Ditampar

ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Baru pejabat sementara saja sudah berlagu. Anaknya juga tidak tahu diri. Harusnya ketika kasus nepotisme kelas recehan itu muncul, pejabat koplak itu langsung bebenah. Menarik anaknya dan tetap membolehkan Koko menjadi anggota Paskibra.

Tapi pejabat ini tidak tahu malu. Dia jalan terus meski mengaku anaknya tidak mengikuti semua proses menjadi Paskibra. Semua pejabat di daerahnya ramai-ramai menutupi kasus ini dengan segala cara.

Bahkan mereka dengan kejam mem videokan pengakuan Koko. Dalam keadaan tertekan, Koko dengan terbata-bata mengaku rela diganti oleh Doni, anak pejabat Bupati.

Tetapi publik dan pemerintah pusat melihat itu semua sandiwara. Akibatnya, seluruh pejabat Labuan Baru yang terkait dengan masalah ini, gagal membendung desakan agar Koko dikembalikan sebagai Paskibra.

Berkah demi berkah datang untuk Koko.

Bahkan polisi setempat meminta Koko menjadi Paskibra dan diberi bea siswa.

Pemerintah pusat menampar mereka yang bertipu muslihat dengan mengundang Koko ke Jakarta. Menjadi bagian Paskibra di Kemenpora. Pergi ke istana dan bersalaman dengan Presiden. Ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi juga tahu kebusukan pejabat Bupati Labuan Batu dan jajarannya dalam memperlakukan Koko.

Kasus nepotisme recehan ini nampaknya tidak berhenti di sekitar Paskibra dan 17 Agustusan.

Perilaku pejabat Bupati itu kian jadi sorotan ke depan. Mengingat Bupati Labuan Batu diringkus KPK karena korupsi proyek-proyek di daerahnya sendiri.

Sebab, masyarakat Labuan Batu tentunya bertanya jika soal anak saja bisa nepotisme, bukannya tidak mungkin soal-soal lain bisa lebih dari itu.. 

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Monday, August 19, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: