Diskusi dengan Anggota HTI

Ilustrasi

Oleh : Nurul Anwar Goparana

HTI : Target kami adalah negara islam dengan hukum syariah. Sebab kalu gak "berhukum pada hukum allah" kita jadi kafir.

Saya : oh ya ... emang ada dalilnya ?

HTI : Tentu saja ada , wa man lam yahkum bi maa anzalallahi fa ulaaika humul-kaafiruun.

Saya : Anda siapa ?

HTI : Saya muslim. Kenapa bertanya hal yang gak penting ?

Saya : Anda salah memahami pertanyaan saya. Maksud saya, anda itu polisi, jaksa, pengacara atau hakim ?

HTI : Apa maksudnya dengan pertanyaan itu ?

Saya : Karena ayat itu ditujukan pada "para pengambil keputusan", bukan pada setiap orang. Kalau anda bukan salah satu dari mereka, bahkan bukan orang yang sedang berperkara, ayat itu tidak akan ada gunanya buat anda.

HTI : Kenapa bisa begitu ?

Saya : Karena kepada mereka-mereka lah ayat itu ditujukan, dialamatkan. Yang pertama harus anda ketahui adalah "apa yang disebut hukum allah itu ?".

HTI : Hukum allah tentu saja syari'ah.

Saya : Bukan, syariah itu bukan hukum allah. Syariah itu cuma kumpulan pemahaman alias fiqh-nya kaum fuqaha. 
Hukum allah itu cuma satu yaitu keadilan. Siapa yang tidak menghukumi manusia dengan adil, maka dia itu "musuh allah". Wa idzaa hakamtum baynan-naasi an tahkumuu bil-'adl. Ayat inilah yang seharusnya anda jadikan pegangan kalu mau berhukum dengan "hukum allah", bukan yang lain.

HTI : Syariah itu sebuah keadilan, maka menghukumi manusia dengan syariah adalah adil.

Saya : Hukum tidak serta merta disebut adil kecuali keadaan memang memaksa si hakim mengambil keputusan seperti itu.

HTI : Saya gak paham maksud anda.

Saya : Baiklah, akan saya kasih contoh. Bukankah dalam syariah islam pencuri harus dipotong tangannya ?

HTI : Iya.

Saya : Adilkah itu menurut anda ?

HTI : Tentu saja itu adil.

Saya : Menurut saya itu tidak adil terutama untuk masyarakat.

HTI : Kenapa tidak adil ?

Saya : Karena setelah dipotong tangannya, si pencuri jadi tidak bisa bekerja. Padahal dia punya anak dan istri. Meskipun hidup sendiri,tetap saja dia harus bekerja untuk kehidupannya. Ahirnya dia harus mengemis dan hidupnya jadi tanggungan masyarakat.

Bayangkan kalau dia mencuri duit 1/4 dinar pada usia 17 tahun dan dipotong tangannya lalu dia hidup sampai 90 tahun. Berapa lama masyarakat harus menanggung kehidupannya ?

Bukankah lebih sederhana kalau dia dipenjara dan selama dipenjara dia harus bekerja. Hasil kerjanya dibagi dua, sebagian untuk dirinya dan sebagian lagi untuk membayar uang yang telah dia curi. Setelah keluar dari penjara, dia punya keterampilan dari pengalaman kerjanya, punya uang juga dan orang yang uangnya dicuri pun puas karena uangnya telah kembali. 
Masyarakat pun tidak perlu menanggung beban yang jelas-jelas bukan beban mereka.

Di lingkungan masyarakat urban yang masih berkembang di mana banyak terjadi kekacauan dan kejahatan, hukum potong tangan mungkin bisa diterapkan sebagai "sebuah peringatan". Tapi di lingkuang yang sudah tertata dengan baik, penegak hukumnya lengkap dari polisi sampe penjara, hukuman potong tangan malah merugikan. 
Apalagi di Indonesia yang orang2nya bermental pengemis. Jangankan buntung tangannya, dengkul lecet saja langsung jadi pengemis.

Dengan satu contoh ini anda paham maksud saya ?

HTI : Saya gak paham.

Saya : Itu menandakan anda tidak memahami tujuan hukum. Orang yang tidak memahami tujuan hukum sebaiknya jangan berbicara apalagi mengiklankan hukum-hukum tertentu. Lagipula alamiahnya manusia itu benci aturan kecuali aturan yang menguntungkan mereka. Kampanye anda soal hukum syariah itu sangat tidak alamiah.

Sumber : Status Facebook Nurul Anwar Goparana

Friday, February 16, 2018 - 20:15
Kategori Rubrik: