYA lulus jenjang S2 dan hanya memiliki 1 karya ilmiah berupa tesis S2 dan sama sekali belum memiliki angka sitasi. Angka sitasi untuk karya ilmiah X adalah jumlah seluruh karya ilmiah terpublikasi yang merujuk/menyebutkan/mendiskusikan karya ilmiah X tsb.

Kesimpulan sementara: ybs belum dapat secara formal diakui sebagai Scientist/Ilmuwan.

4) Afiliasi kemana?

Selain scientist, ybs mengklaim berprofesi sebagai dosen dan researcher, berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran - Universitas Indonesia dan RSUPN Cipto Mangunkusumo.

Hasil penelusuran digital: di website daftar dosen UI yaitu staff.ui.ac.id, nama ybs tidak ditemukan tercatat sebagai dosen FK-UI. Saya juga tidak berhasil menemukan nama ybs sebagai staf RSUPN CM. Menjadi pertanyaan, ybs bekerja sebagai dosen dan researcher di institusi mana? Dua lembaga yang tercatat terhubung dengan nama ybs adalah Ahlina Institute yang merupakan institusi milik ybs, dan Herbalife Nutrition Indonesia yang merupakan produsen suplemen pelangsing.

5) Memiliki research centre yang disegani dunia?

Hasil penelusuran digital: tidak ditemukan scientific research ataupun research centre yang terkait dengan nama ybs. Jika yang dimaksud adalah Ahlina Institute, website lembaga ini kemungkinan beralamat di www.ahlina.org atau www.nutrisisurgawi.net yang sayangnya keduanya tidak bisa diakses karena yang muncul hanya pesan sbb:
“This site is not secure. This might mean that someone’s trying to fool you or steal any info you send to the server. You should close this site immediately.”

Namun, Ahlina Institute memiliki Facebook Page dan Instagram Page yang memposting berbagai kegiatan seminar kesehatan yang diadakan Ahlina Institute dan atau ybs sebagai speaker.

Nah, berikut ini yang paling epic...

6) Memiliki beberapa hak paten yang diakui Dirjen Kekayaan Intelektual Indonesia (DJKI)?

Hasil penelusuran digital: Dari website pangkalan data DJKI https://pdki-indonesia.dgip.go.id, beberapa buku hasil karya yang bersangkutan seperti "Body Revolution" dan "Seven Colors Garden" BENAR diakui DJKI.

Perlu diketahui bahwa Kekayaan Intelektual DJKI terdiri atas 5 kategori: Paten, Merek, Desain Industri, Hak Cipta dan Indikasi Geografis.

Nah, buku-buku hasil karya yang bersangkutan BUKAN diakui dalam bentuk Paten, melainkan diakui sebagai Hak Cipta.

Selain buku2 ybs, contoh penerima sertifikat Hak Cipta DJKI ini adalah poster “Ayo Berkebun” dan buku “Panduan Memasak Pizza Tutty Fruity” (terlampir). Sampai saat ini tercatat lebih dari 180 ribu pemohon sertifikat hak cipta di DJKI.

Kesimpulan: buku-buku karya ybs dapat dikategorikan sebagai karya populer, namun sayangnya belum dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah karena publikasinya tidak menggunakan platform ilmiah yang selayaknya digunakan oleh para akademisi dan peneliti di seluruh dunia.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menambahkan sedikit mengenai pseudoscience. Pseudoscience atau sains palsu adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu bidang yang menyerupai ilmu pengetahuan namun sebenarnya bukan merupakan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang menyerupai ilmu pengetahuan ini tidak valid dan memiliki banyak kekurangan. Dengan kata lain sains ini adalah sains palsu/pseudo.

Hasil pemikiran atau “penelitian” seberapa pun hebatnya, jika belum diuji melalui ajang eksaminasi karya ilmiah pendidikan formal dan atau diuji melalui proses peer-review, maka dianggap bernilai pseudoscience. Ini berlaku untuk SEMUA disiplin ilmu.

Tulisan ini juga dimaksudkan sebagai ikhtiar pendidikan publik agar publik awam Indonesia memahami standar minimum yang berlaku di dunia sains dan riset, sehingga ke depannya tidak mudah percaya pada klaim-klaim bombastis yang tidak sesuai fakta maupun standar minimum tersebut.

Saya terpaksa menulis hal ini di laman akun pribadi saya, karena sudah cukup banyak alumni UGM (almamater ybs), para akademisi, ilmuwan dan peneliti yang mengingatkan ybs lewat komen di timeline ybs namun komen2 tersebut dihapus dan pemiliknya di-block.

Saya juga mendengar kabar bahwa Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PB-PDHI) berencana men-somasi ybs, karena salah satu posting FB ybs dianggap melecehkan profesi Dokter Hewan. Semoga saja kabar tersebut tidak benar.

Kepada ybs, untuk menghindari ghibah dan polemic berkepanjangan, sebagai teman baik, saya sarankan agar segera mengklarifikasi berbagai keraguan public tersebut diatas dengan bukti-bukti yang dapat diterima dengan akal sehat. Posting foto Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) tentunya tidak cukup sebagai bukti Anda lulus kuliah doctoral/S3 dan pernah mengambil program pasca-doktoral (post-doc).

salam
Meilanie Buitenzorgy, S.Si., M.Sc (Wageningen), Ph.D (Sydney)

Update:
1) per detik ini, pada halaman Facebook maupun Wikipedia milik ybs, klaim terkait Norwegian Knowledge Centre, FK-UI maupun RSUPN Ciptomangunkusumo telah dihapus.

2) UGM memberikan gelar MSc untuk lulusan S2/program magister jutusan tertentu sejak tahun 2009, berdasarkan info dari dosen UGM Ludmilla Sumadi

3) Pada program S2 ilmu kedokteran klinis non-spesialis (non-PPDS) FK-KMK UGM terdapat 3 jurusan: 1) Epidemiologi Klinis, 2) Kedokteran Keluarga dan 3) Kesehatan Maternal dan Perinatal. Belum diketahui ybs lulus dari jurusan yang mana, karena ybs klaim kompetensi sebagai clinical epidemiologist namun thesis/penelitian S2 ybs adalah terapi preeklamsia yang mana lebih terkait ke jurusan kesehatan maternal.

4) Surat Tanda Registrasi (STR) merupakan sertifikat untuk seorang dokter yang menjadi bukti bahwa dirinya boleh praktik. STR ybs telah kadaluarsa sejak 2012. Sementara ybs adalah anggota PB-IDI. Menjadi pertanyaan publik apakah seorang lulusan pendidikan kedokteran yang sudah tidak memiliki STR dapat menjadi pengurus IDI.

Sumber : Status Facebook Meilanie Buitenzorgy

Wednesday, March 25, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: