Disertasi Yang Menghalalkan Zina

ilustrasi

Oleh : Ade Winata

Beberapa hari ini beredar soal isu tentang disertasi kandidat doktor di salah satu kampus UIN tentang halal nya zina non marital.

Pada dasarnya saya sepakat sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz Ahmad Sarwat bahwa kita harus membaca disertasinya dulu, melihat dasar2 teori dan seluruh argumen nya, yang menyebabkan sampai pada kesimpulan tersebut.

Baru setelah itu kita bisa membahas nya..

Yang beredar dimedsos malah soal perdebatan-perdebatan dan tuduhan-tuduhan yang gak jelas juga, apa yang diomongin, apa yang diributin. Bahkan sampai ada yang motong2 video disalah satu stasiun TV yang intinya untuk penggiringan opini.

Padahal sekontroversial apapun disertasi tersebut, namanya disertasi pasti memiliki potensi dialektika yang akan membuat kita melihat dari sudut pandang yang berbeda tanpa harus setuju dengan kesimpulan si penulis dan memperkaya khazanah dan tools kita untuk melihat persoalan di masyarakat dan mensolved nya.

Karena mulai ngaco nya diskusi di medsos, ya mau gak mau saya research, apa sih masalah nya, dan gimana sih ceritanya soal disertasi ini..

Halalkah Hubungan Seksual diluar lembaga pernikahan ?

Sipenulis disertasi, memiliki kegelisahan soal merebak nya semangat kriminalisasi hubungan seksual diluar pernikahan.

Karena ia melihat bagiamana, ada nya praktek rajam di aceh dan juga saat kerusuhan ambon, ada anggota laskar jihad yang dinilai zina dan ia dirajam.

Saya rasa kekhawatiran ini nyata dan memang valid untuk dibahas dan diberikan lawan secara teori. Karena proses kriminalisan melalui syariatisasi hukum positif itu memang terjadi.

Baru-baru ini dikeluarkan draft KUHP soal ginian, bahwa zina diluar nikah akan bisa dipidana. Sebelumnya hanya mereka yang selingkuh, punya istri/suami yang bisa dipidana berdasar aduan pasangan nya.

Lalu apakah hal ini masalah, ya tentu.

Negara yang terlalu dalam ngurusi urusan privat rakyat nya pasti kedodoran di urusan public untuk masyarakat.
Dalam hukum islam sendiri pun, KUHAP yang berlaku, untuk mereka yang berzina bila tanpa pasangan dicambuk 100kali bila punya pasangan dirajam, ini ditegakkan dengan sebuah hukum acara bahwa harus ada 4 orang yang melihat langsung proses perzinahan tersebut, bagaikan timba masuk ke sumur.

Bila itu gak terpenuhi, itu jadi bukan urusan negara, itu urusan dia ama Tuhannya aja, bahkan bila ada yang menuduh seseorang zina tanpa membawa 4 orang saksi sebagaimana diatas, maka dia terkena tuduhan balik menuduh zina.. Dan ini kena cambuk juga.

Jadi soal kriminalisasi hubungan diluar nikah, saya satu pendapat dengan penulis disertasi, bukan hanya itu melanggar HAM namun itu juga melanggar nilai-nilai islam itu sendiri.

Namun bukan berarti zina itu menjadi halal, hanya saja gak perlu lah negara ngurusi itu, urusan yang lain banyak..

Sebagaimana perkataan Rasulullah pada maiz “Celaka kamu, kembalilah, beristighfarlah dan bertaubat kepada Allah!” gak perlu harus sampai ke diurus negara sesuatu yang bisa selesai melalui tobat nasuha dikesendirian antara hamba dan Tuhannya saja.

Zina tetap haram namun tidak untuk kriminalisasi nya melalui hukum positif.

Tuesday, September 3, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: