Diskriminasi Musiman

Oleh: A Bhumi

Tidak satupun dari kita yang terlahir sebagai bigot. Tidak ada yg terlahir membenci perbedaan yang tidak sesuai dengan nilai2 yang kita anut. Murray dari APA (American Psychological Association) mengatakan bahwa kita belajar untuk membenci, belajar untuk menilai, dan belajar untuk takut dalam perjalanan kita menuju kedewasaan.

Salah satu faktor yg menentukan kebencian dan prasangka, adalah status sosial dan ekonomi. Banyak org yg menilai org lain berdasarkan di mana mereka tinggal, berapa penghasilan mereka, mobil apa yang mereka kendarai, dan seterusnya. Maka tidak terlalu mengherankan bila sebagian dari kita membenci etnis tertentu karena adanya persepsi bahwa suatu etnis secara general lebih sukses, lebih cerdas, dan lebih berada dari yang lain. Ditambah lagi, kita sering tidak mengerti apa yang membuat etnis tersebut jadi seperti itu,.. dari situlah timbulnya prasangka.. mereka licik, mereka pasti curang, bila tidak hal ini tak mungkin terjadi.

Prasangka ini di perparah dengan bias musiman yang biasanya terjadi dan berpuncak menjelang pemilihan umum. Jangan pilih perempuan, jangan pilih non muslim, dan Cina pasti curang. Khususnya bias dan diskriminasi terhadap etnis Cina. Bias ini terpelihara selama 32 tahun kekuasaan Soeharto di Indonesia dan baru berakhir di masa kepemimpinan Gus Dur. Bias yg dapat dengan mudah di pergunakan sebagai senjata untuk mendelegitimasi kepemimpinan se2orang yang kebetulan adalah triple minority di Jakarta. Senjata yang cacat secara mendasar dan bergantung pada bigotry masyarakat untuk bisa sukses.

Udah Cina, Kristen, bukan orang Jakarta lagi... 

Faktor lainnya adalah kurangnya perbedaan di lingkungan se2orang. Ketika kita tidak pernah melihat suku Khoikhoi dari Afrika yg berbahasa Khoisan (click language), bukan tidak mungkin timbul prasangka saat tiba2 seorang etnis Khoikhoi tinggal di sekitar kita, sebagai tetangga kita. Dan mungkin sekali kita butuh waktu untuk mengatasi prasangka dan rasa takut yang muncul akibat ketidaktahuan kita.

Kebencian ini mungkin adalah salah satu unsur dasar manusia. Galdston R pada journalnya "The longest pleasure: a psychoanalytic study of hatred." menuliskan bahwa kebencian adalah salah satu unsur indikatif dari perkembangan ego manusia. Manusia dapat di pilah berdasarkan tiga kategori. Mereka yang tidak bisa membenci, mereka yang tidak bisa berhenti membenci, dan mereka yang mampu membenci dan move on setelahnya.

Mereka yang tidak bisa berhenti membenci dapat di bagi menjadi 2 subkategori, mereka yang memeluk kebencian dan mencari kambing hitam berdasarkan kebenciannya, dan mereka yang diam2 membenci. Ketidak mampuan untuk mengatasi rasa benci se2orang adalah salah satu ciri kekurangan mental, walaupun tidak di definisikan sebagai penyakit pada DSM-IV (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).

Lalu, apakah kebencian yg berlebihan terhadap suatu hal tidak dapat di atasi? Mengingat kebencian adalah sesuatu yg kita pelajari, bukan sesuatu yg kita dapatkan semenjak lahir, maka bukan tidak mungkin "cinta" dan "toleransi" juga dapat di ajarkan. Tapi ketimbang memperbaiki apa yang rusak, bukankah jauh lebih baik mencegah sebelum kerusakan itu terjadi? 

Louise Derman-Sparks, seorang specialist dalam bidang perkembangan anak, berpendapat setidaknya ada 3 hal penting yg harus d ingat orang tua ketika berbicara pada anak tentang prasangka dan diskriminasi

-----===** 3 Point Louise **===-----

#1 ANAK TIDAK BUTA WARNA. Dari kecil seorang anak bisa melihat perbedaan warna kulit, perbedaan ciri2 fisik, perbedaan ras. Bila mereka bertanya, mereka membutuhkan penjelasan yang simple, lugas, dan jujur mengapa kita berbeda. Sangat penting bagi org tua untuk dapat menjawabnya

#2 MEMBICARAKAN PERBEDAAN TIDAK MENAMBAHKAN PRASANGKA PADA ANAK. Menyadari perbedaan tidak sama dengan menghindari, menyepelekan, atau menakuti perbedaan tertentu. Lebih lagi, kesadaran akan perbedaan tidak mengajarkan pada anak tentang prasangka negatif terhadap perbedaan itu sendiri.

Anak belajar memahami bias dari org dewasa yg penting dalam hidupnya, dari media, dari buku atau dari teman2nya. Orang tua bertanggung jawab membari informasi yg akurat dan mendorong anak untuk menghargai perbedaan, dan sebaliknya dengan prasangka.

Agak mengejutkan, tidak sedikit org tua yg kesulitan membuka pembicaraan ini. Bagi mereka yang kesulitan, ada baiknya berlatih berbicara tentang topik ini dengan org dewasa sebelum dengan anak. Yang pasti, kata2 bijak orang tua harus di iringi prilaku yang sepadan. Memberi informasi yang kontradiktif pada anak hanya akan menambah prasangka dan kebenciannya, di samping menurunkan kredibilitas kata2 orang tua d mata anaknya

#3 TIDAK CUKUP HANYA DENGAN MEMBICARAKAN PERSAMAAN. Kita mungkin menginginkan anak untuk mengerti apa yang menyatukan kita sebagai manusia, tapi tidak kalah pentingnya mereka menyadari bahwa persamaan karakteristik, bahasa, dan adat dapat di ekspresikan dengan cara yang berbeda.

Bila kita hanya mengatakan "Lihat, mereka seperti kita juga kan?", tidak salah bila anak mempersepsikan "persamaan" adalah satu2 hal yg menyatukan kita.

-----===** Kesimpulan **===-----

Ini artinya bila anda bila anda punya kebencian berlebihan terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu,.. salahkan org tua anda. Ada yg salah dari cara anda dibesarkan.. kiki emotikon

Sumber:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3667085

http://www.scientificamerican.com/article/the-origin-of-hatred/

http://ireport.cnn.com/docs/DOC-770424

http://www.scientificamerican.com/article/the-origin-of-hatred/

http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371%2Fjournal.pone.0003556

https://www.mentalhelp.net/blogs/is-hating-someone-because-they-are-different-a-mental-illness/

(Sumber: Facebook A Bhumi)

Monday, May 23, 2016 - 16:30
Kategori Rubrik: