Dipermalukan Ahok

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Banjir di DKI adalah utk ke sekian kali sejak ditinggal Ahok, menurut keterangan menteri PUPR Basuki, sudah dua tahun normalisasi kali terhenti, yg jalan cuma naturalisasi, kalinya jadi laut.

APBD DKI +/- 76 triliun, dgn tenaga ahli yg berjumlah 70an orang, Jakarta makin hancur lebur. Pembangunannya entah apa, tapi kok KPK gak pernah kesana. Kita gak boleh suuzhon, hanya terasa seperti lelucon. Yg pernah terdengar adalah uang study banding DPDR DKI, pada zamannya Ahok hanya 8m, melejit menjadi 108m, dari satu unsur saja sdh kelihatan, bagaimana para perakus uang ini dgn kelicikannya menggarong uang rakyat. 

 

Ngelola uang 70an teriliun saja seperti penyamun, dengar-dengar dari mulut belut gubernur DKI akan melakukan pinjaman 571t, alamak mampus kita dibuatnya. Didepan mata banjir langganan itu ada, dia malah menghentikan normalisasi sungai, apa ini gak bajingan namanya. 571T..lalala

Saya kebayang, jenis kadal gurun seperti ini kalau menular seluruh Indonesia melalui jenis yg sama, apa gak malah negara kita yg ludes semua. Jangan sampai dihapus dari ingatan kita, bagaimana proses pilkada yg memakai agama bak singa memakan anak domba. Buas tak terbatas, ngeri kita melihatnya, agama rahmatanlilalamin menjelma seketika bak srigala lapar, memamah semua yg ada didepannya, bahkan saudaranya dibuat nyaris semua cedera, ini yg disebut malapetaka. 

Agama menjadi monster khususnya bagi pemeluk agama lain, yg dianggap sesat, padahal mereka yg bejad. 

Membahas manusia yg sudah dijauhkan dari moral, kita serasa bicara dgn air comberan ditengah jalan, kita yg sadar hrs lah menjadikan pengalaman itu sbg pil pahit yg harusnya menyembuhkan kesadaran bahwa kita pernah salah jalan, memilih manusia seiman, ternyata kita salah jalan.

Kebaikan pastilah dihasilkan dari baiknya iman, tapi bukan ada jaminan yg seiman bisa disamakan dgn orang beriman, karena yg berpura-pura beriman pasti kawannya setan. Agama kita boleh sama, tapi cara kita beragama beda, kami tdk pakai ulama yg asal bicara, yg tujuannya cuma hura-hura menikmati dunia. Jualan surga, diminta duluan malah cari gandengan, semoga saja gandengannya segera mengiyakan ajakan, agar kita bisa melihat mereka pergi bersama.

Jakarta, sejak Batavia selalu membuat cerita, tapi sekali ini cerita sebuah malapetaka karena salah pilih pemimpin yg cuma berlandaskan agama yg tak bisa apa-apa. Semoga musibah ini cepat berlalu, dan hati warganya tak lama menanggung pilu.

Doa kita utk Jakarta dan warganya, semoga kedepan tdk lagi salah memilih, mana kuda mana keledai.

Saturday, April 27, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: