Dipaksa Belajar Ikhlas dan Tawakkal

ilustrasi

Oleh : Nana Padmosusastro

Serius....
Beberapa hari terakhir, aku selalu terkekeh sendiri, setiap kali menyadari :

Belasan juta orang Jakarta (yang dinyatakan sebagai episentrum corona) dan kota-kota besar lainnya, benar-benar terpaksa mengurung diri.
Terpaksa sulit mendapat order atau mencari nafkah (akupun demikian).
Terpaksa terus-terusan masak dan membereskan rumah yang selalu berantakan karena semua penghuninya nggak keluar-keluar.
Terpaksa menahan emosi karena ngadepin pasangan hidup yang sama-sama stress dan frustrasi.
Terpaksa hidup berhemat.
Terpaksa membongkar tabungan......

Melihat manusia yang biasanya digdaya, kali ini meringkuk di rumah, takut pada virus yang tak terlihat, tapi bisa mengancam nyawa.... membuatku benar-benar paham, apa artinya ikhlas dan tawakal.

Baru kali ini, aku TERPAKSA menjalani semuanya dengan IKHLAS dan TAWAKAL karena nggak punya cara lain. Ngeluh? Tak membantu. Mbacot? Malah membuat keadaan jadi bising.

Itu makanya aku kagum dan bahagia melihat banyak orang masih bisa berdonasi. Membantu mencarikan masker atau alat kesehatan bagi orang lain...

Semua dijalani dengan ikhlas dan tawakal.

Oh my God. Ini adalah bulan pembelajaran spiritual yang resikonya hidup atau mati. Ironis, tapi entah kenapa, bikin aku ketawa, lalu membatin :

NYAHOK LU SEMUAAAA 

Sekarang kita tahu siapa diri kita kan..?
Penderitaan membuat jati diri terkuak : bagaimana sikap kita dan apa yang kita lakukan selama masa krisis, adalah cerminan diri kita :

Apakah kita panik?
Apakah kita tukang mengeluh?
Apakah kita tukang menyalah-nyalahkan orang?
Apakah kita masih ingat melakukan kebaikan di saat seperti ini?
Apakah kita tenang?

Mari melihat ke dalam. Agar lulus dari pembelajaran ikhlas dan tawakal.

Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro

 

Saturday, April 4, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: