Disintegrasi Bangsa adalah Lawan Berat Jokowi

Oleh : Muhammad Jawy

Lawan terberat Jokowi kali ini bukan lagi Prabowo, karena memang 2019 berbeda dengan 2014, Jokowi sudah jauh lebih berpengalaman mengelola negara dan berbagai issue. Lawan terberat Jokowi adalah potensi disintegrasi bangsa yang diakselerasi oleh penyalahgunaan media sosial untuk penyebaran hasut dan hoaks. Ini sepertinya yang tidak dipahami oleh mereka yang masih tidak menerima KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres, lebih parah lagi, mulai mencari-cari kesalahan beliau, misalnya punya istri muda (padahal beliau menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal).

Beberapa gerakan yang anti NKRI menyaru sebagai oposisi dalam demokrasi, padahal aslinya mereka anti demokrasi, sudah terlalu mengakar di negeri ini, termasuk yang sudah mengarah ke gerakan terorisme. Tidak mudah untuk melawan kerusakan pemikiran yang terlanjur mereka sebar luaskan, tanpa dibantu serius oleh profil tokoh yang memiliki kredibilitas di kalangan kaum Islamis.

Belum lagi kelompok yang mulai menggunakan issue agama, tanpa mereka memiliki keterampilan yang cukup untuk mengelola permasalahan pemerintah, mereka jagoan menguasai mimbar tempat ibadah, namun yang disebarnya adalah racun bagi pikiran masyarakat dengan berbagai hoaks, hasut dan fitnah.

Pilihan ke KH MA bukan sekadar hitungan politik bahwa beliau tidak akan diproyeksikan berebut kursi presiden 2024, tapi juga beliau bisa serius menjadi pisau tajam untuk membedah berbagai penyakit seperti issue anti NKRI dan issue penyalahgunaan jejaring keagamaan dan tempat ibadah oleh para penghasut. Issue SARA, issue komunis, akan bisa ditepis dengan mudah, sehingga ketika dilakukan upaya pembersihan para anasir ini, tidak langsung dibalas dengan strategi "Kill The Messenger".

Untuk percepatan visi "Menuju Indonesia Maju", menteri jauh lebih berperan, dan saya yakin menteri berprestasi dari kabinet sekarang akan dipakai lagi. Saya hanya berharap, bahwa Jokowi tidak mengulangi kesalahan SBY pada periode keduanya, yaitu terlalu mengakomodir partai koalisi dengan jumlah kursi menteri politik yang sangat fantastis.

Praktis Pilpres 2019 sudah nyaris bisa ditebak hasilnya, terlihat dari raut muka Prabowo yang tidak terlalu bersemangat. Bahkan "ijtima ulama" pun diabaikan karena memang tidak realistis dari sisi logistik yang dibutuhkan. Masuknya Sandiaga sebenarnya tidak terlalu mengagetkan karena memang sangat sulit bagi Prabowo untuk mendapatkan pendamping yang sekaligus bisa menyediakan logistik memadai. Pilihan money is king, masih menghantui Prabowo, yang akan semakin menyurutkan legitimasinya dalam pertaruhannya (yang terakhir?) di panggung perebutan singgasana RI-1.

Jadi bukan lagi Prabowo yang ada dalam alam pikiran Jokowi, tetapi bagaimana kontestasi esok ini tidak membuat polarisasi semakin tajam yang dimanfaatkan oleh anasir anti NKRI untuk memperkuat pengaruhnya, dan juga sesungguhnya untuk menjalankan amanat pendiri bangsa yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Jangan ngaku Bhinneka, tapi masih enggan untuk duduk bersama dengan orang yang berbeda pandangan, berbeda etnis, berbeda agama, berbeda madzhab.

-Zek-

 

Sumber : facebook Muhammad Jawy

Friday, August 10, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: