Ditangani Jokowi, Indonesia Meningkat Walau Dunia Suram Dan Hatersnya Muram

Ingat Indonesia itu NEGARA BESAR dengan 200 juta lebih penduduknya, bila kapal besar ini tidak dinahkodai oleh Kapten yang cakap, mustahil kapal besar ini bisa sampai dermaga bahagia. Tantangan jelas ada, ombak kecil dan ombak besar pasti menerpanya, MUSTAHIL kapal ini bisa berjalan mulus di tengah gelombang dunia yang berpacu begitu cepatnya ini. Siapa saja kaptennya, pasti akan melewati OMBAK tersebut, dan kapten yang berdedikasi tinggi, jujur, serta taat kontitusi lah yang mampu menjalankan Indonesia sampai mendapatkan PRESTASI DUNIA.

 Oleh Stefanus Toni Aka Tante Paku

Ada yang yang mengeluh karena Indonesia hidup semakin berat, segala SUBSIDI DICABUT, pajak dikejar-kejar ketat, harga-harga mulai meningkat, sekolahan mahal dan belum jelas arahnya, dan segala keluh kesah akibat hidupnya terasa berat dengan semua kebijakan itu, dan mereka mulai tidak yakin Jokowi mampu membawa Indonesia dengan lebih baik, namun benarkah semua itu tanpa alasan yang jelas? Memang hidup tidak semulus pahanya artis cantik, namun hidup tidak hanya memikirkan paha saja, sebab semua harus dipikirkan dan diurai satu persatu agar semua permasalahan bisa diatasi tanpa membuat masalah baru. Semua memang terasa berat, namun bila berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, akhirnya kita bisa sampai tujuan ke arah yang kita harapkan.

Ingat Indonesia itu NEGARA BESAR dengan 200 juta lebih penduduknya, bila kapal besar ini tidak dinahkodai oleh Kapten yang cakap, mustahil kapal besar ini bisa sampai dermaga bahagia. Tantangan jelas ada, ombak kecil dan ombak besar pasti menerpanya, MUSTAHIL kapal ini bisa berjalan mulus di tengah gelombang dunia yang berpacu begitu cepatnya ini. Siapa saja kaptennya, pasti akan melewati OMBAK tersebut, dan kapten yang berdedikasi tinggi, jujur, serta taat kontitusi lah yang mampu menjalankan Indonesia sampai mendapatkan PRESTASI DUNIA.

Banyak teman dari berbagai belahan dunia lain lagi murung melihat negerinya muram, apalagi negaranya lagi sedang ada konflik bertambah suram dah nasibnya. Ada yang bilang Singapura lesu, Malaysia kelu, Brunei mulai bangkrut, Hongkong sepi, katanya, biasanya BAR buka sampai pagi penuh orang joget dan gelak tawa, kini tutup sebelum tengah malam, pengunjung sepi. Kabar lainnya jalan-jalan di Jepang mulai berkurang dari lalu lalangnya kendaraan pribadi, demikian juga di New York, Chicago, LA, Frankfurt, Paris, Milan, dan kota megapolitan negara besar lainnya. Jam sebelas malam sudah pada ngandang ke rumah, malas keluar lagi, sibuk dengan perangkat gadgetnya.

Walau demikian hidup tetap jalan dan kian sibuk, walau ada perubahan gaya hidupnya. Namun MAL tetap ramai dikunjungi orang terutama fordcourtnya. Transportasi umum justru laris manis akibat banyak yang enggan menggunakan mobil pribadinya. Demikian pula dengan internet, justru penggunanya bertambah pesat, jam pemakaiannya kian lama.

Inikah akibat ketidakpastian masa depan negaranya?
Hingga banyak manusia dilanda kecemasan, dan mereka berharap pada pemimpinnya yang bisa membawa negerinya ke dalam masa depan yang lebih cerah dari hari ini.

Saya kutipkan dari sebuah artikel yang dikirim teman via WA yang mengambil dari berbagai sumber media, menuliskannya begini :

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam laporan bertajuk Government at a Glance 2017 yang dipublikasikan pada 13 Juli lalu menyatakan bahwa Indonesia menduduki ranking pertama dalam hal Trust and Confidence in National Government berdasarkan Gallup data.

Laporan tersebut merangkum berbagai indikator pencapaian pemerintah di sektor publik dari anggota OECD serta beberapa negara lain, termasuk Indonesia. 

Salah satu babnya mengangkat tema: tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

OECD sendiri menggunakan hasil survei yang dilakukan oleh Gallup World Poll (GWP), lembaga survei internasional berbasis di Amerika Serikat. Survei ini mengukur tingkat kepercayaan terhadap pemerintah anggota OECD dan negara-negara besar lain, menjadi satu-satunya yang mengumpulkan data mengenai tingkat kepercayaan kepada pemerintah.

Kata Gallup, Indonesia, Swiss, India, Luksemburg, Norwegia dan Kanada menduduki peringkat atas. 

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia tahun 2016 adalah sebesar 80 persen, meningkat dibanding tahun 2007 yang hanya mencapai 28 persen.

Indonesia berada di tempat tertinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju anggota OECD, seperti Amerika Serikat (30 persen), Inggris (31 persen), Jerman (55 persen), Prancis (28 persen), juga jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang non OECD seperti India (73 persen), Brazil (26 persen), Afrika Selatan (48 persen).

"Tingkat kepercayaan terhadap pemerintah dipengaruhi oleh pengukuran tentang apakah masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat tanggap dan adil, serta mampu melindungi masyarakat dari risiko-risiko, dan kemampuannya dalam memberikan pelayanan publik secara efektif," kata Sri Mulyani ketika menjelaskan laporan tersebut kepada pers.

Di Indonesia upah buruh tak lagi rendah. Itu yang bikin beberapa pengusaha memindahkan pabrik ke kawasan lain, contohnya di Batam, katanya sampai pekan kemarin sudah tercatat 100 ribu keluarga meninggalkan Batam karena pabrik-pabrik elektronik minggat ke Vietnam.

Tapi mereka melupakan satu hal: keajegan. Indonesia sedang mengalaminya. Itu faktor utama bagi para pemilik uang dalam memutuskan ke tempat mana dana dialirkan.

Gelombang dana dalam jumlah yang setara dengan banjir bah sedang bersiap memasuki Indonesia. Para pemilik travel agen di Singapura tercekat melihat angka jumlah penumpang dari negera tersebut ke Indonesia naik gila-gilaan. 

Harga tiket penerbangan murah dari Jakarta ke Singapura cuma berada di kisaran Rp. 450.000 hingga Rp. 700.000. Sebaliknya, harga tiket dari Singapura ke Jakarta berada di kisaran Rp. 1.100.000 hingga Rp. 1.800.000.

Kepercayaan rakyat membuat Jokowi berani menerbitkan perppu pembubaran ormas radikal. 

Terlepas dari apakah perppu itu perlu atau tidak, banyak yang tercengang oleh angka-angka yang mendasari keberanian Jokowi.

Itu pula yang bikin Jokowi berani berutang. 

Kepercayaan rakyat dia bayar tunai dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran di berbagai propinsi. 

Sebab penurunan kurva manapun akan mengalami titik balik: kembali naik. Di tengah perubahan brutal oleh kehadiran disruptive economy, ketersediaan infrastruktur is a must and the only thing that should be ready when the curve goes up.

Jokowi memastikan utang pemerintah tidak dikorupsi.

Konon, Setya Novanto mencoba menelpon hingga 15 kali menjelang penetapan KPK atas status tersangka ketua DPR tersebut, Jokowi tak bereaksi. 

Dia memberikan sinyal kuat kepada masyarakat bahwa arah yang sedang ditempuhnya tak bisa dikompromikan oleh kekuatan manapun dan untuk tujuan apapun.

Kita belum tahu kapan bangunan kurva tersebut bergerak naik. Sebagian memperkirakan tahun 2019. ada yang menghitung bahwa pembalikan akan terjadi secara tegas di tahun 2020. Entah manapun yang benar, satu hal sudah dipastikan: Indonesia siap menjalaninya, bahkan berada di baris depan dalam memanfaatkan, menunggangi, dan mengendalikan arus balik tersebut.

Dari berbagai rentetan kinerja Presiden Jokowi, yang dikawal konstitusi, yang dibayangi nyinyiran hatersnya, TERBUKTI Indonesia tidak semuram bangsa lain. Walau gejolak politik mengganggunya, namun dapat diatasi dengan manis tanpa berdarah-darah. 

Hatersnya terus nyinyirin segala gerak-gerik Jokowi, namun beliau tetap kerja keras dan meneruskan amanah rakyat untuk membuat rakyat Indonesia TETAP OPTIMIS dalam menghadapi masa depannya kelak.

Walau Indonesia sudah menduduki PERINGKAT PERTAMA atas pencapaian program kerjanya versi OECD, namun tentu tidak semuanya mulus, kendala selalu saja ada, masalah tetap saja ada, dan itulah bagian dinamika sebuah program yang sedang dijalankan. Namun bila rakyat tetap teguh mendukung penuh, semua kendala itu bisa diatasi dengan solusi yang menyegarkan semua pihak.

Teruslah mendukung kinerja Presiden Jokowi, baik yang pro maupun yang kontra. Yang pro jelas percaya penuh, yang kontra tentu sibuk mencari celah buat memfitnah, namun itu bisa menjadi berkah. Buktinya semakin nyinyir para haters memperhatikan kerja Presiden Jokowi, semakin menambah semangat beliau untuk membuktikan hasilnya.

Dan Indonesia ditangani Jokowi tak semuram negara lain yang lagi suram. Indonesia akan semakin cepat melesat bila semua rakyat bersatu padu mendukung dengan kebersamaan bukan dengan pertikaian.

Salam MERDEKA!

Thursday, July 20, 2017 - 21:45
Kategori Rubrik: