Doa Murti

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Murti datang kepadaku. Dengan caranya, dia selalu menaruh hormat kepadaku. Sambil menunduk dia berkata, “Ayah, izinkan kami untuk membawa Ayah dan Bunda tinggal bersama kami.” Di samping Murti, suaminya, Bima, tersenyum ke arahku.
Aku terhenyak.

Murti adalah putri tertuaku. Sedari lahir dia memang lemah. Tidak secantik adiknya Mumun. Tidak secerdas adiknya Andi. Murti juga punya kekurangan, kaki kirinya agak lemah. Itu sebabnya dia berjalan pincang. Setiap tahap pertumbuhannya membuatku cemas. Mungkinkah Murti akan mendapatkan jodoh? Mungkinkah Murti mampu mandiri bila tidak ada suami? Usiaku semakin menua. Sumi istriku juga.

Ketika Murti tamat SD, aku kirim dia ke pondok pesantren. Aku berharap di pondok dia lebih nyaman bergaul dan berkembang karena didikan agama lebih memaklumi keadaannya yang lemah. Sementara itu, Mumun dan Andi mendapat pendidikan terbaik dariku. Mereka sekolah di tempat umum dan melanjutkan ke universitas.

Setamat Mandrasah Aliyah, Murti datang kepadaku. Dia mengatakan ada seorang pria yang menginginkannya sebagai istri. Aku tidak berpikir banyak untuk menolak. Inilah kehendak Tuhan, semua manusia berhak mendapat jodoh, termasuk putriku yang lemah dan tidak cantik. Aku sambut niatnya dengan antusias.

Pria jodohnya bukanlah dari keluarga kaya. Pria itu sedari kecil sudah yatim piatu. Dibesarkan di pondok dan setelah itu merintis usaha bengkel motor. Bukanlah usaha yang bagus karena berlokasi di kecamatan. Namun, ketika bertemu pria itu aku tahu bahwa dia anak yang baik dan agamis. Aku tidak peduli dengan keadaannya yang yatim, tak peduli dengan usahanya sebagai pengelola bengkel motor di sebuah kecamatan di Kalimantan. Tak peduli walau dia juga cacat seperti Murti. Bagiku, inilah yang terbaik bagi Murti dan bagi kami. Setelah Murti menikah, beban mentalku serasa berkurang. Aku mulai disibukkan dengan mengurus kedua adik Murti yang akan kuliah.

Murti diboyong oleh suaminya tinggal di Kalimantan. Enam kali Lebaran dia tidak datang ke rumah kami. Aku bisa memaklumi bila hanya kartu lebaran yang datang kepada kami. Tak lupa dia memberikan doa terbaik untuk kami. Memang bukanlah mudah untuk mudik dari Kalimantan ke Jakarta. Tentu ongkosnya mahal sekali. Walau Murti tidak pernah bercerita tentang kehidupan rumah tangganya, aku yakin Murti akan baik-baik saja. Entah mengapa aku tidak pernah mengkhawatirkan Murti, padahal dia anak kandungku yang terlahir cacat dan bersuami laki-laki yang juga cacat. Bila teringat Murti, aku hanya berdoa kepada Tuhan semoga putriku itu baik-baik saja. Aku yakin Tuhan menyayangi putriku.

Sementara itu, aku disibukkan mengarahkan kedua adik Murti yang sempurna secara fisik. Mereka melanjutkan ke universitas. Kehidupan mereka kumanjakan dan kuharapkan menjadi kebanggaanku di hadapan teman-teman. Namun, seberapa besar pun harapanku kepada mereka, mereka tidak seperti yang kubanggakan. Seiring berjalannya waktu, Mumun menikah dengan pria dari keluarga terhormat. Ketika menikah, kuliahnya belum selesai. Karena suaminya belum dapat pekerjaan, Mumun dan suaminya tinggal di rumah kami.

Andi pun menikah namun dia belum dapat kerjaan. Andi dan istrinya tinggal di rumah kami juga. Berkali-kali ikut tes tapi selalu gagal jadi pegawai, padahal aku berharap dia bisa jadi PNS atau pegawai BUMN. Lambat-laun dia sudah tidak tertarik lagi bekerja sesuai dengan ijazahnya atau mungkin merasa tidak mampu bersaing menjadi pegawai. Sehari-hari dia hanya kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Kadang-kadang pulang larut malam. Aku semakin khawatir akan masa depan keluarganya.

Rumah semakin ramai oleh anak, menantu, dan cucu. Sementara itu, aku sudah pensiun. Tak ada lagi uang berlebih yang bisa menanggung beban rumah tangga yang diisi oleh tiga keluarga ini. Ada sedikit deposito untuk sekadar menguatkan semangat di usia senja. Namun, demi mendukung bisnis suami Mumun, deposito yang jadi penyemangat hidupku itu kuserahkan untuk modal suaminya. Apalagi mereka sangat berharap sukses dan dapat menanggung hidup masa tua kami. Namun, apa yang terjadi? Bisnisnya hanya berjalan setahun, lalu kandas. Uang deposito pun habis.

Belakangan Andi mengajukan rencananya untuk terjun dalam bisnis. Mungkin dia berpikir saatnya menerima kenyataan. Berwiraswasta bukanlah pilihan yang buruk. Andi meminta aku menggadaikan rumah kami satu-satunya untuk keperluan modalnya membuka usaha leveransir Pemda. Namun, tak lebih setahun prahara datang. Utang tak terbayar. Pihak bank minta agar segera melunasi utang atau rumah disita. Andi berusaha menghindar dariku. Dia lebih banyak berada di luar rumah, sementara anak dan istrinya di rumah dalam keresahan karena mengkhawatirkannya. Kami yang semakin menua tak sanggup menerima beban sebesar ini. Akhirnya, aku merelakan menjual rumah satu-satunya yang kami miliki untuk menumpang teduh di usia senja. Setelah ini, ke mana kami akan tinggal?

Dulu kami sangat berharap Andi dapat menjadi tongkat kami ketika senja. Sangat berharap Mumun dapat merawat kami ketika kami tua dan lemah. Itulah sebabnya apa pun kami korban agar mereka bisa hidup mapan. Namun, kini mereka menjadi beban kami. Itulah yang menjadi beban pikiranku. Itu pula yang membuat istriku semakin lemah. Penyakit mulai berdatangan.

Pada saat itulah aku mulai memikirkan Murti. Ketika kukabarkan kepada Murti bahwa ibunya masuk rumah sakit, tak lebih dua hari kemudian dia sudah ada di rumah kami. Kulihat Murti sehat sekali. Kedua cucu kami tampak ragu untuk menyapa kami. Namun, kami tak peduli. Kami segera merangkul mereka. Kulihat istriku berlinang air mata ketika memeluk kedua cucu kami.

Murti berulang kali minta maaf karena setelah enam tahun berumah tangga baru kali ini datang menemui kami. Walau dia tidak bercerita banyak, dari raut wajahnya tampak kehidupannya tidak lebih baik. Namun, Murti tampak tegar dan wajahnya bercahaya.
“Ayah….” 
Aku terkejut dengan suara Murti. Ternyata aku melamun cukup lama. “Ya, Ti?”
“Kami sudah punya rumah sendiri walau tak besar. Ada kamar untuk Ayah dan Bunda. Aku pun membuka usaha ternak ayam di rumah. Usaha Mas Bima juga cukup baik. Tahun kemarin sudah ditunjuk sebagai bengkel resmi oleh dealer.” Murti tersenyum. Suaranya lembut penuh kasih kepadaku. 
“Ayah,” lanjutnya, “walau kehidupan kami tidak berlebihan, kami masih mampu merawat Ayah dan Bunda. Beri kesempatan kami untuk menjaga Ayah dan Bunda. Ini ladang ibadah yang tak terhingga nilainya di hadapan Allah.”

Murti mendekat dan duduk di sampingku. “Tahukah Ayah, dulu ketika aku Ayah tempatkan di pondok, ada dua doa yang tak henti kupanjatkan kepada Allah. Pertama, agar Allah mengirimkan kepadaku suami yang bisa menjadi imamku. Suami yang saleh. Walau dia cacat sepertiku, itulah yang terbaik dari Allah untukku. Kuterima dengan sukacita. Kedua, agar aku diberi kesempatan untuk menjaga Ayah dan Bunda di masa tua. Satu doaku sudah dikabulkan Allah dan kini yang kedua aku berharap, Ayah….”

Kurangkul Murti dengan linangan air mata. Kulirik istriku juga berlinang air mata. Kami merasa malu di hadapan putri kami. Dia yang kami anggap lemah dan tak menjadi tempat kami menaruh harapan, justru menjadi tongkat kami di masa tua. Memang dia lemah secara fisik. Memang dia tidak cantik. Memang suaminya bukanlah dari keluarga terhormat. Suaminya hanyalah anak yatim piatu. Namun, bekal iman dan takwa telah membuat mereka kuat menghadapi kehidupan yang tidak ramah ini.

Murti dan suaminya ikhlas, teramat ikhlas, menerima takdir mereka. Tak ada harapan lain dari mereka kecuali diberi kesempatan merawat kami di masa tua. Ini ladang ibadah untuk membuat mereka lapang meniti jalan ke surga. Itulah keyakinan sederhana sebagaimana keyakinan cinta mereka kepada Allah.

Kami putuskan untuk ikut dengan Murti dan suaminya ke Kalimantan. Bagaimana dengan kehidupan Andi dan Mumun? Biarlah mereka belajar dari kehidupan ini dan mendapatkan hikmah. Aku bukanlah penolong mereka tapi Allah penolong mereka. Sudah saatnya aku tak lagi mengkhawatirkan mereka sebagaimana aku tidak pernah mengkhawatirkan Murti. Semoga Mumun dan Andi maklum.

 

(Sumber: Status Facebook Erizeli)

Saturday, July 30, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: